TARAKAN, Headlinews.id – Persiapan pembukaan kembali penerbangan penumpang internasional di Bandara Juwata Tarakan terus dikebut. Sejumlah fasilitas, alur penumpang hingga prosedur pemeriksaan lintas instansi dimatangkan sembari menunggu proses perizinan rute.
Kabid Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan Fahrudin Rahmad mengatakan, koordinasi intensif dilakukan bersama Imigrasi, Bea Cukai, Karantina, Kesehatan, Aviation Security (Avsec), maskapai dan instansi terkait lainnya.
Menurut dia, setiap instansi telah menyampaikan kebutuhan masing-masing sehingga pihak bandara dapat memetakan fasilitas yang harus disiapkan sebelum penerbangan internasional dibuka.
“Sekarang memang kami sedang percepat persiapannya. Kami koordinasi dengan semua stakeholder, kemudian masing-masing menyampaikan apa saja kebutuhan mereka. Setelah itu kami cek lagi di lapangan, apakah fasilitasnya sudah ada, apakah perlu ditambah atau ada yang perlu disesuaikan,” ujar Fahrudin, Kamis (3/9/026).
Bandara Juwata kembali ditetapkan sebagai bandara internasional berdasarkan peraturan menteri terbaru setelah sebelumnya status tersebut dicabut. Penetapan itu menjadi dasar bagi Bandara Juwata untuk kembali dipersiapkan melayani penerbangan penumpang internasional berjadwal.
Salah satu rute yang direncanakan adalah Berau–Tarakan–Tawau yang akan dilayani Wings Air menggunakan pesawat ATR 72 dengan frekuensi awal tiga kali dalam sepekan.
Penerbangan perdana yang sebelumnya direncanakan pada 1 September belum terealisasi lantaran proses perizinan rute masih berlangsung. Sambil menunggu izin tersebut, persiapan fasilitas di Bandara Juwata tetap dikebut.
“Kalau untuk penerbangan perdananya, kita masih menunggu izin rute. Jadi belum bisa memastikan tanggal berikutnya. Tapi persiapan di bandara tetap jalan, karena jangan sampai nanti izinnya sudah keluar, kita masih sibuk menyiapkan fasilitas,” kata Fahrudin.
Pada area keberangkatan, penumpang nantinya melewati proses check-in, Security Check Point (SCP), pemeriksaan Imigrasi, ruang tunggu internasional hingga boarding gate. Penataan alur menjadi perhatian agar antrean tidak menumpuk, terutama saat terdapat rombongan penumpang.
Ruang Imigrasi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan internasional. Ruang berukuran 3 x 6 meter akan dibagi untuk Secondary Inspection, Passenger Analysis Unit atau analisis face recognition, serta ruang pengaduan. Meja pemeriksaan juga disesuaikan dengan kebutuhan perangkat face recognition.
“Ruangnya memang harus kami atur lagi supaya fungsi masing-masing jelas. Ada ruang untuk pemeriksaan lanjutan, ada untuk analisis, ada juga ruang aduan. Kemudian kami lihat kebutuhan mejanya, termasuk untuk face recognition, supaya petugas bisa bekerja dengan nyaman dan penumpang tidak terganggu,” jelasnya.
Kesiapan keamanan penerbangan turut menjadi perhatian. Bandara perlu menyiapkan ruang pemeriksaan khusus SCP serta X-Ray cadangan sebagai back-up apabila X-Ray utama mengalami gangguan. Prosedur pemeriksaan manual juga harus tersedia sebagai alternatif.
Bea Cukai dan Karantina nantinya ditempatkan pada titik tertentu di area keberangkatan untuk membantu monitoring barang bawaan penumpang. Penambahan meja dan kursi juga dibutuhkan agar koordinasi dengan petugas Avsec dapat berjalan lebih efektif.
“Kalau X-Ray utama bermasalah, pelayanan jangan sampai berhenti. Karena itu kami siapkan opsi cadangan dan kemampuan pemeriksaan manual. Bea Cukai dan Karantina juga perlu standby di titik tertentu supaya kalau ada barang yang harus diperiksa atau membutuhkan izin, bisa langsung dikoordinasikan,” tutur Fahrudin.
Di area kedatangan, penumpang akan diarahkan melalui area transisi tertutup sebelum memasuki proses pemeriksaan berikutnya. Fasilitas Visa on Arrival (VOA), thermal scanner, pemeriksaan kesehatan, Imigrasi, pengambilan bagasi, Bea Cukai dan Karantina disusun dalam satu alur.
Penumpang yang terdeteksi memiliki suhu tubuh di atas normal akan diarahkan ke ruang observasi Karantina Kesehatan sebelum melanjutkan proses pemeriksaan.
“Untuk kedatangan kami juga atur dari awal. Setelah turun, penumpang masuk ke area transisi, kemudian ada pemeriksaan kesehatan, Imigrasi, ambil bagasi dan terakhir Bea Cukai. Kalau ada yang perlu pemeriksaan kesehatan lebih lanjut, sudah ada ruang observasinya,” ungkapnya.
Karantina Kesehatan juga akan menata tiga ruangan yang tersedia menjadi satu area pemeriksaan yang lebih luas dengan menggunakan tirai portabel. Sementara instansi karantina yang menangani produk pertanian dan hewan perlu dilibatkan untuk mengantisipasi barang bawaan dari penerbangan internasional.
Pada sisi Bea Cukai, fasilitas meja, kursi, listrik dan jaringan disiapkan di area pemeriksaan bagasi. CCTV juga harus merekam secara berkesinambungan mulai dari penumpang tiba hingga meninggalkan kawasan pabean.
Penetapan kawasan pabean turut menjadi bagian yang harus ditindaklanjuti. Dalam pembahasan sementara, seluruh area sisi udara atau airside diarahkan menjadi kawasan pabean untuk mendukung pengawasan.
Sementara, karena hanya tersedia satu X-Ray untuk bagasi tercatat domestik dan internasional, bagasi internasional akan diberi tanda khusus oleh maskapai. Penandaan itu memudahkan ground handling mengidentifikasi bagasi yang harus masuk dalam alur pemeriksaan internasional.
“Bagasi internasional nanti harus dibedakan sejak awal. Karena X-Ray-nya masih digunakan bersama, maskapai akan memberi tanda khusus sehingga petugas ground handling bisa langsung tahu mana bagasi internasional dan mana domestik,” ujarnya.
Kebutuhan listrik dan jaringan Wi-Fi/LAN juga ikut diverifikasi karena sejumlah sistem operasional penerbangan internasional membutuhkan koneksi secara daring. Penataan kaca pada area kedatangan internasional serta fasilitas toilet juga diperhatikan agar tidak mengganggu kawasan clearance.
Seluruh kebutuhan tersebut akan ditindaklanjuti melalui tinjauan lapangan, pengukuran dan penataan fasilitas. Penyelesaian kebutuhan utama ditargetkan dalam waktu sekitar satu hingga dua pekan dengan menyesuaikan perkembangan proses perizinan rute.
Fahrudin menegaskan, kesiapan bandara akan terus dikejar agar pembukaan penerbangan internasional tidak terkendala persoalan fasilitas ketika izin rute telah diterbitkan.
“Intinya kami siapkan dulu semua dari sisi bandara. Kami targetkan kebutuhan utama satu sampai dua minggu ini bisa ditindaklanjuti. Setelah itu kami evaluasi lagi bersama stakeholder. Jadi ketika izin rute sudah selesai, kami berharap Bandara Juwata sudah benar-benar siap untuk menerima dan memberangkatkan penumpang internasional,” pungkasnya. (saf)







