TARAKAN, Headlinews.id – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hebat melanda kawasan Jalan Providen, Jalan Binalatung, Kelurahan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur pada Selasa (24/3/2026). Peristiwa yang terjadi di tengah cuaca panas ekstrem ini tercatat sebagai kebakaran lahan dengan cakupan terluas di Kota Tarakan sejak memasuki awal tahun 2026.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan, Yonsep, S.E., M.P., mengonfirmasi amukan api yang diperparah angin kencang di wilayah pesisir tersebut. Berdasarkan data awal, luasan lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 6 hektar.
Guna memastikan dampak kerusakan yang terjadi, Yonsep bersama jajaran pimpinan BPBD melakukan peninjauan langsung ke titik lokasi pada Rabu (25/3/2026). Langkah ini diambil untuk melakukan asesmen teknis terkait batas-batas lahan yang terbakar.
“Hari ini saya dan Kabid melakukan asesmen ke sana melihat berapa luas dan dampak yang sebenarnya. Kalau info sementara itu kan perkiraan saja sekitar 6 hektar, dan ini memang yang terbesar sejak awal tahun,” ujar Yonsep saat dihubungi Rabu (25/3/2026).
Yonsep menjelaskan, api muncul saat matahari sedang terik disertai hembusan angin kencang dari arah laut. Kondisi ini membuat vegetasi berupa semak belukar dan rumput kering di lahan milik masyarakat tersebut menjadi sangat mudah terbakar dan sulit dikendalikan oleh tim di lapangan.
Menurutnya, kondisi lahan yang sangat kering membuat api seolah-olah mendapat asupan bahan bakar tambahan saat tertiup angin.
“Itu kan pas panas-panasnya, terik matahari, terus kedua angin pas kencang. Jadi kecepatan luasan kebakarannya memang karena lahan kering, jadi kayak disiram bensin saja karena isinya rumput dan semak kering,” ungkapnya.
Lahan yang terbakar di Jalan Providen merupakan area milik masyarakat, bukan kawasan hutan lindung. Namun, besarnya kobaran api sempat mengancam area produktif lainnya di sekitar wilayah Tarakan Timur jika tidak segera dilokalisir oleh petugas.
Pihak BPBD juga mencatat kebakaran di Pantai Amal ini terjadi hampir bersamaan dengan titik api lainnya di Tarakan. Hal tersebut menjadi indikator kuat bahwa kondisi cuaca di Tarakan saat ini sedang dalam status sangat rawan kebakaran.
Meskipun api utama sudah berhasil dipadamkan pada Selasa malam, tim BPBD tetap melakukan pemantauan pada Rabu pagi. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang tersembunyi di bawah permukaan tanah yang sewaktu-waktu bisa memicu kebakaran susulan.
Berdasarkan koordinasi dengan pihak terkait, BPBD terus memantau titik panas (hotspot) untuk mengantisipasi kejadian serupa. Fokus utama saat ini adalah mencegah agar rekor luasan 6 hektar ini tidak bertambah di lokasi lain.
“Kami imbau warga untuk benar-benar waspada. Dengan kondisi lahan yang sangat kering seperti sekarang, percikan api sekecil apa pun bisa berakibat fatal dan meluas dengan sangat cepat,” tutup Yonsep. (saf)










