TARAKAN, Headlinews.id – Kebakaran yang terjadi di salah satu bangunan di Pelabuhan Malundung, area Pelindo Regional 4 Tarakan ditangani melalui respons gabungan sejumlah unsur penanganan kebakaran.
Selain unit pemadam internal milik Pelindo, Dinas Satpol PP dan Pemadam Kebakaran (PMK) Tarakan serta dukungan dari unsur lain turut dikerahkan untuk mengantisipasi risiko meluasnya kebakaran di kawasan objek vital tersebut.
Kabid Pemadam Kebakaran Dinas Satpol PP dan PMK Tarakan, Eko Supriyatnoko, mengatakan laporan permintaan bantuan diterima petugas sekitar pukul 19.49 Wita, Kamis (18/6/2026).
Menurut dia, saat laporan masuk, upaya penanganan awal telah dilakukan oleh tim internal Pelindo melalui unit pemadam yang dimiliki perusahaan sehingga Damkar masuk sebagai penguatan di lapangan.
“Laporan masuk sekitar pukul 19.49 Wita. Informasinya saat itu Pelindo membutuhkan backup. Ketika kami tiba di lokasi, unit pemadam internal mereka sudah melakukan penanganan awal, lalu tim kami masuk untuk memperkuat proses pemadaman,” ujarnya.
Setelah menerima laporan tersebut, Damkar Tarakan mengerahkan personel dan armada dari sektor barat beserta dukungan suplai pemadaman. Penanganan juga diperkuat dengan dukungan satu brigade pemadam dari Pertamina serta unsur komando yang turut turun ke lapangan.
Eko menjelaskan pengerahan sejumlah unsur dilakukan karena lokasi kebakaran berada di kawasan yang memiliki tingkat risiko tinggi sehingga langkah penanganan dilakukan secara antisipatif.
“Kami tidak ingin mengambil risiko karena ini kawasan objek vital. Ketika ada laporan masuk dan dibutuhkan penguatan, kami langsung turunkan personel supaya kondisi di lapangan tetap terkendali dan tidak berkembang ke area lain,” katanya.
Ia menjelaskan bangunan yang terbakar merupakan bangunan lama dan dalam kondisi tidak digunakan lagi. Meski demikian, perhatian petugas tidak hanya tertuju pada titik api, tetapi juga kondisi di sekitar lokasi.
Menurutnya, salah satu pertimbangan utama saat penanganan dilakukan karena lokasi kebakaran berada dekat area LNG sehingga diperlukan pengamanan lebih cepat dan terukur.
“Bangunan yang terbakar itu bangunan lama dan sudah kosong. Tetapi yang menjadi perhatian kami bukan hanya objek yang terbakar, melainkan posisi lokasi yang berada dekat area LNG sehingga langkah pengendalian harus dilakukan lebih hati-hati,” ujarnya.
Dalam proses penanganan, seluruh unsur pendukung disebut dapat masuk ke lokasi dalam waktu singkat. Respons tersebut bahkan mendapat apresiasi dari pihak pengelola kawasan.
“Kami bersyukur seluruh unsur yang memberikan dukungan bisa bergerak cepat. Tim pendukung datang ke lokasi tidak sampai 15 menit sehingga penanganan bisa langsung diperkuat,” katanya.
Meski kebakaran berhasil ditangani, Eko mengakui masih terdapat sejumlah catatan evaluasi selama proses penanganan berlangsung, terutama terkait koordinasi antarunsur saat berada di lapangan.
Menurut dia, beberapa kondisi yang muncul saat kejadian langsung dibahas bersama sebagai bahan perbaikan penanganan berikutnya.
“Tadi memang ada beberapa hal yang menjadi evaluasi karena ada momen koordinasi yang belum sepenuhnya sinkron. Tetapi itu langsung kami komunikasikan di lapangan supaya ke depan pola respons antarpetugas bisa semakin baik,” pungkasnya. (saf)










