TARAKAN, Headlinews.id – Sekitar 100 warga binaan di Lapas Kelas IIA Tarakan sempat terdata belum mampu membaca dan menulis. Kemampuan baca tulis dinilai menjadi bekal penting agar warga binaan mampu beradaptasi setelah bebas dan tidak kembali melakukan tindak pidana.
Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan, Kesehatan dan Perawatan (Bimkemaswa) Lapas Kelas IIA Tarakan, Taufik Rowandy, mengatakan pembinaan bagi warga binaan dilakukan melalui pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian.
Pembinaan kepribadian diisi dengan kegiatan keagamaan sesuai agama masing-masing yang dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan sejumlah pihak ketiga.
“Program pembinaan untuk menekan angka residivis kami lakukan lewat pembinaan kepribadian dan kemandirian. Untuk pembinaan kepribadian, warga binaan mengikuti kegiatan keagamaan sesuai agamanya masing-masing dan kami bekerja sama dengan Kementerian Agama serta pihak terkait,” ujarnya.
Selain pembinaan keagamaan, Lapas Tarakan menjalankan program pemberantasan buta huruf bagi warga binaan yang belum mampu membaca dan menulis.
Program ini dikembangkan setelah lapas mengevaluasi sejumlah faktor yang memengaruhi narapidana kembali menjalani hukuman.
“Kami menemukan ada warga binaan yang kembali menjadi residivis karena sulit beradaptasi dengan kehidupan di luar. Salah satu penyebabnya karena tidak bisa membaca, sehingga program pemberantasan buta huruf menjadi salah satu yang kami perkuat,” katanya.
Taufik menjelaskan, hasil penelusuran Lapas Tarakan menunjukkan residivisme dipengaruhi berbagai faktor. Selain kondisi ekonomi dan lingkungan, kemampuan beradaptasi setelah kembali ke masyarakat turut menjadi tantangan bagi sebagian warga binaan.
Kemampuan membaca dan menulis dinilai menjadi bekal dasar yang perlu dimiliki sebelum mereka menyelesaikan masa pidana.
Pada awal pelaksanaan program, sekitar 100 warga binaan terdata belum mampu membaca. Seiring pembinaan berjalan, jumlah itu terus berkurang.
Warga binaan yang sebelumnya belum mampu membaca kini mulai dapat mengenal huruf dan membaca, kemudian melanjutkan pembelajaran menulis secara bertahap.
“Awalnya ada sekitar 100 orang yang kami data belum bisa membaca. Alhamdulillah sekarang jumlahnya terus berkurang. Yang sebelumnya belum bisa membaca sudah mulai bisa, kemudian mereka lanjut belajar menulis,” ungkapnya.
Selain pemberantasan buta huruf, Lapas Tarakan menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan atau Paket bagi warga binaan yang belum menyelesaikan pendidikan formal.
Seluruh proses pembelajaran dilaksanakan bekerja sama dengan pihak ketiga yang menyediakan tenaga pengajar.
“Kami juga mengadakan program pendidikan kesetaraan atau Paket. Seluruh pengajarnya berasal dari pihak ketiga yang bekerja sama dengan kami,” jelasnya.
Pembinaan di Lapas Tarakan tidak hanya dilakukan melalui pendidikan. Kegiatan keagamaan berlangsung rutin setiap Senin hingga Sabtu di rumah ibadah sesuai agama masing-masing.
Pada sore hari, warga binaan mengikuti olahraga dan kegiatan rekreasional sebagai sarana melepas penat selama menjalani masa pidana.
“Program ini kami jalankan agar warga binaan memiliki bekal saat kembali ke masyarakat. Ketika mereka sudah bisa membaca, menulis, dan memiliki kemampuan lain, mereka akan lebih mudah menjalani kehidupan di luar,” tutup Taufik. (saf)









