TARAKAN, Headlinews.id – Ketersediaan air baku di Tarakan mulai mengalami penurunan akibat berkurangnya curah hujan pada awal September. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor mencatat penurunan debit pada sejumlah sumber air hingga sekitar 15 persen.
Kondisi tersebut belum masuk kategori kekeringan ekstrem, sebab hujan masih turun di sejumlah wilayah Kaltara. Namun, pola cuaca beberapa hari terakhir mulai berdampak terhadap volume air di embung dan bendungan sehingga pengelolaan cadangan air perlu dilakukan secara lebih terukur.
Kepala BWS Kalimantan V Tanjung Selor, Mustafa, S.ST., M.T., mengatakan penurunan debit air terjadi secara berbeda pada masing-masing sumber. Embung Indulung masih relatif aman dengan penurunan sekitar lima persen, sementara Embung Rawasari mengalami penurunan lebih besar.
“Penurunannya memang sekitar 10 sampai 15 persen. Terkadang kembali lagi, kemudian menurun lagi. Sampai hari ini sekitar 15 persen maksimum penurunannya. Saat hujan turun, debitnya bisa naik lagi,” ujar Mustafa.
Menurutnya, kondisi Embung Rawasari saat ini perlu diperhitungkan karena menjadi salah satu sumber air bagi sejumlah wilayah pelayanan. Rawasari menyuplai kebutuhan air menuju kawasan Pasir Putih dan Kampung Bugis serta terhubung dengan sistem pelayanan di Persemaian.
Di kawasan Persemaian, terdapat beberapa sumber yang saling mendukung. Mustafa menyebut suplai dari Rawasari berada di kisaran 60 liter per detik, sedangkan sumber dari Bengawan sekitar 100 liter per detik. Sistem tersebut membuat ketersediaan air pada satu kawasan tidak hanya bergantung pada satu tampungan.
“Rawasari itu sekitar 60 liter per detik, kemudian dari Bengawan sekitar 100 liter per detik. Jadi di situ ada suplai sekitar 200 liter per detik. Embung Persemaian juga ada, termasuk long storage Persemaian,” jelasnya.
Sementara itu, Embung Indulung masih berada dalam kondisi lebih baik dibandingkan Rawasari. Sumber tersebut turut menopang kebutuhan sejumlah wilayah, termasuk Kampung 1 dan Kampung 6, serta terkoneksi dengan Bendungan Binalatung.
Mustafa menjelaskan Bendungan Binalatung masih menjadi salah satu sumber penting dalam sistem penyediaan air baku Tarakan. Dari kapasitas rencana sekitar 200 liter per detik, pemanfaatan saat ini berada di kisaran 120 liter per detik.
“Binalatung masih menyuport Tarakan. Kapasitas rencananya 200 liter per detik, tetapi yang dimanfaatkan sekarang sekitar 120 liter per detik,” katanya.
Selain embung dan bendungan, PDAM Tarakan juga memiliki long storage untuk menahan air dari aliran sungai sebelum dimanfaatkan. Sistem tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan cadangan air ketika debit sungai mulai menurun.
Mustafa menyebut karakter sungai di Tarakan turut menjadi faktor dalam pengelolaan air. Sebagian sungai memiliki aliran pendek sehingga volume air yang masuk ke sistem tampungan sangat bergantung pada hujan.
“Sungai di Tarakan pendek-pendek. Airnya ditampung dulu di embung. Semua ditangkap dan disimpan di sana, kemudian baru dialirkan ke IPA. Air diupayakan tidak terbuang percuma ke laut,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, pengelolaan air baku dilakukan menggunakan sistem yang saling terhubung. Sejumlah embung memiliki keterkaitan dengan IPA berbeda sehingga sumber air dapat saling mendukung ketika salah satu tampungan mengalami penurunan.
“Embung itu saling menyuport. Masing-masing ada IPA-nya. Rawasari menyuport IPA Kampung Bugis dan Persemaian, kemudian Indulung terhubung dengan Binalatung. Jadi sumber-sumber air itu saling mendukung,” tuturnya.
Pengurangan curah hujan mulai berdampak pada pola distribusi air kepada masyarakat. PDAM Tarakan telah melakukan penggiliran distribusi di sejumlah wilayah untuk mengantisipasi berkurangnya cadangan air.
Mustafa mengatakan penggiliran tersebut dilakukan berdasarkan perhitungan kebutuhan dan ketersediaan air untuk beberapa bulan ke depan. Polanya dapat dilakukan dengan mengalirkan air pada satu wilayah selama beberapa jam sebelum dialihkan ke wilayah lainnya.
“Informasinya dari PDAM, sampai Oktober perlu dilakukan penggiliran. Satu wilayah misalnya dialiri sekitar enam jam, kemudian dihentikan dan dialihkan ke wilayah lainnya. Itu untuk menjaga supaya air tidak habis dan masih bisa memenuhi kebutuhan beberapa bulan ke depan,” katanya.
Penggiliran tersebut mulai dirasakan setelah Tarakan mengalami beberapa hari tanpa hujan. Mustafa menyebut informasi terakhir yang diterimanya menunjukkan sudah sekitar lima hari kondisi hujan sangat minim, sehingga penurunan debit mulai terasa pada sejumlah sumber air.
Menurutnya, kondisi Tarakan masih lebih baik dibandingkan daerah lain yang mengalami periode tanpa hujan lebih panjang. Kaltara secara umum masih berada dalam kategori normal, meskipun masyarakat tetap perlu menghemat penggunaan air.
“Tarakan akan berada dalam kondisi berbahaya apabila tidak hujan selama dua minggu. Selama ini dalam seminggu masih ada hujan sehingga kondisi masih bisa dijaga. Sekarang sudah lima sampai enam hari tidak hujan, pengaruhnya langsung terasa dan debit air berkurang,” ujarnya.
Selain faktor cuaca, peningkatan aktivitas dan pertumbuhan pemukiman turut membuat kebutuhan air terus bertambah. Kawasan Juata dan Juata Laut disebut menjadi salah satu wilayah dengan perkembangan pemukiman dan aktivitas industri yang cukup tinggi.
Meski demikian, Mustafa menegaskan penurunan debit saat ini lebih berkaitan dengan berkurangnya curah hujan. Sistem tampungan dan jaringan suplai yang tersedia masih memungkinkan sumber air saling menopang sehingga kebutuhan masyarakat tetap dapat dilayani.
“Penurunan debit lebih dipengaruhi hujan yang jarang. Untuk sekarang masih bagus dan sumber-sumber air masih bisa saling menyuport,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan masyarakat mulai menyiapkan tandon sebagai cadangan untuk menghadapi pola distribusi air bergilir. Langkah tersebut membantu rumah tangga mempertahankan persediaan ketika aliran PDAM dihentikan sementara.
Menurut Mustafa, selama hujan masih turun secara berkala, kondisi air baku Tarakan masih dapat dikendalikan.
“Debit air bisa kembali naik saat hujan turun. Mudah-mudahan hujan tetap ada sehingga kebutuhan air masyarakat bisa terpenuhi dan tidak terjadi kekurangan yang lebih besar,” pungkasnya. (saf)










