BULUNGAN, Headlinews.id – Sekitar delapan hektare lahan terbakar di Desa Apung, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Senin (17/8/2026). Api yang muncul sejak sore hari itu baru berhasil dikendalikan sekitar pukul 20.05 WITA malam tadi, setelah petugas gabungan melakukan pemadaman.
Komandan Yonif TP 880/Banuanta, Letkol Inf Khabibur Rosyad, S.S.T.Han., S.IP., M.I.P., mengatakan personel satuannya segera bergerak setelah menerima informasi kebakaran untuk membantu penanganan di lokasi. Dukungan tersebut dilakukan bersama unsur terkait guna mencegah api meluas.
Menurut Khabibur, kondisi lahan yang terbakar berupa semak belukar dan gambut membuat penanganan harus dilakukan dengan cepat. Personel juga melihat kondisi lapangan untuk menentukan dukungan yang dibutuhkan selama proses pemadaman.
“Begitu ada informasi, personel langsung bergerak ke lokasi. Kami melihat kondisi di lapangan dan kemudian menyesuaikan dukungan yang diperlukan untuk membantu proses pemadaman,” kata Khabibur.
Kebakaran terjadi di kawasan Jalan Poros Desa Apung dan pertama kali diketahui warga yang melintas. Api membakar tanaman liar, semak belukar hingga lahan gambut di kawasan dengan kondisi topografi berbukit.
Penanganan kemudian melibatkan personel Yonif TP 880/Banuanta bersama Polda Kaltara, Brimob Polda Kaltara, BPBD Bulungan, Manggala Agni, KPH Bulungan, Dinas Kehutanan dan warga Desa Apung. Yonif TP 880/Banuanta mengerahkan dua unit truk tangki untuk mendukung kebutuhan air selama pemadaman.
Keterlibatan lintas unsur menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran tersebut. Terlebih, kawasan Desa Apung dalam beberapa hari terakhir juga menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pemantauan karhutla di Bulungan.
Khabibur mengatakan penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan satu instansi. Kecepatan menerima informasi, pengerahan personel dan dukungan peralatan perlu berjalan bersamaan agar api tidak berkembang.
“Karhutla seperti ini membutuhkan kerja bersama. TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, unsur kehutanan dan masyarakat harus saling mendukung agar api bisa segera dikendalikan dan tidak meluas,” ujarnya.
Setelah dilakukan pemadaman selama beberapa jam, api berhasil dikendalikan sekitar pukul 20.05 WITA. Petugas tetap melakukan pengecekan di sekitar area yang terbakar untuk memastikan tidak terdapat titik api yang berpotensi kembali menyala.
Khabibur menegaskan, langkah setelah pemadaman juga penting karena bara yang tersisa dapat kembali memicu kebakaran, terutama pada lahan yang mudah terbakar. Karena itu, pemantauan perlu dilakukan secara berkelanjutan bersama unsur terkait.
“Setelah api padam, bukan berarti pekerjaan selesai. Kondisi lokasi tetap harus dipantau, terutama titik-titik yang berpotensi kembali menyala. Koordinasi dengan instansi terkait akan terus dilakukan,” katanya.
Selain respons ketika terjadi kebakaran, pencegahan juga menjadi bagian yang perlu diperkuat. Khabibur meminta masyarakat ikut menjaga wilayahnya dengan tidak melakukan pembakaran lahan serta segera menyampaikan informasi apabila menemukan titik api.
Langkah tersebut penting mengingat kejadian karhutla masih muncul di sejumlah wilayah Bulungan. BPBD Kaltara sebelumnya juga memperkuat kesiapsiagaan dengan pemetaan wilayah rawan, pemantauan titik panas dan koordinasi lintas instansi.
Khabibur menilai masyarakat menjadi bagian penting dalam sistem pencegahan karena informasi awal dari warga dapat mempercepat pergerakan petugas sebelum api membesar.
“Kalau masyarakat menemukan titik api, sekecil apa pun, segera laporkan kepada aparat atau instansi terdekat. Jangan menunggu api membesar. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula penanganannya,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya mempertahankan sinergitas antara Yonif TP 880/Banuanta dengan Polri, pemerintah daerah, Damkar, BPBD, unsur kehutanan dan masyarakat dalam menghadapi potensi karhutla di wilayah Kaltara.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya diperlukan saat pemadaman, tetapi juga dalam patroli, pemantauan wilayah, sosialisasi kepada masyarakat serta pencegahan sejak munculnya indikasi awal kebakaran.
“Sinergitas ini harus terus kita jaga. Kami siap bersama Polri, pemerintah daerah, Damkar, BPBD, unsur kehutanan dan masyarakat untuk menjaga wilayah Kaltara tetap aman dan kondusif. Pencegahan akan jauh lebih baik daripada membiarkan api berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar,” pungkas Khabibur.(rs)









