TARAKAN, Headlinews.id – Kasus gangguan pernapasan di wilayah kerja Puskesmas Pantai Amal mengalami peningkatan seiring paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan Kota Tarakan mencatat kenaikan kasus pneumonia dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), termasuk pada pasien dewasa.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, mengatakan perubahan jumlah kasus mulai terlihat dalam pelayanan Puskesmas Pantai Amal sejak Jumat hingga Sabtu. Peningkatan tercatat pada kasus pneumonia maupun ISPA.
“Kalau kita lihat datanya, awalnya ada satu pneumonia dan lima ISPA. Besoknya sudah menjadi tiga pneumonia dan delapan ISPA. Jadi memang ada peningkatan dari hari sebelumnya,” kata Devi.
Perubahan juga terlihat dari kelompok usia pasien yang datang berobat. Keluhan gangguan pernapasan yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada balita mulai muncul pada pasien dewasa yang mendapatkan pelayanan di poli umum.
Devi mengatakan petugas puskesmas tetap melakukan identifikasi kasus setiap hari. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan jumlah pasien dan pola gangguan pernapasan yang muncul di wilayah Pantai Amal.
“Teman-teman di puskesmas setiap hari tetap mengidentifikasi kasusnya. Memang sebelumnya tidak seperti ini, sekarang ada perubahan dan kelihatannya terjadi peningkatan,” ujarnya.
Pelayanan poli umum turut mencatat pasien dengan keluhan ISPA. Dinkes mengikuti perkembangan kasus berdasarkan kelompok usia untuk melihat perubahan jumlah pasien yang datang berobat.
“Awalnya memang lebih banyak balita yang kami temukan. Tapi sekarang di poli dewasa atau umum juga sudah ada peningkatan ISPA. Jadi tidak hanya anak-anak yang datang dengan keluhan seperti itu,” jelasnya.
Puskesmas Pantai Amal terus mencatat perkembangan kasus gangguan pernapasan yang ditemukan dari pelayanan kesehatan. Data tersebut digunakan Dinkes untuk memantau kondisi kesehatan warga selama paparan asap karhutla masih berlangsung.
Dinkes bersama Puskesmas Pantai Amal juga membagikan masker kepada masyarakat sebagai perlindungan dari paparan asap. Penggunaan masker dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan.
“Kalau asapnya terhirup, memang bisa mengganggu saluran pernapasan. Keluhannya bisa mulai dari batuk, kemudian bisa memicu ISPA. Mata juga bisa terasa perih atau mengalami iritasi,” kata Devi.
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan. Warga yang mengalami keluhan gangguan pernapasan juga diminta segera memeriksakan kondisi kesehatannya.
“Kalau memang harus keluar, pakai masker. Jangan terlalu lama berada di luar kalau tidak ada keperluan. Kami juga tetap memantau dari puskesmas, apakah kasusnya masih meningkat atau nanti mulai turun,” pungkasnya. (saf)










