TANJUNG REDEB, Headlinews.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Poros Kelay KM 9, Berau, cepat menjalar di tengah kondisi lahan yang kering. Ilalang dan semak yang mengering menjadi material mudah terbakar, sementara cuaca panas dan minim hujan turut menyulitkan pengendalian api.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas bersama Wakil Bupati Berau Gamalis dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) meninjau lokasi kebakaran. Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi lapangan serta memastikan penanganan oleh tim gabungan terus berjalan.
“Di lokasi ini ilalang dan semaknya sudah kering, sehingga api cepat menjalar. Cuaca juga panas dan hujan masih kurang. Kondisi seperti ini perlu kita waspadai,” kata Sri Juniarsih Mas.
Kepulan asap tebal terlihat di area yang terbakar. Tim gabungan dari pemadam kebakaran, TNI, Polri dan petugas terkait bergerak di kawasan terdampak untuk mengendalikan api agar tidak merambat ke area lain.
Petugas harus menyusuri kawasan yang dipenuhi ilalang dan semak kering. Kondisi vegetasi yang mudah terbakar membuat penanganan membutuhkan gerak cepat, sementara asap tebal turut membatasi jarak pandang di sekitar lokasi.
Sri Juniarsih mengatakan kondisi cuaca menjadi faktor yang perlu diantisipasi dalam menghadapi potensi karhutla. Wilayah dengan vegetasi kering memiliki risiko lebih tinggi ketika hujan jarang turun.
“Kalau cuaca panas dan hujan masih kurang seperti ini, lahan cepat kering. Karena itu, masyarakat harus lebih berhati-hati dengan aktivitas yang bisa memunculkan api,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi menjadi sumber api. Pencegahan dinilai penting karena kebakaran dapat berkembang cepat ketika kondisi lahan kering.
“Jangan melakukan pembakaran hutan atau lahan. Kondisi sekarang kering, sehingga api bisa cepat menyebar. Kita perlu mencegah dari awal supaya tidak muncul kebakaran baru,” kata Sri Juniarsih.
Pemkab Berau juga menilai penanganan karhutla tidak berhenti setelah api berhasil dikendalikan. Area yang masih dipenuhi material kering perlu dipantau untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Pemerintah daerah turut mengajak masyarakat menjaga kawasan yang rawan terbakar. Pengawasan terhadap aktivitas pembakaran dan sumber api diperlukan untuk menekan potensi munculnya karhutla baru.
Di tengah kondisi cuaca yang kering, Pemkab Berau juga menjadwalkan pelaksanaan salat Istisqa sebagai ikhtiar bersama memohon turunnya hujan. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan penanganan kebakaran dan pencegahan titik api baru.
“Kita juga berikhtiar agar hujan segera turun. Yang paling penting sekarang bagaimana kebakaran ini tidak bertambah dan masyarakat ikut menjaga wilayahnya,” pungkas Sri Juniarsih.
Sementara itu, Wakil Bupati Berau Gamalis mengatakan penanganan karhutla masih menghadapi keterbatasan sarana, prasarana dan personel. Kondisi tersebut membuat dukungan dari berbagai pihak dibutuhkan, termasuk perusahaan yang beroperasi di sekitar lokasi.
“Peralatan kita terbatas, begitu juga personel. Jadi dukungan dari perusahaan di sekitar lokasi sangat kita harapkan. Kalau ada alat pemadam dan tenaga yang bisa diturunkan, itu akan sangat membantu,” kata Gamalis.
Gamalis meminta perusahaan yang memiliki peralatan pemadam maupun personel dapat ikut dikerahkan untuk membantu tim gabungan.
“Kalau ada alat dan personel yang bisa digunakan, silakan diturunkan untuk membantu. Kita ingin api cepat dikendalikan sehingga tidak melebar ke kawasan lain,” ujarnya. (*/fa)










