TANJUNG SELOR, Headlinews.id – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah kerja Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor. Di Kalimantan Utara, beberapa kejadian tercatat di Kabupaten Bulungan, sementara Kabupaten Berau di Kalimantan Timur menghadapi kemunculan titik panas dalam jumlah lebih tinggi.
BWS Kalimantan V turut memperkuat penanganan Karhutla dengan menyiapkan personel dan kendaraan pendukung. Upaya tersebut dilakukan bersama BPBD, pemadam kebakaran, TNI-Polri dan masyarakat melalui koordinasi Satgas Kekeringan Kementerian Pekerjaan Umum.
“Di Kementerian PU ada Satgas Kekeringan untuk menghadapi kondisi akibat El Nino. BWS menjadi ketua di daerah, kemudian wakilnya dari balai yang menangani sarana dan prasarana. Kami bergabung dengan BPBD kabupaten, Damkar, TNI-Polri, termasuk masyarakat. Jadi ketika ada kejadian, penanganannya memang kami lakukan bersama,” ujar Kepala BWS Kalimantan V Tanjung Selor, Mustafa, S.ST., M.T.
Untuk wilayah Kaltara, Mustafa mengatakan kejadian Karhutla yang beberapa kali ditangani belakangan berada di Bulungan. Sejumlah lokasi yang disebut antara lain Desa Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning.
Kebakaran di wilayah tersebut banyak terjadi pada kawasan perkebunan sawit, termasuk lahan gambut. Kondisi lahan seperti ini membuat api perlu segera dikendalikan agar tidak menjalar ke hamparan yang lebih luas.
“Di Bulungan beberapa kali ada kejadian di Apung, Salimbatu, Mangkupadi dan Tanah Kuning. Kebanyakan memang di daerah kebun sawit, ada juga lahan gambut. Alhamdulillah dengan kolaborasi BWS, BPBD, Damkar, TNI-Polri dan masyarakat, titik-titik yang muncul bisa kami tangani dan dipadamkan,” katanya.
Menurut Mustafa, kecepatan menerima laporan menjadi salah satu faktor dalam penanganan Karhutla. Informasi mengenai titik api dapat berasal dari kepolisian, Babinsa maupun masyarakat, kemudian diteruskan kepada tim yang berada di lapangan.
“Informasinya bisa dari Polsek, Babinsa atau masyarakat. Begitu informasi masuk, teman-teman langsung turun. Kami bawa kendaraan bersama BPBD dan Damkar, kemudian langsung ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Jadi tidak menunggu sampai api semakin meluas,” ungkapnya.
Untuk mendukung penanganan di Kaltara, BWS bersama balai terkait menyiapkan empat unit mobil water tank. Armada tersebut dipersiapkan untuk membantu Bulungan dan wilayah lain yang membutuhkan dukungan suplai air.
“Kami siapkan empat unit mobil water tank untuk mendukung Bulungan, Tana Tidung dan Malinau. Kendaraan itu kami siagakan. Setelah kembali dari lokasi, langsung diisi lagi sehingga ketika ada laporan baru, bisa bergerak kembali,” jelas Mustafa.
Ia menjelaskan, keberadaan water tank dibutuhkan karena kendaraan BPBD dan Damkar tidak selalu dapat memenuhi kebutuhan air ketika proses pemadaman berlangsung cukup lama. BWS kemudian memberikan dukungan suplai air ke lokasi kebakaran.
Selain pemadaman, keselamatan permukiman menjadi prioritas ketika tim berada di lokasi. Api yang muncul di lahan terbuka diupayakan tidak bergerak menuju kawasan tempat tinggal warga.
“Pemukiman kami amankan lebih dulu. Ketika ada spot kebakaran, kami lihat arah penyebarannya dan bagaimana membatasi supaya tidak masuk ke pemukiman. Jalan bisa menjadi salah satu pembatas, tetapi tetap harus diantisipasi karena api bisa meluas,” tuturnya.
BWS juga memanfaatkan keberadaan kanal blok pada sejumlah kawasan lahan gambut di Bulungan. Kanal tersebut dibuat untuk membagi hamparan lahan sekaligus menjadi pembatas apabila terjadi kebakaran.
“Di beberapa lokasi Bulungan ada kanal blok. Lebarnya sekitar lima meter dan ada airnya. Itu dibuat untuk membatasi hamparan, sehingga ketika ada kebakaran, api tidak mudah melewati batas tersebut,” kata Mustafa.
Ia mengatakan luas area yang terbakar dalam sejumlah kejadian cukup beragam. Ada titik yang berada di kisaran dua hektare, empat hektare, hingga mencapai sekitar 10 hektare.
Kondisi tersebut membuat pemadaman terkadang berlangsung hingga malam. Tim harus tetap bekerja ketika api belum sepenuhnya dapat dikendalikan, terutama apabila kebakaran meluas sejak siang.
“Kalau apinya sudah meluas, teman-teman bisa bekerja sampai tengah malam. Ada yang dua hektare, empat hektare, bahkan ada yang sampai 10 hektare. Ketika mulai muncul dari pagi dan meluas, pemadamannya bisa sampai malam, bahkan harus menggunakan lampu untuk melanjutkan pekerjaan,” ujarnya.
Selain Kaltara, wilayah kerja BWS Kalimantan V mencakup Kabupaten Berau di Kalimantan Timur. Di daerah tersebut, kondisi Karhutla disebut lebih intens dengan jumlah titik panas yang berdasarkan informasi BMKG dapat mencapai ratusan.
“Untuk wilayah Kalimantan Timur, yang paling banyak titik hotspot itu di Berau. Pernah 200-an, 300-an, bahkan hampir 400 titik panas dalam satu periode. Di sana memang kondisinya cukup panas dan sudah lama tidak mendapatkan hujan,” ungkap Mustafa.
BWS menyiapkan tim tersendiri di Berau yang beranggotakan sekitar 15 personel. Mereka bekerja bersama unsur penanganan kebakaran daerah dan aparat ketika terdapat laporan titik api.
“Tim kita sekitar 15 orang. Saat ada kejadian mereka turun bersama TNI-Polri, BPBD, Damkar dan masyarakat. Kadang pekerjaannya sampai malam karena titik api harus benar-benar dikendalikan,” katanya.
Dukungan armada di Berau juga disiapkan. BWS mengoperasikan dua mobil water tank untuk menyuplai kebutuhan air bagi proses pemadaman.
“Kami operasikan dua mobil water tank. BPBD punya dua unit, Damkar juga punya dua unit, lalu kami mendukung airnya. Selang mereka bisa mencapai 300 sampai 500 meter, sehingga ketika air di kendaraan pemadam kurang, water tank kami langsung menyuplai,” jelasnya.
Menurut Mustafa, kondisi cuaca di Berau menjadi salah satu tantangan. Periode tanpa hujan yang cukup panjang membuat lahan lebih mudah terbakar dan titik panas lebih sering muncul.
Meski demikian, penanganan bersama sejauh ini dapat mengendalikan sejumlah kebakaran sehingga tidak berlangsung berhari-hari. Kecepatan respons menjadi salah satu alasan api dapat segera ditekan.
“Kerja teman-teman di lapangan memang berat. Ada yang mulai jam 10 pagi, tetapi karena apinya meluas, pemadaman baru selesai malam. Namun dengan koordinasi bersama, alhamdulillah bisa dipadamkan. Tidak seperti beberapa daerah lain yang sampai berhari-hari,” tuturnya.
Pemantauan titik panas dilakukan berdasarkan informasi BMKG yang kemudian disebarkan kepada tim lapangan. Informasi tersebut menjadi dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah yang terindikasi memiliki hotspot.
“BMKG memberikan informasi titik panas, lalu kami teruskan ke grup lapangan. Titik hotspot di wilayah tertentu langsung kami sampaikan agar diwaspadai. Jadi Polsek, Koramil dan masyarakat sudah terhubung. Begitu masyarakat menemukan api, laporan bisa cepat diteruskan,” katanya.
Pola koordinasi tersebut membuat kendaraan dan personel dapat dipersiapkan sebelum menuju lokasi. BWS juga terus melakukan pengisian kembali armada setelah digunakan agar tetap siap menghadapi kejadian berikutnya.
Mustafa menambahkan, penanganan Karhutla membutuhkan dukungan operasional yang tidak sedikit, terutama untuk bahan bakar kendaraan dan kebutuhan selama berada di lapangan. Perkembangan penanganan juga dilaporkan kepada Satgas Kementerian PU.
“Laporan kejadian kami sampaikan setiap hari kepada pimpinan di Satgas Kementerian PU. Operasionalnya memang tidak sedikit, terutama BBM dan kebutuhan kendaraan. Air bisa kami ambil dari sumber yang tersedia, termasuk berkoordinasi dengan PDAM. Jadi semua pihak saling mendukung di lapangan,” pungkasnya. (saf)









