TARAKAN, Headlinews.id – Pembukaan jalur ekspor langsung dinilai menjadi solusi untuk memangkas rantai distribusi komoditas Kalimantan Utara yang selama ini harus melalui beberapa daerah sebelum mencapai pasar internasional.
Anggota Komisi IV DPR RI, Hasan Saleh menekankan pentingnya terobosan dari seluruh instansi di daerah untuk mendorong percepatan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Saya sangat mengharapkan semua instansi yang ada di Tarakan ini punya terobosan, langkah-langkah yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian,” ujarnya saat menghadiri kegiatan akselerasi ekspor di Tarakan, Rabu (29/4/2026).
Ia menggambarkan, selama ini jalur distribusi komoditas dari Kalimantan Utara masih berlapis dan memakan waktu lama sebelum sampai ke pasar ekspor. Rantai tersebut dinilai tidak efisien dan membebani pelaku usaha di daerah.
“Selama ini kalau barang mau diekspor dari sini harus ke Makassar, lalu ke Surabaya, baru ke luar negeri seperti Hong Kong. Prosesnya bisa berminggu-minggu,” katanya.
Dengan mulai dibukanya jalur ekspor langsung, alur distribusi diharapkan menjadi lebih singkat dan efisien. Hasan menilai, pemangkasan jalur ini akan membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha di daerah serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai terobosan yang perlu dijaga keberlanjutannya melalui dukungan lintas sektor, baik pemerintah pusat maupun daerah.
“Kalau jalurnya bisa dipotong langsung, tentu lebih efisien dan akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Intinya, kita ingin memotong jalur distribusi sehingga jalur ekonomi bisa berjalan lebih efisien dan terbuka lebih luas,” ujarnya.
Dukungan dari DPR, lanjut dia, akan difokuskan pada penguatan kebijakan agar program berjalan optimal. Mulai dari anggaran, regulasi, hingga fungsi pengawasan akan diarahkan untuk memperkuat skema ekspor langsung tersebut.
Selain itu, Kalimantan Utara dinilai memiliki potensi besar, khususnya di sektor perikanan seperti kepiting dan komoditas hasil laut lainnya. Dengan posisi geografis yang dekat dengan pasar Asia, peluang ekspor dinilai terbuka lebar.
“Kaltara ini memiliki potensi besar, terutama untuk komoditas seperti kepiting dan lainnya. Jadi, tidak perlu lagi melalui jalur yang berbelit-belit. Kalau bisa dipotong langsung, tentu lebih baik,” tandasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan percepatan ekspor harus diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya. Salah satunya dengan tidak menangkap kepiting berukuran kecil agar populasi tetap terjaga.
Terkait hal tersebut, ia menilai peran pemerintah daerah penting dalam pengelolaan kawasan konservasi, sementara pemerintah pusat akan mendorong melalui kebijakan dan dukungan anggaran.
“Kami juga akan mendorong masyarakat, khususnya petambak untuk menjaga kualitas hasil produksi. Misalnya kepiting yang masih kecil diharapkan tidak ditangkap agar bisa tumbuh dengan baik. Tapi soal konservasi itu menjadi bagian dari peran pemerintah daerah,” pungkasnya.
Sebagai tindak lanjut, Hasan berencana mengundang para petani dan petambak di Kalimantan Utara untuk mendapatkan pemaparan terkait peluang ekspor langsung tersebut.
“Insya Allah di bulan Juni nanti saya akan undang para petani dan petambak, supaya mereka mengerti bahwa sudah ada terobosan yang dilakukan pemerintah bersama instansi terkait,” katanya.
Ia juga menyebut peluang pasar ekspor tidak hanya terbatas pada China, tetapi dapat diperluas ke kawasan lain seperti Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika.
“Dari hasil pembicaraan dengan karantina, pasar juga bisa dibuka ke Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika. Ini tentu menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan,” tandasnya. (saf)










