TARAKAN, Headlinews.id– Kedatangan ratusan sapi ke Kota Tarakan langsung direspons dengan pengawasan berlapis oleh Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara untuk memastikan keamanan sebelum ternak didistribusikan.
Paramedik BKHIT Kaltara, Bambang Suryono Nadi menyebut sebanyak 420 ekor sapi yang tiba saat ini ditempatkan di tiga lokasi kandang penampungan, yakni dua titik di kawasan Pasir Putih, Jalan Bhayangkara, serta satu lokasi di Jalan Hake Babu.
“Setiap sapi yang datang langsung kami lakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk pengambilan sampel darah untuk memastikan kondisinya tetap aman sebelum disalurkan,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Tahapan pemeriksaan diawali dengan pengecekan fisik hewan, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah yang akan diuji di laboratorium.
Pengujian tersebut difokuskan pada sejumlah penyakit hewan menular yang menjadi perhatian, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), brucellosis, serta parasit darah.
“Risiko itu bisa muncul dari berbagai faktor, termasuk selama perjalanan. Karena itu, pengawasan tetap dilakukan saat hewan tiba di lokasi tujuan,” katanya.
Hasil uji laboratorium diperkirakan keluar dalam beberapa hari dan menjadi dasar penentuan kelayakan distribusi ternak ke masyarakat.
Meski telah melalui pemeriksaan di daerah asal, karantina tetap melakukan pengujian ulang setibanya di Tarakan sebagai bagian dari sistem biosekuriti.
“Risiko penularan tidak hanya berasal dari hewan, tetapi juga bisa dari alat angkut atau lingkungan selama perjalanan, sehingga pemeriksaan ulang tetap diperlukan,” jelasnya.
Selain pengujian kesehatan, setiap sapi juga dilengkapi tanda identifikasi berupa ear tag yang terhubung dengan sistem pelacakan.
Langkah ini memudahkan penelusuran apabila ditemukan indikasi penyakit, sekaligus memastikan distribusi ternak tetap terkontrol.
“Setiap sapi dilengkapi penanda khusus yang memudahkan penelusuran. Jadi kalau ada temuan, asalnya bisa langsung diketahui,” ungkapnya.
Sejauh ini, hasil pemantauan awal menunjukkan kondisi ternak dalam keadaan baik dan belum ditemukan indikasi penyakit menular yang signifikan.
Pengawasan akan terus dilakukan hingga seluruh proses pengujian selesai dan ternak dinyatakan aman untuk diedarkan.
“Pengawasan ini kami lakukan secara menyeluruh agar ternak yang beredar benar-benar sehat dan aman dikonsumsi masyarakat,” tutup Bambang. (saf)










