TARAKAN, Headlinews.id – Evakuasi ular menjadi layanan operasi darurat nonkebakaran yang paling banyak ditangani Dinas Satpol PP dan Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Tarakan. Sepanjang Januari–September 2026, jumlah operasi nonkebakaran yang tercatat mencapai 368 kejadian.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Dinas Satpol PP dan PMK Kota Tarakan, Eko Supriyatnoko, menjelaskan, layanan operasi darurat nonkebakaran atau ODNK tidak hanya mencakup evakuasi ular, tetapi juga penanganan tawon, pelepasan cincin yang tersangkut di jari, serta penyelamatan dalam kondisi darurat lainnya.
“Evakuasi ular salah satu layanan yang paling sering kami tangani, biasanya kobra hitam dan piton. Penanganannya memang membutuhkan keterampilan khusus,” ujarnya.
Eko menyebut, pelepasliaran dilakukan di kawasan Gunung Selatan, setelah mendapatkan arahan dari pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Ular hasil evakuasi juga terkadang dimanfaatkan sebagai sarana latihan bagi personel sebelum dilepasliarkan.
“Kami melatih keterampilan menangani hewan sekaligus meningkatkan kesiapan ketika menerima laporan serupa. Untuk pelepasannya, ular tidak selalu langsung dilepas setelah dievakuasi. Kami berkoordinasi dulu dengan BKSDA,” katanya.
Selain ular, petugas menangani sarang tawon yang membahayakan warga. Penanganan dilakukan ketika keberadaan tawon dinilai mengancam keselamatan atau sudah menyerang masyarakat. Dalam kondisi tertentu, petugas mengambil tindakan dengan memusnahkan sarangnya.
Tawon Vespa menjadi salah satu jenis yang lebih mendapatkan perhatian, karena sifatnya yang agresif. Penanganannya mempertimbangkan kondisi di lapangan dan tingkat ancaman terhadap warga. Laporan keberadaan sarang tawon ditindaklanjuti berdasarkan potensi bahaya yang ditimbulkan.
“Kalau sarang tawon sudah mengancam warga atau tawonnya menyerang, kami segera melakukan penanganan sesuai kondisi di lapangan. Evakuasi biasanya kami lakukan malam hari,” jelas Eko.
Layanan ODNK lainnya adalah pelepasan cincin yang tersangkut di jari. Permintaan ini cukup sering diterima petugas. Jika jari mengalami pembengkakan dan cincin sulit dilepaskan, petugas Damkar dapat memotong cincin agar proses pelepasan berlangsung lebih aman.
“Ada kejadian unik yang pernah kami tangani, melepas ring yang tersangkut di kemaluan. Bentuknya seperti cincin dan tidak bisa dibuka. Kondisinya sudah bengkak dan menimbulkan rasa sakit. Orangnya malu kalau dibawa ke puskesmas atau IGD, akhirnya kami membantu melepaskan ring tersebut,” ujar Eko.
Berbagai penanganan ini juga didukung personel yang memiliki pembagian tugas dalam setiap regu. Eko menjelaskan, satu regu piket terdiri atas enam personel, komandan regu, operator mobil pemadam, operator suplai, nozzleman, operator radio, dan helper. Masing-masing memiliki tugas untuk mendukung pelaksanaan operasi di lapangan.
“Mereka juga punya kompetensi untuk melakukan operasi darurat nonkebakaran,” ujar Eko.
Selain penanganan hewan dan pelepasan cincin, personel Damkar Tarakan juga memiliki kemampuan penyelamatan di ketinggian atau vertical rescue. Salah satu kasus yang pernah ditangani adalah membantu warga yang naik ke pohon kelapa, tetapi mengalami kesulitan saat hendak turun.
“Kemampuan vertical rescue juga kami gunakan ketika ada warga yang membutuhkan bantuan di tempat tinggi, termasuk saat kesulitan turun dari pohon,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi Januari–September 2026 mencatat 68 operasi darurat kebakaran. Jumlah tersebut terdiri atas 18 kebakaran bangunan gedung, 22 kebakaran lainnya, serta 28 kegiatan pemantauan atau dukungan penanganan kebakaran lahan yang berada dekat permukiman maupun berdasarkan permintaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Secara keseluruhan, terdapat 436 operasi darurat kebakaran dan nonkebakaran selama periode tersebut, berdasarkan penjumlahan 68 operasi kebakaran dan 368 ODNK.
“Dari 68 layanan itu, ada 18 kebakaran bangunan gedung. Kemudian, ada 22 kebakaran lainnya, antara lain gas bocor, mobil terbakar, dan korsleting listrik. Selain itu, kami melakukan backup atau pemantauan terhadap kebakaran lahan yang dekat rumah maupun berdasarkan permintaan dari BPBD, jumlahnya 28,” kata Eko.
Untuk mempercepat penerimaan informasi, Damkar Tarakan membangun jejaring komunikasi dengan perangkat wilayah dan unsur terkait.
“Jadi, kami membangun jejaring supaya informasi itu bisa cepat masuk. Kami membuat grup WhatsApp yang anggotanya seluruh ketua RT, ada Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga, bahkan sudah lintas sektoral. Grup itu kami gunakan sebagai grup info dan komando,” ungkap Eko.
Informasi yang masuk menjadi dasar bagi petugas untuk menindaklanjuti laporan. Pencatatan dan pelaporan juga dilakukan secara berjenjang oleh petugas serta komandan regu sebagai bagian dari mekanisme kerja di lapangan.
“Kemampuan kami tidak hanya dalam cakupan layanan Damkar yang terbatas pada pemadaman api. Tetapi, personel dituntut mampu menyesuaikan penanganan dengan jenis keadaan darurat yang dilaporkan masyarakat,” tandasnya. (saf)










