MALINAU, Headlinews.id – Pemanfaatan sumber daya lokal menjadi materi utama dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Teknologi Bandung (ITB) di Desa Punan Mirau, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Kabupaten Malinau.
Masyarakat diperkenalkan dengan sejumlah teknologi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan potensi kehutanan, pertanian, pengolahan limbah organik dan perikanan.
Ketua tim PkM ITB dari Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Dr. Ir. Anne Hadiyane, S.Hut., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut dirancang dengan melihat sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.
Pendekatan yang digunakan tidak hanya memberikan teori, tetapi diarahkan pada keterampilan yang dapat diterapkan.
“Yang kami bawa ke Punan Mirau itu teknologi yang memang bisa dikembangkan dari potensi yang sudah ada di masyarakat. Jadi bukan hanya memberikan materi, tetapi bagaimana teknologi tersebut bisa diterapkan dan kemudian dikembangkan oleh masyarakat sendiri,” kata Anne.
Program PkM Skema Bottom-Up tersebut didanai Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB. Pelaksanaannya melibatkan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, UPTD KPH Malinau, KKI Warsi serta Universitas Borneo Tarakan.
Pada sektor kehutanan, masyarakat mendapatkan materi mengenai inokulan gaharu dan teknik inokulasi melalui injeksi. Materi tersebut diberikan Dr. Ir. Mustika Dewi, M.Si., dan Anca Awal Sembada, S.T., M.Si., Ph.D.
“Untuk kehutanan, ada pengenalan inokulan gaharu dan teknik inokulasinya. Ini penting karena gaharu merupakan salah satu hasil hutan yang mempunyai nilai ekonomi, sehingga masyarakat bisa memahami bagaimana pengembangannya dengan teknik yang tepat,” ujar Anne.
Selain gaharu, tim memperkenalkan teknologi pirolisis yang memungkinkan biomassa dan limbah lignoselulosa diolah menjadi produk bernilai guna. Anne bersama Dr. Alfi Rumidatul, S.Hut., M.Si., memberikan materi mengenai pemanfaatan hasil pirolisis berupa biochar dan asap cair.
Menurut Anne, bahan baku untuk teknologi tersebut relatif dekat dengan kehidupan masyarakat karena berasal dari biomassa yang tersedia di lingkungan sekitar. Pemanfaatannya juga dapat dikaitkan dengan kebutuhan pertanian dan kehutanan.
“Biomassa yang ada di sekitar masyarakat jangan hanya dianggap sebagai limbah. Dengan pirolisis, bahan itu bisa diolah menjadi biochar dan asap cair yang kemudian dapat dimanfaatkan lagi untuk mendukung kegiatan masyarakat,” jelasnya.
Pengolahan bahan organik juga menjadi bagian dari kegiatan. Dr. Atmawi Darwis, S.Hut., M.Si., memberikan materi pembuatan kompos dan pupuk organik cair (POC) dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan desa.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat menghasilkan kebutuhan pertanian dari sumber daya lokal. Dengan demikian, penggunaan bahan dari luar wilayah dapat ditekan sekaligus mendorong pemanfaatan kembali bahan organik.
“Kompos dan pupuk organik cair ini juga kita kenalkan supaya bahan-bahan organik yang tersedia bisa dimanfaatkan. Harapannya masyarakat bisa mengolah sendiri bahan yang ada menjadi sesuatu yang berguna untuk kegiatan pertanian,” katanya.
Pendampingan kemudian mencakup budidaya tanaman dan perikanan. Ahim Ruswandi, S.P., M.P., memberikan materi teknik budidaya tanaman, sedangkan Rini Mastuti, S.Pi., M.Si., dari Program Studi Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan, memberikan materi budidaya ikan.
Menurut Anne, penggabungan sejumlah bidang tersebut dibuat agar masyarakat memiliki pilihan dalam mengembangkan sumber pangan sekaligus kegiatan ekonomi. Potensi tanaman, perairan dan bahan organik dapat dikembangkan sesuai kondisi Desa Punan Mirau.
“Jadi pendekatannya memang tidak hanya kehutanan. Ada pertanian, pengelolaan limbah organik dan perikanan. Semua kita lihat dari apa yang tersedia di desa dan bagaimana itu bisa dikembangkan menjadi kegiatan yang produktif,” tuturnya.
Kegiatan tersebut menghasilkan sejumlah materi praktis yang dapat diterapkan masyarakat, mulai dari pengolahan biomassa, biochar, asap cair, kompos, POC, budidaya tanaman dan ikan hingga inokulasi gaharu.
Kepala UPTD KPH Malinau Antonius Mangiwa mengatakan keterampilan tersebut penting bagi masyarakat yang telah memperoleh izin Perhutanan Sosial.
Penguatan kapasitas diperlukan agar masyarakat tidak hanya mampu mengelola kawasan, tetapi juga dapat mengembangkan kegiatan ekonomi dari potensi yang dimiliki.
“Bagi kami di KPH Malinau, kegiatan seperti ini sangat penting karena masyarakat Perhutanan Sosial perlu diperkuat kapasitasnya. Tidak hanya bagaimana mengelola kawasan, tetapi bagaimana potensi yang ada bisa dikembangkan menjadi usaha yang memberikan nilai tambah,” kata Antonius.
Antonius menilai keterlibatan ITB dan pihak lainnya dapat menjadi bagian dari penguatan pendampingan masyarakat di Desa Punan Mirau. Karena itu, KPH Malinau mendukung keberlanjutan kolaborasi tersebut.
“Kami menyambut baik kolaborasi melalui Program Desanesha ITB ini. Sinergi seperti ini membantu masyarakat mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru yang bisa mereka kembangkan sesuai dengan kondisi wilayahnya,” ujarnya.
Sementara itu, Project Officer KKI Warsi M. Nur Huda mengatakan pendampingan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Tahap berikutnya diarahkan pada penerapan teknologi dan keterampilan yang telah diperoleh masyarakat.
“Setelah pelatihan, yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mulai menerapkannya. Ada beberapa yang akan kita dampingi, seperti inokulan gaharu, pupuk organik, kompos, biochar, asap cair, budikdamber dan budidaya tanaman,” kata Huda.
Ia mengatakan keberhasilan program tidak dapat hanya dilihat dari jumlah kegiatan yang terlaksana. Kemampuan masyarakat dalam menerapkan pengetahuan, mengembangkan kelembagaan dan menemukan peluang usaha menjadi bagian yang akan didorong dalam pendampingan lanjutan.
“Pelatihan jangan berhenti sebagai pengetahuan saja. Kami akan terus mendampingi praktiknya, memperkuat kelompok, melihat peluang usaha sampai mencoba membuka akses pasar. Jadi hasilnya diharapkan benar-benar bisa dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Kolaborasi ITB, pemerintah daerah, KPH Malinau dan KKI Warsi tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan tridarma perguruan tinggi. Keahlian dari berbagai disiplin ilmu dipadukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah pedalaman dan kawasan hutan.
Anne mengatakan pengembangan potensi desa tetap harus berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan. Pemanfaatan hasil hutan, biomassa, bahan organik, tanaman dan sumber daya perairan perlu dikelola dengan mempertimbangkan keberlanjutan.
“Teknologi yang diberikan ini bisa menjadi bagian dari proses menuju kemandirian masyarakat Punan Mirau. Potensi lokal tetap bisa dimanfaatkan dan memberikan nilai ekonomi, tetapi pengelolaannya juga harus menjaga sumber daya alam agar tetap berkelanjutan,” pungkasnya. (*/saf)










