BERAU, Headlinews.id – Asap masih terpantau di sejumlah wilayah Kabupaten Berau di tengah suhu udara yang mencapai 37,8 derajat Celsius. Di Bandara Kalimarau, jarak pandang berada pada kisaran 2 hingga 4,5 kilometer dan kondisi tersebut terpantau sejak pagi hingga malam.
Kepala Stasiun BMKG Berau, Ade Heryadi, didampingi Prakirawan Cuaca BMKG Berau, Ivan Rizki, mengatakan kondisi di sekitar Bandara Kalimarau masih dipengaruhi kabut, asap dan haze. Partikel-partikel halus yang melayang di udara membuat kondisi atmosfer terlihat kabur.
“Kalau dari hasil pengamatan kami di Kalimarau, asapnya masih ada. Jarak pandang berkisar 2 sampai 4,5 kilometer, kemudian ada kabut dan haze. Ini terpantau dari pagi dan sampai malam masih terlihat. Jadi kondisi udara memang masih perlu diperhatikan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar,” kata Ivan.
Suhu maksimum Berau tercatat mencapai 37,8 derajat Celsius. Angka tersebut bahkan sempat menjadi suhu tertinggi di Indonesia pada saat pengamatan.
Di sisi lain, angin terpantau bergerak dari timur laut hingga barat laut dengan kecepatan 0 sampai 11 kilometer per jam. Curah hujan juga masih rendah dan belum tersebar merata di seluruh wilayah Berau.
Ivan menjelaskan, kondisi panas dan minim hujan dipengaruhi dinamika atmosfer serta sisa pengaruh El Nino. Namun, kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai kemarau panjang maupun kekeringan ekstrem.
“Memang sekarang kita merasakan panas dan hujan juga belum merata, tetapi belum masuk kategori kekeringan ekstrem. Secara klimatologis Berau ini daerah yang basah. Kalau dibandingkan dengan kondisi 2019, sekarang masih belum separah itu. Jadi yang terjadi saat ini lebih kepada periode kering dengan distribusi hujan yang belum merata,” ujarnya.
Potensi hujan ringan masih ada, terutama di wilayah pegunungan. Hujan yang muncul masih bersifat lokal sehingga belum mampu memberikan perubahan signifikan terhadap kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Berau.
BMKG memperkirakan kondisi kering masih berpotensi berlangsung hingga akhir September 2026. Hujan dengan cakupan yang lebih merata diperkirakan baru berpeluang muncul setelah periode tersebut.
Sementara itu, rekayasa cuaca yang dilakukan pemerintah mulai memberikan dampak terhadap kondisi titik panas. Ivan menyebut jumlah hotspot menunjukkan penurunan setelah upaya tersebut dilakukan.
Namun, keberhasilan rekayasa cuaca tetap bergantung pada kondisi atmosfer, khususnya keberadaan awan yang dapat dikembangkan menjadi awan hujan. Ketika awan yang tersedia belum memadai, hujan yang dihasilkan juga belum bisa meluas.
“Rekayasa cuaca itu ibarat kita memberi pupuk. Tetapi pupuk tetap membutuhkan bibit. Bibitnya dalam hal ini adalah awan. Kalau awannya belum tersedia atau belum cukup untuk dikembangkan, hasil rekayasa cuaca juga belum bisa maksimal. Jadi bukan berarti ketika dilakukan rekayasa cuaca kemudian hujan pasti langsung turun,” jelas Ivan.
Kondisi asap yang masih bertahan juga berkaitan dengan aktivitas pembakaran hutan, lahan maupun sampah. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran terbuka selama kondisi cuaca masih panas dan hujan belum merata.
“Kalau bicara asap, kita juga harus melihat sumbernya. Tidak akan ada asap kalau tidak ada yang membakar. Jadi selama kondisi masih seperti ini, jangan menambah sumber asap dengan membakar lahan ataupun sampah,” tegasnya.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Warga juga diimbau memantau informasi cuaca sebelum melakukan kegiatan.
Untuk sampah rumah tangga, masyarakat diminta tidak membakarnya secara terbuka dan memilih cara pengelolaan lain, seperti mengubur atau mengolah sampah sesuai jenisnya.
Ivan mengatakan perkembangan cuaca dan kondisi titik panas masih akan terus dipantau. Informasi terbaru mengenai prakiraan cuaca, hotspot hingga peringatan gelombang dapat diperoleh masyarakat melalui kanal resmi BMKG Berau, termasuk media sosial.
“Silakan masyarakat terus mengikuti informasi yang kami sampaikan karena perkembangan cuaca dan titik panas masih kami pantau. Kalau ada perubahan kondisi, kami akan sampaikan melalui kanal resmi BMKG. Untuk sementara, hindari pembakaran dan gunakan masker kalau harus beraktivitas di luar saat asap masih terlihat,” pungkas Ivan. (*)









