TARAKAN, Headlinews.id– Perjuangan personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan dalam menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kelurahan Pantai Amal, memakan korban.
Dua orang petugas dilaporkan mengalami cedera serius, satu personel BPBD dan satu lagi personel Korlakar Tarakan saat menjalankan tugas di tengah kepulan asap tebal, Selasa (24/3/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep, S.E., M.P., mengonfirmasi, salah satu stafnya harus dilarikan ke rumah sakit akibat kecelakaan kerja di lapangan. Insiden tersebut terjadi saat personel sedang berupaya melokalisir api yang merambat cepat di medan yang sulit.
“Memang ada satu staf kita yang terluka terkena paku saat proses pemadaman. Petugas tersebut sudah menjalani tindakan operasi tadi malam di Rumah Sakit Carsa (RSU),” ungkap Yonsep saat memberikan keterangan, Rabu (25/3/2026).
Yonsep menambahkan, kondisi personelnya saat ini sudah mulai stabil dan tengah menjalani masa pemulihan pasca-operasi. Pihak BPBD memastikan seluruh biaya perawatan dan kebutuhan medis petugas tersebut ditanggung sepenuhnya oleh instansi.
“Kondisinya sekarang lagi istirahat untuk pemulihan, tapi aman saja karena kemarin langsung ditindaklanjuti secara medis. Ini risiko tugas yang harus kami hadapi di lapangan,” tuturnya.
Beratnya perjuangan tim di karlutha Pantai Amal dipicu oleh kemunculan titik api yang terjadi secara bersamaan di lokasi berbeda. Hal ini membuat kekuatan personel dan armada BPBD harus terbagi demi mengamankan pemukiman warga di wilayah utara dan timur Tarakan.
“Sebenarnya penanganan kemarin itu ada bersamaan tiga titik. Di Juata Laut ada dua, yakni di Perum PNS dan di Bukit Tengkorak, kemudian satu lagi di Binalatung (Pantai Amal). Personel sudah fokus ke sana, tiba-tiba muncul lagi yang di Binalatung ini,” jelas Yonsep.
Yonsep memberikan apresiasi tinggi kepada jajaran TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Polri, serta tim dari Pertamina dan KLHK Kehutanan yang terjun langsung ke titik api. Kehadiran relawan Kolakar dan masyarakat sekitar juga dianggap sangat krusial dalam mempercepat proses pemadaman.
“Binalatung itu sudah dibantu oleh semua armada yang ada, pentahelix kita bergerak. Ada bantuan dari teman-teman kehutanan, KPH, dan instansi samping lainnya,” tambahnya.
Meski api telah berhasil dipadamkan, Yonsep mengingatkan ancaman belum sepenuhnya hilang. Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, cuaca panas ekstrem diprediksi masih akan bertahan di wilayah Kalimantan Utara hingga tiga hari ke depan.
Kondisi tanah yang kering dan minimnya curah hujan menjadi tantangan besar bagi para pemilik lahan. Yonsep menyarankan agar masyarakat mulai melakukan langkah mitigasi mandiri untuk melindungi aset mereka dari ancaman api yang bisa muncul sewaktu-waktu.
“Kami harap masyarakat bisa bekerja sama. Jika ingin membuka lahan, tolong koordinasikan dengan KPH atau BPBD agar bisa dipantau risikonya. Jangan dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan,” imbau Yonsep.
Selain itu, ia memberikan saran teknis bagi para petani atau pemilik lahan perkebunan agar membangun sumber air cadangan di lokasi lahan masing-masing sebagai pertolongan pertama saat terjadi percikan api.
“Bikinlah tampungan air atau kolam di kebun. Jadi saat kekeringan seperti ini, kita punya bahan baku air untuk pencegahan dini sebelum api meluas secara masif,” pungkasnya. (saf)










