TARAKAN, Headlinews.id – Penyakit Leptospirosis masih ditemukan di Kota Tarakan dengan sejumlah kasus yang tercatat dalam periode Januari hingga Mei tahun ini. Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap gejala awal penyakit ini, terutama bagi warga yang memiliki aktivitas di lingkungan berisiko seperti area lembab atau banyak tikus.
Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Irsal, SKM., MKM, mengatakan, pihaknya mencatat adanya kasus leptospirosis pada tahun ini yang sempat dirawat di rumah sakit dan telah mendapatkan penanganan medis dengan baik.
Dari laporan yang diterima, pasien kemudian menunjukkan perbaikan kondisi setelah menjalani perawatan hingga akhirnya diperbolehkan pulang karena dinyatakan membaik.
“Tahun ini ada dua ya. Minggu lalu salah satunya sempat dirawat di rumah sakit, tapi alhamdulillah sudah membaik dan sudah keluar dari rumah sakit,” ujarnya.
Ia menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari tikus yang masuk ke tubuh manusia melalui lingkungan yang terkontaminasi.
Penularan paling umum terjadi ketika urin tikus mencemari air atau tanah, kemudian masuk ke tubuh melalui luka terbuka, terutama pada bagian kaki atau kulit yang tidak terlindungi saat beraktivitas di lingkungan yang kotor atau lembab.
“Kalau leptospirosis ini awal masuknya ke dalam tubuh melalui luka ya, biasanya luka di kaki atau bagian tubuh lain yang terbuka dan terkena kontaminasi dari urin tikus yang ada di lingkungan,” jelasnya.
Gejala awal leptospirosis sering kali tidak spesifik sehingga sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lain. Penderita biasanya mengalami demam, tubuh terasa lemas, serta kadang disertai batuk dan pilek.
Namun, terdapat gejala yang lebih khas dan perlu diwaspadai, yaitu perubahan warna kulit dan mata menjadi kuning akibat gangguan fungsi ginjal.
“Kalau leptospirosis itu biasanya diawali demam, badan lemas, kadang juga disertai batuk pilek, tapi yang khas itu sampai matanya kuning, kulitnya juga kuning. Itu yang membedakan dengan penyakit lain,” katanya.
Ia menambahkan, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius apabila tidak segera ditangani karena dapat menyerang ginjal dan menyebabkan gangguan fungsi hingga gagal ginjal. Deteksi dan penanganan dini menjadi sangat penting untuk mencegah kondisi pasien semakin parah.
“Kalau tidak ditangani cepat, bisa menyebabkan gagal ginjal karena memang menyerang organ ginjal, jadi harus segera ditangani sejak awal,” ujarnya.
Risiko penularan leptospirosis juga meningkat pada kondisi lingkungan yang banyak tikus, terutama saat musim banjir atau di wilayah yang lembab dan kurang bersih.
Kondisi tersebut membuat urin tikus lebih mudah menyebar dan mencemari lingkungan tanpa disadari masyarakat yang beraktivitas di area tersebut.
Pihaknya juga terus melakukan pengawasan melalui sistem surveilans serta pelaporan kasus ke Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan, terutama di wilayah yang memiliki potensi risiko tinggi terhadap penyakit zoonosis ini.
“Setiap kasus yang mengarah ke leptospirosis kita laporkan ke SKDR, yaitu sistem kewaspadaan dini dan respons, supaya bisa dipantau dan ditindaklanjuti lebih lanjut,” jelasnya.
Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama jika mengalami gejala setelah terpapar lingkungan berisiko.
Menurutnya, pemeriksaan dini di fasilitas kesehatan menjadi langkah paling efektif untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
“Kalau ada demam setelah kontak dengan lingkungan yang banyak tikus atau air kotor, sebaiknya segera ke puskesmas untuk diperiksa supaya bisa cepat ditangani,” pungkasnya. (saf)










