TANJUNG SELOR , Headlinews.id – Produktivitas perkebunan kelapa sawit dan kakao di Kabupaten Bulungan masih menyisakan jarak cukup lebar dibanding potensi hasil yang bisa diperoleh dari lahan petani. Kondisi ini membuat peningkatan kemampuan budidaya ikut diperlukan agar produksi dari lahan yang sudah tersedia dapat terus digenjot.
Kepala Dinas Pertanian Bulungan, Kristiyanto, mengatakan persoalan produktivitas tidak selalu berkaitan dengan luas lahan. Teknik budidaya, pemilihan benih, pemeliharaan hingga pengelolaan tanaman ikut menentukan hasil akhir yang diterima petani.
“Lahan yang dimiliki petani sebenarnya punya kemampuan produksi lebih tinggi. Persoalannya bagaimana kemampuan itu bisa dicapai dengan pengelolaan yang tepat, mulai dari penanaman sampai pemeliharaan dan panen,” kata Kristiyanto.
Pada kelapa sawit, ia menyebut produksi minimal yang dapat dicapai berada di kisaran 20 ton per hektare per tahun. Dengan pengelolaan yang lebih optimal, produktivitas tersebut masih dapat ditingkatkan hingga sekitar 35 ton per hektare per tahun.
“Untuk sawit, produksi 20 ton per hektare dalam setahun masih bisa dikejar sebagai hasil minimal. Dengan budidaya yang baik, potensinya bisa mencapai sekitar 35 ton per hektare,” ujarnya.
Jarak antara hasil aktual dan potensi tersebut berpengaruh langsung terhadap pendapatan petani. Kristiyanto mencontohkan produksi 15 ton per hektare membuat sebagian kapasitas produksi lahan belum termanfaatkan.
“Ketika produksi hanya 15 ton per hektare, ada selisih hasil yang cukup besar dari kemampuan lahan tersebut. Selisih itu pada akhirnya juga berarti peluang pendapatan yang tidak diperoleh petani,” tegasnya.
Kondisi serupa terlihat pada komoditas kakao. Produktivitas ideal kakao di Bulungan diperkirakan dapat mencapai 800 kilogram hingga satu ton per hektare setiap tahun, sedangkan hasil yang diperoleh sebagian petani masih berada pada kisaran 300 sampai 400 kilogram per hektare.
Menurut Kristiyanto, selisih produksi tersebut perlu dijawab dengan peningkatan keterampilan petani, bukan semata penambahan luas perkebunan. Pengetahuan tentang pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman serta penanganan saat panen turut menentukan produktivitas.
“Produksi kakao masyarakat masih sekitar 300 sampai 400 kilogram per hektare, sementara kemampuan produksinya bisa mencapai 800 kilogram sampai satu ton. Selisih itu cukup besar dan ada kaitannya dengan pendapatan yang belum diterima petani,” jelasnya.
Upaya meningkatkan produktivitas juga dilakukan Pemkab Bulungan dengan menyalurkan bantuan benih kepada kelompok tani. Dalam sosialisasi budidaya tanaman perkebunan di Balai Desa Jelarai, Tanjung Selor, Senin (14/9/2026), Dinas Pertanian menyalurkan 4.830 polybag benih kelapa sawit usia empat bulan dan 11.000 polybag benih kakao siap tanam.
Wakil Bupati Bulungan, Kilat, mengatakan bantuan benih perlu disertai pemahaman budidaya agar tanaman yang dikembangkan petani dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan produksi sesuai potensinya.
“Benih yang diberikan harus diikuti kemampuan petani dalam mengelolanya. Pemilihan bibit, kesesuaian lahan, pemeliharaan, pemupukan sampai panen harus diperhatikan agar tanaman yang dikembangkan benar-benar menghasilkan,” ujar Kilat.
Ia juga meminta pengembangan sawit dan kakao tetap memperhatikan kondisi lahan serta keberlanjutan usaha perkebunan. Dengan pengelolaan yang tepat, peningkatan produksi dapat berjalan tanpa mengabaikan kualitas hasil dan kondisi lingkungan.
“Pengembangan perkebunan harus melihat kesesuaian lahan, teknologi budidaya dan kualitas hasil. Petani perlu mendapatkan pengetahuan yang cukup supaya peningkatan produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan,” pungkasnya. (rn)










