TARAKAN, Headlinews.id– Ketersediaan kemasan plastik di Kota Tarakan mulai mengalami kelangkaan dalam beberapa waktu terakhir. Terhambatnya pasokan membuat sejumlah pelanggan, terutama dari luar daerah, mulai membeli barang dalam jumlah besar guna mengantisipasi kekosongan stok di pasaran.
Pantauan di Toko KA Mart (Kasih Anugerah Mart) menunjukkan sejumlah rak penyimpanan mulai kosong. Beberapa jenis kemasan makanan dan minuman yang sebelumnya mudah diperoleh kini sulit ditemukan akibat distribusi barang dari produsen di Pulau Jawa yang belum kembali normal.
Kepala Toko KA Mart, Jery, mengatakan kelangkaan saat ini berdampak pada hampir separuh jenis produk yang biasa tersedia di tokonya.
“Dari sekitar 80 item yang biasa kami jual, sekarang hanya sekitar 40 sampai 50 persen yang masih ada stoknya. Banyak merek tertentu belum masuk lagi ke Tarakan,” ujar Jery, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, keterlambatan pasokan membuat distributor tidak mampu memenuhi permintaan pelanggan seperti biasanya. Beberapa barang bahkan sudah tidak tersedia selama beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut memicu perubahan perilaku konsumen. Pelanggan yang sebelumnya membeli sesuai kebutuhan harian kini mulai melakukan pembelian lebih awal untuk memastikan ketersediaan kemasan bagi usaha mereka.
Fenomena ini paling terlihat pada pelanggan dari luar Kota Tarakan yang memiliki akses distribusi lebih terbatas dibandingkan pelaku usaha di dalam kota.
“Pelanggan luar daerah sekarang cenderung beli dua kali lipat lebih banyak. Mereka takut barang benar-benar kosong dan usaha mereka tidak bisa berjalan,” jelas Jery.
Aksi pembelian dalam jumlah besar tersebut membuat perputaran stok menjadi semakin cepat, sementara suplai barang pengganti belum tersedia.
Jery mengungkapkan banyak pembeli mencoba mencari merek alternatif, namun produk substitusi juga mengalami kelangkaan serupa.
“Bukan hanya satu merek yang kosong. Hampir semua jenis barang penggantinya juga sulit ditemukan,” katanya.
Kelangkaan kemasan plastik ini dinilai berpotensi mengganggu operasional pelaku usaha kuliner, khususnya UMKM yang sangat bergantung pada pasokan kemasan sekali pakai untuk aktivitas penjualan harian.
Selama distribusi dari produsen besar di Jakarta dan Surabaya belum pulih, distributor memperkirakan kondisi keterbatasan stok masih akan berlangsung dalam waktu dekat.
“Kalau harga naik tapi barang masih ada, usaha tetap bisa jalan. Yang paling berat itu kalau barangnya benar-benar kosong,” pungkas Jery. (saf)










