TARAKAN, Headlinews.id – PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Tarakan mulai mengembangkan budidaya kepiting bakau sebagai program pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Program tersebut diawali dengan pelatihan dan disiapkan untuk berlanjut pada penyediaan sarana pendukung bagi kelompok masyarakat.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun mengatakan, program tersebut disusun setelah Pertamina memetakan potensi yang dapat dikembangkan di wilayah Tarakan. Pemetaan dilakukan tim FT Tarakan bersama konsultan melalui social mapping.
“Acara ini sebenarnya adalah program daripada teman-teman di Field Terminal Tarakan. Pada prinsipnya ini adalah bagian daripada tanggung jawab sosial perusahaan terhadap wilayah di sekitar daerah operasional,” kata Edi, Senin (10/10/2026).
Dari pemetaan tersebut, kepiting bakau menjadi salah satu potensi yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan. Pertamina kemudian memulai tahapan program dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat yang akan terlibat dalam kegiatan budidaya.
“Berdasarkan hasil social mapping yang dilakukan oleh teman-teman Field Tarakan dengan teman-teman dari konsultan, yang berpotensi untuk dikembangkan di sini sebagai potensi daerah di Tarakan adalah kepiting bakau. Hari ini kami mulai dengan adanya pelatihan budidaya,” ujarnya.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum program masuk pada tahap penguatan fasilitas. Pertamina menyiapkan sarana penunjang agar masyarakat dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan mengembangkan kegiatan budidaya di lokasi yang nantinya ditentukan.
“Setelah pelatihan ini, selanjutnya akan juga kami siapkan fasilitas-fasilitas penunjang di mana warga atau para anggota kelompok ini bisa memulai untuk memelihara dan membudidayakan kepiting yang ada di wilayah yang nanti, lokasi yang nanti ditentukan,” tutur Edi.
Pertamina juga menggandeng kelompok masyarakat yang telah memiliki pengalaman dalam kegiatan budidaya. Pendekatan tersebut dilakukan agar program dapat disesuaikan dengan kemampuan masyarakat dan memiliki peluang untuk terus berjalan setelah tahap awal selesai.
Pengembangan budidaya kepiting bakau tersebut diarahkan untuk menghasilkan kegiatan produktif yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pertamina tidak menempatkan pelatihan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai bekal agar kelompok mampu mengembangkan kegiatan budidaya secara mandiri.
Edi mengatakan, program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan pada akhirnya diarahkan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan dan membangun kemampuan mereka dalam mengelola potensi yang ada.
“Kalau kita bicara TJSL ini ujung-ujungnya adalah menciptakan kemandirian. Kemandirian bagi masyarakat itu sendiri, bagaimana kemudian dari apa yang kita lakukan hari ini berdampak kepada mereka bisa mandiri untuk tumbuh mengembangkan apa yang dilatih hari ini dan kemudian berdampak pada kemandirian ekonomi,” katanya.
Pemilihan Tarakan sebagai lokasi program juga berkaitan dengan kebijakan TJSL BUMN yang memprioritaskan wilayah Ring 1 dari operasional perusahaan. Edi menyebut pendekatan tersebut diterapkan sebagai dasar dalam menentukan wilayah pelaksanaan program.
“Di setiap lokasi kami ada, karena seperti diatur dalam ketentuan Menteri BUMN, bahwa wilayah Ring 1 dari operasional itu menjadi konsen utama untuk kita melakukan upaya TJSL. Itu makanya Tarakan,” jelasnya.
Pengembangan program nantinya dapat diperluas ke wilayah Ring 2 maupun Ring 3 apabila program di wilayah prioritas telah mampu berjalan secara mandiri. Perluasan tersebut tetap disesuaikan dengan ketentuan Kementerian BUMN.
Tahapan tersebut diharapkan membuat budidaya kepiting bakau tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi berkembang menjadi aktivitas yang mampu dikelola masyarakat dan memberikan hasil ekonomi.
“Bagaimana kemudian dari apa yang kita lakukan hari ini berdampak kepada mereka bisa mandiri untuk tumbuh mengembangkan apa yang dilatih hari ini dan kemudian berdampak pada kemandirian ekonomi,” pungkas Edi. (rs)










