TARAKAN, Headlinews.id – Ratusan peserta didik Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan dari jenjang PAUD hingga Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C mengikuti kegiatan pelepasan tahun ajaran 2025–2026 yang juga dirangkai dengan pentas seni, Senin (15/6/2026).
SKB atau Sanggar Kegiatan Belajar merupakan satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan layanan pendidikan kesetaraan, seperti Paket A setara SD, Paket B setara SMP, Paket C setara SMA, serta layanan PAUD nonformal.
SKB Kota Tarakan berada di bawah naungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) di bawah Dinas Pendidikan yang bertugas mengelola layanan pendidikan nonformal di daerah.
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, mengatakan pada tahun ini SKB meluluskan 18 peserta didik PAUD, 5 orang Paket A, 24 orang Paket B, dan 30 orang Paket C.
Menurutnya, pendidikan kesetaraan tidak hanya menekankan penyelesaian jenjang belajar, tetapi juga membuka peluang bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jalur formal apabila memungkinkan.
“Kalau Paket A, kami arahkan jika memungkinkan mereka bisa melanjutkan ke SMP. Jadi tidak hanya di jalur nonformal, tetapi juga terbuka kesempatan kembali ke pendidikan formal. Kami memang selalu memberikan motivasi kepada mereka setelah lulus dari SKB, mereka masih punya banyak pilihan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Meraih Impian” yang dimaknai sebagai penguatan motivasi bagi peserta didik yang sebelumnya sempat putus sekolah.
Patmaria menjelaskan, peserta didik SKB bukan gagal dalam pendidikan formal, melainkan belum menemukan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Bukan karena mereka gagal, tetapi mungkin mereka belum menemukan metode pembelajaran yang sesuai dengan diri mereka di sekolah formal. Kami berusaha menguatkan kembali semangat mereka agar tetap percaya diri dan mampu meraih cita-cita,” katanya.
Selain prosesi pelepasan, kegiatan juga dirangkai dengan pentas seni yang menampilkan kreativitas peserta didik, termasuk pertunjukan drama yang dikembangkan sendiri oleh peserta didik dari naskah yang sebelumnya disiapkan tutor.
Hal tersebut menunjukkan adanya ruang kreativitas dalam proses pembelajaran di SKB.
“Anak-anak juga mampu mengembangkan sendiri pertunjukan yang mereka tampilkan, dan dari situ terlihat kreativitas serta kerja sama mereka cukup baik,” ujarnya.
Patmaria menambahkan, penilaian kelulusan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mencakup keaktifan, kreativitas, dan perkembangan peserta didik selama proses pembelajaran.
Ia menegaskan, peserta didik SKB menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti proses pembelajaran, termasuk tetap hadir meski dalam kondisi tertentu seperti hujan maupun hari libur.
“Anak-anak ini luar biasa, mereka tetap antusias mengikuti kegiatan pembelajaran,” katanya.
Patmaria berharap para lulusan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, memasuki dunia kerja, atau mengembangkan potensi diri, serta tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan di SKB.
“Lulus dari SKB bukan akhir, tetapi awal untuk menjadi lebih baik,” pungkasnya. (*/saf)










