TARAKAN, Headlinews.id – Sekitar 80 persen uang yang beredar di sejumlah wilayah kepulauan di Kalimantan sudah waktunya ditukar meski masih layak digunakan sebagai alat pembayaran. Hasil survei Bank Indonesia (BI) itu menjadi dasar pelaksanaan layanan penukaran uang layak edar bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan sekaligus Kepala Koordinator Wilayah BI Kalimantan, Haris Munandar, mengatakan hasil survei tersebut menunjukkan sebagian besar uang yang digunakan masyarakat sebenarnya masih dapat dipakai untuk bertransaksi.
Namun, kondisinya sudah perlu diganti agar masyarakat tidak perlu menunggu uang benar-benar lusuh atau rusak sebelum ditukarkan.
“Kalau dari hasil survei kami, sekitar 80 persen uang memang sudah waktunya ditukar. Tapi bukan berarti tidak layak edar. Alangkah baiknya masyarakat tidak menunggu uang benar-benar lusuh atau robek baru ditukar,” ujarnya.
Menurut Haris, layanan penukaran yang disediakan BI tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin mengganti uang lusuh atau rusak.
BI juga menyediakan berbagai pecahan untuk memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari, terutama di wilayah kepulauan yang akses layanan perbankannya masih terbatas.
“Selain penukaran uang lusuh atau uang robek, apabila ada kebutuhan uang yang lebih kecil, misalnya untuk ke pasar atau anak-anak ke sekolah, itu juga bisa dilakukan,” katanya.
Ia mengatakan masyarakat dapat memanfaatkan layanan penukaran selama persediaan uang yang dibawa masih tersedia.
Tingginya kebutuhan penukaran uang di daerah kepulauan membuat BI berharap seluruh uang yang disiapkan dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Sepanjang itu masih tersedia, kami akan senang kalau bisa habis. Itu artinya apa yang kami bawa berhasil tersampaikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain membuka layanan penukaran uang, BI juga memberikan edukasi mengenai cara mengenali keaslian rupiah.
Masyarakat dikenalkan metode dilihat, diraba, dan diterawang untuk memeriksa keaslian uang, termasuk memahami sedikitnya tujuh unsur pengaman yang terdapat pada setiap lembar rupiah.
“Dalam rupiah terdapat sedikitnya tujuh unsur pengaman. Jadi jangan khawatir, kalau masih ragu uang itu bisa dibawa ke cabang bank komersial terdekat atau ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Tarakan untuk dipastikan keasliannya,” jelas Haris.
Menurut Haris, layanan penukaran uang akan terus diperluas seiring bertambahnya jangkauan wilayah yang dilayani dalam Ekspedisi Rupiah Berdaulat.
Perluasan tersebut tidak lagi hanya menyasar pulau-pulau terluar, tetapi juga wilayah kepulauan lain yang membutuhkan layanan kas.
“Yang paling besar peningkatannya adalah jangkauan pulau. Sebelumnya yang didatangi lebih banyak pulau-pulau terluar, sekarang sudah ada pulau yang tidak harus berada di wilayah terdepan. Itu menjadi bagian dari ruang lingkup yang kami datangi untuk membantu penukaran uang lusuh maupun penyediaan uang pecahan kecil,” pungkasnya. (rs)










