TARAKAN, Headlinews.id – Cabai menjadi salah satu komoditas yang berulang kali memberikan tekanan terhadap inflasi Tarakan. Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah membuat pergerakan harga komoditas tersebut mudah terpengaruh ketika produksi di daerah pemasok mengalami gangguan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik mengungkap pola tersebut perlu diatasi dari sisi pasokan. Produksi cabai di Tarakan belum mampu memenuhi kebutuhan secara konsisten, sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan.
“Cabai ini memang sering muncul sebagai salah satu penyumbang inflasi. Ketika pasokan dari luar berkurang, harganya bisa cepat naik. Kondisi seperti ini berulang, sehingga produksi lokal perlu diperkuat supaya ada tambahan sumber pasokan,” kata Agus.
Keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala pengembangan pertanian di Tarakan. Karena itu, penguatan produksi tidak diarahkan pada perluasan lahan semata, tetapi juga pemanfaatan pola budidaya yang lebih sesuai dengan kondisi perkotaan.
Salah satu pendekatan yang didorong BI adalah penggunaan greenhouse. Sistem tersebut memungkinkan kondisi tanaman lebih terkontrol, termasuk pengaturan air dan lingkungan tumbuh, sehingga produksi tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi musim.
“Greenhouse ini bisa menjadi salah satu alternatif. Airnya bisa diatur, kondisi tanamnya juga lebih terkontrol. Jadi ketika kondisi musim berubah, petani masih punya ruang untuk menjaga tanaman dan produksi cabainya,” ujar Agus.
Pengembangan budidaya tersebut diarahkan bersama kelompok tani. Selain aspek teknis, kesinambungan produksi juga perlu diperhitungkan agar hasil panen dapat terserap pasar dan memberikan tambahan pasokan bagi Tarakan.
Agus menilai produksi lokal tidak berarti menghapus kebutuhan pasokan dari daerah lain. Tarakan tetap membutuhkan pasokan luar, tetapi keberadaan produksi lokal dapat menjadi penyangga ketika terjadi gangguan pada daerah pemasok.
“Pasokan dari luar tetap kita perlukan, tetapi jangan sampai hanya bergantung pada satu sumber. Kelompok tani di Tarakan bisa menjadi bagian dari tambahan pasokan, terutama ketika produksi daerah lain sedang terganggu,” jelasnya.
Menurut dia, pola budidaya tersebut perlu terus dievaluasi dari sisi produksi maupun keberlanjutan petaninya. Dukungan teknologi harus diikuti kemampuan kelompok tani mengelola budidaya serta kepastian pasar.
“Teknologinya ada, tetapi pengelolaan oleh petani juga penting. Kita perlu melihat bagaimana produksinya bisa berjalan terus, hasilnya terserap dan petaninya juga mendapat manfaat. Dengan begitu, budidaya cabai ini tidak hanya berjalan sesaat,” pungkas Agus. (rs/*)










