TARAKAN, Headlinews.id– Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di PAUD Unit Pelaksana Teknis (UPT) Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan tidak hanya dimanfaatkan untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru.
Pada pekan pertama belajar, guru juga melakukan asesmen awal guna mengenali karakter, kebiasaan, kondisi awal, hingga kebutuhan belajar setiap anak.
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, mengatakan rangkaian MPLS diawali dengan pengenalan lingkungan sekolah. Anak-anak diperkenalkan dengan ruang-ruang yang ada di sekolah, para guru, serta kepala sekolah agar lebih mudah beradaptasi dengan suasana belajar yang baru.
“Untuk PAUD yang pasti pengenalan lingkungan sekolah. Anak-anak dikenalkan dengan lingkungan sekolah, guru-gurunya siapa, kepala sekolahnya siapa. Selama MPLS guru juga melakukan asesmen awal terhadap setiap anak,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Selain pengenalan lingkungan, guru juga mulai mengamati kondisi awal setiap peserta didik, termasuk perkembangan dan aspek kesehatan yang berkaitan dengan proses belajar.
Hasil pengamatan tersebut menjadi dasar dalam menentukan pendekatan pembelajaran selama satu tahun ajaran.
“Guru melihat seperti apa kondisi anak-anak tahun ini. Kalau ada anak yang membutuhkan perhatian pada aspek tertentu, pembelajaran yang diberikan nantinya disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” katanya.
Patmaria menjelaskan, proses mengenali karakter peserta didik sebenarnya telah dimulai sejak tahap pendaftaran.
Orang tua diminta mengisi formulir yang memuat informasi mengenai karakter anak, kebiasaan di rumah, hingga hal-hal yang perlu diketahui guru sebelum kegiatan belajar dimulai.
“Saat pendaftaran kami sebenarnya sudah melakukan asesmen. Di dalam formulir sudah kami masukkan pertanyaan mengenai karakter anak dan kebiasaan mereka di rumah. Itu menjadi informasi awal bagi guru,” jelasnya.
Menurutnya, informasi dari orang tua dipadukan dengan hasil asesmen selama MPLS sehingga guru memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai setiap peserta didik.
Pendekatan tersebut memudahkan guru menyusun kegiatan belajar yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.
Selain melalui asesmen, proses adaptasi peserta didik juga menjadi perhatian selama masa awal masuk sekolah. Patmaria menyebut anak-anak PAUD di SKB relatif cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Orang tua mengantar anak ke sekolah, kemudian memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti kegiatan bersama guru dan teman-temannya. Menurutnya, kemandirian anak menjadi salah satu hal yang terlihat sejak awal pembelajaran dimulai.
“Satu keuntungan kami di sini, anak-anak di sini mandiri. Dari awal masuk hari pertama yang menangis hanya satu, tetapi itu pun tidak lama. Setelah itu mereka sudah berhenti dan bermain,” ungkapnya.
Patmaria menegaskan setiap anak memiliki karakter dan perkembangan yang berbeda. Proses pembelajaran tidak dapat disamaratakan, melainkan harus disesuaikan agar anak merasa nyaman mengikuti kegiatan belajar sejak hari pertama.
“Kami lebih menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan anak. Setiap anak berbeda, jadi guru harus memahami kondisi mereka sejak awal agar pembelajaran yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” tutupnya. (*/saf)










