TARAKAN, Headlinews.id – Status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang disandang Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Tarakan memberi keleluasaan dalam pengelolaan layanan. Namun, skema tersebut menuntut pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang lebih cermat karena sebagian besar biaya operasional ditanggung secara mandiri.
Kepala Labkesda Tarakan, Sri Wahyuni, mengatakan operasional lembaganya tidak bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dukungan APBD hanya digunakan untuk membiayai gaji aparatur sipil negara (ASN), tambahan penghasilan pegawai (TPP), serta beberapa komponen tertentu.
“Dalam melaksanakan operasional kegiatan, kami tidak dari APBD. Artinya kami beroperasional dengan anggaran murni BLUD. Kecuali gaji ASN dan TPP yang masih ditanggung APBD, selain daripada itu seluruh kegiatan operasional kami tanggung melalui dana BLUD,” ujarnya.
Menurut Sri Wahyuni, kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengelolaan tenaga kerja. Penambahan personel harus disesuaikan dengan kemampuan pembiayaan karena akan berdampak langsung terhadap biaya operasional yang dikelola melalui BLUD.
“Dengan adanya BLUD, saat tenaga ditambah menggunakan anggaran sendiri otomatis akan menambah biaya operasional. Semakin banyak tenaga, biaya operasional kita juga akan meningkat dan menjadi beban tersendiri bagi BLUD,” katanya.
Saat ini Labkesda Tarakan memiliki 15 SDM. Sebanyak enam orang di antaranya merupakan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) atau analis kesehatan, yang terbagi pada layanan laboratorium klinik dan laboratorium kesehatan lingkungan. Sementara personel lainnya bertugas pada bidang administrasi, pelayanan, dan fungsi pendukung operasional.
Meski jumlah SDM yang ada belum sepenuhnya ideal, Labkesda masih mampu menjalankan pelayanan secara efektif dengan mengoptimalkan tenaga yang tersedia.
“Kalau ideal sebenarnya masih jauh dengan ideal. Tetapi dengan kapasitas pemeriksaan yang sekarang alhamdulillah masih bisa efektif,” ungkapnya.
Optimalisasi tenaga dilakukan dengan memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target pelayanan. Hingga saat ini, seluruh sampel yang masuk masih dapat ditangani tanpa harus ditunda hingga hari berikutnya.
“Sementara yang ada ini kita optimalkan. Beban pekerjaan masih kita anggap mencukupi atau dalam batas kewajaran,” ujarnya.
Sri Wahyuni menambahkan, kemampuan menyelesaikan seluruh sampel pemeriksaan dalam hari yang sama menjadi salah satu indikator, kapasitas SDM yang ada masih mampu mendukung operasional laboratorium.
“Dengan adanya sampel yang dalam satu hari bisa kita selesaikan dan tidak ada sampel yang terpending untuk besoknya, itu berarti pekerjaan kita sudah optimal,” tutupnya. (saf)










