TARAKAN, Headlinews.id – Risiko penyebaran penyakit pada sapi yang masuk ke Tarakan diantisipasi dengan karantina menyeluruh, termasuk pengawasan satu koloni ternak dalam satu waktu.
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara menerapkan skema pengawasan tersebut di lokasi penampungan sebagai langkah pencegahan terhadap potensi penularan penyakit hewan menular.
Paramedik BKHIT Kaltara, Bambang Suryono Nadi menjelaskan penanganan langsung diberlakukan begitu ditemukan indikasi gangguan kesehatan pada ternak.
“Kalau ada indikasi, tidak ditangani satu per satu. Satu koloni langsung masuk karantina supaya risikonya bisa dikendalikan,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, sapi tidak langsung dilepas ke pasar, melainkan harus menjalani masa pengawasan dengan pengujian ulang secara bertahap.
“Bisa saja nanti disalurkan, tapi harus melalui karantina dulu. Sampel diambil kembali, minimal satu minggu, lalu diuji lagi sampai hasilnya dinyatakan aman,” katanya.
Durasi karantina dapat berlangsung hingga dua pekan atau lebih, tergantung hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang diambil.
Jika hasil uji masih menunjukkan indikasi penyakit, masa pengawasan akan diperpanjang hingga ternak benar-benar dinyatakan sehat.
“Kalau belum aman, tidak akan dilepas. Karantina diperpanjang sampai kondisinya benar-benar sesuai standar kesehatan,” tegasnya.
Selain pengawasan, penanganan medis juga disiapkan bagi sapi yang mengalami gangguan kesehatan selama masa karantina.
“Kalau ada yang sakit, langsung ditangani. Pengobatannya difasilitasi tanpa biaya supaya kondisinya bisa kembali normal,” jelasnya.
Pengambilan sampel dilakukan secara acak, dengan perhatian khusus pada ternak yang menunjukkan gejala atau perubahan kondisi fisik.
Pendekatan ini digunakan untuk mempercepat deteksi dini terhadap potensi penyakit di dalam satu kelompok ternak.
Sapi yang masuk ke Tarakan diketahui berasal dari luar daerah dan didatangkan secara bertahap sesuai kebutuhan distribusi.
Dari total rencana sekitar 1.500 ekor, saat ini baru sekitar 700 ekor yang telah tiba dan menjalani proses pemeriksaan di kandang penampungan.
Pengawasan akan terus dilakukan setiap ada pemasukan ternak baru sebagai bagian dari prosedur rutin karantina.
“Setiap pengiriman pasti kami periksa lagi. Ini langkah pengendalian supaya ternak yang beredar tetap sehat dan aman,” tutup Bambang. (saf)










