TARAKAN, Headlinews.id – Penurunan permintaan ekspor berdampak langsung terhadap aktivitas produksi PT Intracawood Manufacturing. Perusahaan yang bergerak di industri pengolahan kayu tersebut kini menghadapi tekanan arus kas setelah permintaan plywood dari pasar luar negeri mengalami penurunan.
Manager HRD PT Intracawood Manufacturing, Imam Muhadi, mengakui kondisi keuangan perusahaan sedang mengalami kesulitan. Situasi ekonomi global yang belum stabil turut memengaruhi aktivitas ekspor perusahaan. Pembeli masih tersedia, tetapi jumlah permintaan mengalami pengurangan.
“Kondisi perusahaan memang sedang tidak baik. Kami bergerak di sektor ekspor, sementara kondisi ekonomi global sedang bermasalah dan dampaknya juga dirasakan perusahaan. Pembeli masih ada, tetapi jumlah permintaannya berkurang,” ujar Imam saat ditemui di sela Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Kota Tarakan, Rabu (4/11/2026).
Penurunan permintaan tersebut berimbas pada kapasitas produksi bulanan. Imam mengungkapkan, dalam kondisi normal perusahaan dapat memproduksi sekitar 3.000 meter kubik plywood setiap bulan. Namun, saat ini realisasi produksi hanya sedikit di atas 1.000 meter kubik.
“Kalau dalam kondisi normal, produksi kami seharusnya sekitar 3.000 meter kubik per bulan. Sekarang produksinya hanya sedikit di atas 1.000 meter kubik. Itu gambaran kondisi produksi perusahaan saat ini,” jelasnya.
Angka tersebut menunjukkan penurunan kapasitas produksi yang cukup signifikan dibandingkan kondisi normal perusahaan. Pasar ekspor yang masih dilayani saat ini berfokus ke Jepang. Manajemen juga belum menyampaikan rencana untuk memperluas pemasaran ke negara lain.
Selain penurunan permintaan, perusahaan menghadapi kenaikan biaya produksi. Harga sejumlah bahan pendukung, termasuk lem dan kebutuhan operasional lainnya, mengalami peningkatan. Namun, kondisi tersebut belum diikuti kenaikan harga jual plywood.
“Biaya operasional meningkat. Bahan-bahan seperti lem dan kebutuhan produksi lainnya juga mengalami kenaikan harga, sedangkan harga plywood belum naik. Kondisi ini ikut memengaruhi keuangan perusahaan,” ungkapnya.
Sedangkan persoalan bahan baku, Imam menyebut sejauh ini tidak mengalami kendala. Perusahaan masih memiliki akses terhadap pasokan kayu melalui sumber bahan baku yang dimiliki.
“Kalau bahan baku tidak ada masalah. Kami memiliki sumber bahan baku sendiri, sehingga kendala yang sedang dihadapi sekarang lebih kepada kondisi cash flow perusahaan,” katanya.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, manajemen tengah menyiapkan sejumlah langkah pemulihan. Salah satunya dengan menjual kayu log guna memperoleh tambahan dana untuk memenuhi kebutuhan arus kas perusahaan.
Selain penjualan kayu log, opsi memperoleh pembiayaan dari perbankan juga akan dibicarakan dengan pemilik perusahaan. Namun, Imam belum merinci skema pembiayaan maupun waktu pelaksanaan langkah tersebut.
“Menjual kayu log dengan harapan hasil penjualannya bisa membantu menutup kebutuhan cash flow perusahaan. Kalau untuk upaya mencari pembiayaan dari perbankan, tentu akan kami bicarakan terlebih dahulu dengan pemilik perusahaan,” ujarnya.
Dia mengakui kesulitan yang dialami perusahaan bukan persoalan yang baru muncul dalam waktu singkat. Kondisi saat ini merupakan akumulasi dari sejumlah persoalan usaha yang berlangsung cukup lama hingga berdampak pada aktivitas perusahaan.
Penurunan produksi juga memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan tenaga kerja. Saat ini, jumlah karyawan PT Intracawood Manufacturing diperkirakan masih sekitar 1.500 orang. Ketika ditanya mengenai kemungkinan merumahkan karyawan sambil menunggu pemulihan permintaan pasar, Imam belum memberikan keputusan.
“Sebetulnya ini sudah lama. Ada akumulasi dari beberapa kesulitan, kemudian dampaknya terasa sampai perusahaan mengalami penurunan seperti sekarang. Untuk langkah seperti merumahkan karyawan atau kebijakan lainnya, nanti akan kami lihat perkembangan kondisi perusahaan ke depan. Saat ini kami masih melihat bagaimana usaha bisa tetap berjalan,” katanya.
Menurutnya, langkah terkait pengelolaan tenaga kerja masih akan melihat perkembangan kondisi perusahaan ke depan. Manajemen saat ini masih berharap kegiatan usaha dapat dipertahankan.
Sedangkan keberlangsungan operasional, Imam meminta dukungan agar perusahaan tetap bertahan. Dia menyebut keberadaan Intracawood berkaitan dengan kepentingan banyak orang, terutama para pekerja yang menggantungkan penghidupan dari aktivitas perusahaan.
“Saya meminta dukungan dan doa agar Intracawood tetap bisa bertahan. Perusahaan ini menyangkut kepentingan banyak orang, termasuk para pekerja yang menggantungkan penghidupan di sini,” tuntasnya. (saf)










