TARAKAN, Headlinews.id – Dua jemaah haji asal Kota Tarakan dari Kloter 7 Debarkasi Balikpapan membagikan pengalaman selama menjalankan rangkaian ibadah haji 1447 H/2026 M di Tanah Suci.
Keduanya menggambarkan perjalanan spiritual tersebut sebagai pengalaman penuh tantangan, namun tetap dapat dilalui dengan baik berkat dukungan petugas dan kesiapan penyelenggaraan haji.
Salah satu jemaah, Ari Wibowo, menyebut secara umum pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar sejak di Madinah hingga Makkah.
Ia menilai keberadaan petugas haji Indonesia yang tersebar di berbagai titik sangat membantu jemaah dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah, terutama dalam hal mobilitas dan arahan di lapangan.
“Selama ibadah semuanya berjalan lancar. Untuk seluruh rangkaian haji Kota Tarakan juga berjalan baik. Petugas di sana tersebar di titik-titik ibadah, selalu ada petugas Indonesia. Jadi kemungkinan jemaah tersesat itu kecil karena selalu ada yang membantu,” ujarnya, usai tiba di Islamic Center Baitul Izzah Tarakan, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat jemaah merasa lebih aman dan terbantu, terutama dalam situasi kepadatan saat pelaksanaan ibadah di Masjidil Haram maupun lokasi-lokasi ritual lainnya.
Pria berusia 36 tahun itu menambahkan, sistem pengaturan berbasis maktab juga membantu mengurangi potensi penumpukan jemaah.
“Tidak berdesakan karena kita dijadwalkan. Setiap negara punya jadwal melontar jumrah yang sudah ditentukan dan diatur maktab masing-masing, jadi sesuai regulasi Arab Saudi. Semua aman,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui terdapat tantangan cukup berat pada fase pergerakan jemaah di Armuzna, khususnya dari Muzdalifah menuju Mina. Pada fase tersebut, jemaah harus menunggu cukup lama akibat keterlambatan distribusi bus pengangkut.
“Di Muzdalifah kami menunggu sekitar 4 sampai 5 jam untuk diangkut ke Mina. Itu yang jadi catatan, karena koordinasi antara petugas dan maktab kurang, sehingga pengangkutan agak lambat,” jelasnya.
Ari yang beralamat di Mulawarman ini juga menambahkan, waktu keberangkatan yang berlangsung dari tengah malam hingga menjelang pagi membuat kondisi jemaah cukup melelahkan, meski tetap dapat diatasi dengan kesabaran dan saling membantu antarjemaah.
Sementara itu, jemaah lainnya, Asmauliah, menuturkan rangkaian ibadah haji memberikan banyak pelajaran kesabaran, terutama saat berada di kawasan Mina yang memiliki keterbatasan fasilitas dibanding jumlah jemaah yang sangat besar.
“Di Mina itu cobaannya besar, sebagian tidak dapat tempat. Toilet juga terbatas sementara orangnya banyak. Jadi antre bisa sampai 2 sampai 3 jam, baik untuk kebutuhan kecil maupun besar,” ujarnya.
Ia juga menggambarkan kondisi tempat istirahat yang cukup terbatas, sehingga jemaah harus beradaptasi dengan situasi yang ada. Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari ujian kesabaran dalam menjalankan ibadah haji.
“Tempat tidur pun terbatas, kadang kita duduk saja sudah bersyukur. Tapi di situ kita belajar sabar, merasakan apa yang dirasakan semua orang, tidak ada perbedaan,” katanya.
Asmauliah juga menyebutkan, salah satu momen paling menantang adalah saat lempar jumrah, yang memerlukan perjalanan cukup jauh dengan total jarak tempuh mencapai sekitar 10 kilometer pulang-pergi dalam beberapa hari pelaksanaan.
“Tantangan terberat itu lempar jumrah. Pulang-pergi bisa sekitar 10 kilometer dalam tiga hari berturut-turut. Tapi alhamdulillah bisa dijalani,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan fisik dan cuaca ekstrem, ia mengaku kondisi kesehatan secara umum tetap terjaga. Ia hanya sempat mengalami gangguan ringan seperti pilek selama dua hari, yang kemudian membaik setelah mendapatkan penanganan.
“Alhamdulillah sempat pilek dua hari saja, setelah itu sudah membaik. Kami juga minum air zamzam dan banyak berdoa agar diberi kesehatan,” katanya.
Ia juga menggambarkan kondisi cuaca di Madinah yang sangat panas, bahkan terasa seperti berhadapan dengan panas yang menyengat. Namun, menurutnya, ketenangan hati membuat seluruh rangkaian ibadah tetap dapat dijalani dengan baik.
“Di Madinah panasnya seperti berhadapan dengan bara api. Tapi karena hati kita tenang, semuanya terasa lebih ringan,” ujarnya.
Terkait pelayanan, Asmauliah menilai secara umum penyelenggaraan ibadah haji cukup baik, terutama dari sisi transportasi. Ia menyebut layanan bus salawat berjalan lancar dan membantu mobilitas jemaah selama berada di Tanah Suci.
Selain itu, ia juga menyoroti aturan pembatasan bagasi yang sempat menjadi perhatian jemaah. Menurutnya, aturan tersebut sempat membingungkan, namun pada akhirnya dapat dipahami sebagai bagian dari ketentuan resmi penyelenggaraan haji.
“Tapi, alhamdulillah semuanya lancar. Transportasi bus salawat juga bagus, semuanya berjalan baik,” tandasnya. (saf)










