TARAKAN, Headlinews.id – Realisasi investasi di Kota Tarakan pada triwulan I 2026 mencapai Rp387.113.530.982. Capaian tersebut berasal dari 164 perusahaan yang melakukan kegiatan penanaman modal, dengan nilai investasi masih didominasi Penanaman Modal Asing (PMA) dibandingkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Selain mencatat nilai investasi, kegiatan penanaman modal selama Januari hingga Maret 2026 juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tarakan, sebanyak 248 tenaga kerja Indonesia (TKI) terserap dari aktivitas investasi tersebut.
Kepala DPMPTSP Kota Tarakan, H. Sugeng, mengatakan realisasi investasi pada triwulan pertama tersebut terdiri dari PMA sebesar Rp284.312.885.224 dan PMDN sebesar Rp102.800.645.758. Dari sisi jumlah perusahaan, PMA tercatat sebanyak 17 perusahaan, sedangkan PMDN mencapai 147 perusahaan.
“Untuk realisasi investasi triwulan pertama ini, PMA jumlahnya Rp284.312.885.224. Kemudian kalau untuk PMDN dalam negeri sebesar Rp102.800.645.758. Jadi secara keseluruhan antara realisasi investasi PMA dan PMDN totalnya mencapai Rp387.113.530.982,” kata Sugeng.
Berdasarkan data tersebut, nilai investasi PMA mencapai sekitar 73 persen dari total investasi yang masuk sepanjang triwulan pertama. Meski jumlah perusahaan PMA lebih sedikit dibandingkan PMDN, nilai modal yang ditanamkan jauh lebih besar karena karakteristik investasi asing umumnya memiliki skala penanaman modal yang lebih tinggi.
Sugeng menjelaskan, kondisi tersebut menjadi alasan mengapa jumlah perusahaan PMDN lebih banyak, namun nilai investasinya masih berada di bawah PMA. Menurutnya, sebagian besar PMDN berasal dari pelaku usaha dalam negeri dengan berbagai skala usaha, termasuk sektor UMKM.
“Memang PMA lebih tinggi daripada PMDN. Angkanya besar karena nilai modalnya juga besar. Kalau PMDN biasanya banyak dari UMKM dan pelaku usaha dalam negeri. Jumlah perusahaannya banyak, tetapi nilai modalnya tidak sebesar investasi asing,” ujarnya.
Dari sisi tenaga kerja, realisasi investasi PMA pada triwulan pertama menyerap 70 tenaga kerja Indonesia, sedangkan PMDN menyerap 178 tenaga kerja Indonesia. Dengan demikian, total tenaga kerja Indonesia yang terserap mencapai 248 orang. Sementara itu, pada periode tersebut belum tercatat adanya penggunaan tenaga kerja asing (TKA).
Sugeng mengatakan, seluruh proses pelaporan kegiatan investasi saat ini dilakukan melalui sistem Online Single Submission (OSS). Sistem tersebut menjadi sarana utama bagi perusahaan untuk menyampaikan laporan perkembangan kegiatan investasinya kepada pemerintah.
Menurutnya, penerapan OSS sejauh ini berjalan tanpa kendala berarti. DPMPTSP juga menyediakan layanan pendampingan bagi pelaku usaha yang membutuhkan bantuan dalam proses pelaporan.
“Untuk pelaporan semuanya melalui OSS. Sejauh ini tidak ada kendala. Setiap hari petugas kami standby di pelayanan. Kalau ada masyarakat, pelaku usaha, atau pengusaha yang perlu dibantu, mereka bisa datang langsung ke sini dan akan dibantu untuk laporannya sampai selesai,” jelas Sugeng.
Ia menambahkan, pelaporan investasi dari perusahaan PMA maupun PMDN sebagian besar dilakukan secara daring melalui sistem yang telah tersedia. Dengan mekanisme tersebut, pemerintah daerah dapat memantau perkembangan investasi tanpa harus menunggu laporan secara manual dari perusahaan.
Untuk target jumlah perusahaan, DPMPTSP Kota Tarakan menargetkan sebanyak 400 perusahaan dapat tercatat dalam kegiatan investasi sepanjang 2026. Hingga triwulan pertama, realisasi telah mencapai 164 perusahaan.
Sugeng optimistis target tersebut masih dapat dicapai mengingat periode pencatatan investasi masih berlangsung hingga akhir tahun. Ia menyebut pola realisasi investasi biasanya mengalami peningkatan pada semester kedua.
“Triwulan pertama ini baru awal. Biasanya triwulan pertama masih sedang, kemudian triwulan kedua mulai meningkat. Yang biasanya paling besar itu triwulan tiga dan empat karena banyak kegiatan investasi yang sudah berjalan dan masuk dalam laporan,” katanya.
Untuk realisasi investasi triwulan II, DPMPTSP masih menunggu laporan dari perusahaan. Data tersebut diperkirakan mulai dapat diketahui setelah batas waktu pelaporan sekitar 20 Juli 2026.
“Triwulan kedua belum bisa dilihat karena belum ada laporannya. Mudah-mudahan setelah tanggal 20 Juli sudah bisa diketahui hasilnya,” ujar Sugeng.
Ia menyebut capaian investasi Kota Tarakan pada tahun sebelumnya juga berada di atas angka satu triliun rupiah. Berdasarkan catatan DPMPTSP, realisasi investasi tahun lalu mencapai sekitar Rp1,3 triliun.
Dengan melihat tren tersebut, DPMPTSP berharap realisasi investasi tahun ini kembali mengalami peningkatan. Meskipun kondisi ekonomi masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan investasi, pemerintah daerah tetap optimistis target yang telah ditetapkan dapat tercapai.
“Mudah-mudahan tahun 2026 ini realisasi investasi bisa mencapai target. Harapannya paling tidak bisa di atas Rp1 triliun,” pungkas Sugeng. (saf)










