DI PEDALAMAN hutan Desa Metut, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Kabupaten Malinau, langkah kaki Lungo tak pernah benar-benar jauh dari rimba. Sejak muda, lelaki itu menggantungkan hidup dari mengusa—masuk ke dalam hutan untuk mencari gaharu. Kayu harum bernilai tinggi tersebut selama bertahun-tahun menjadi harapan banyak masyarakat di Desa Metut.
KKI Warsi untuk Headlinews.id
Namun, hutan kini tak lagi seramah dulu. Maraknya perburuan gaharu menyebabkan pohon gaharu semakin sulit ditemukan. Untuk mendapatkan sedikit resin gaharu, Lungo harus berjalan lebih dalam ke hutan, menembus lebatnya semak, sungai, dan bukit selama berminggu-minggu. Bekal makanan, peralatan, hingga biaya perjalanan kerap lebih besar dibanding hasil yang dibawa pulang. Tak jarang ia kembali ke rumah dengan tangan kosong.
Meski begitu, Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Gaharu itu tidak menyerah pada keadaan. Dari pengalaman pahit keluar-masuk hutan, tumbuh keinginan untuk mencoba jalan lain. Perlahan, ia mulai membudidayakan gaharu secara mandiri di kebunnya sendiri. Ratusan pohon gaharu jenis lelah—sebutan lokal untuk Aquilaria malaccensis—kini tumbuh berjajar di lahannya. Pohon-pohon itu menjadi simbol harapan baru bagi masa depan keluarganya.
Enam tahun berlalu, pohon gaharu miliknya telah mencapai diameter sekitar 15 sentimeter dan siap diinokulasi agar menghasilkan resin gaharu bernilai ekonomi tinggi. Namun, pengetahuan mengenai cara membuat inokulan masih menjadi tantangan besar baginya.
Cerita serupa datang dari Ibung Kelit, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Metut. Dengan pengetahuan turun-temurun yang dimiliki, ia mencoba cara tradisional untuk memancing keluarnya resin gaharu. Menggunakan parang, ia melukai batang pohon dengan harapan gaharu yang “sakit” akan melakukan pertahanan alami dan menghasilkan resin harum. Akan tetapi, harapan itu tidak selalu berjalan sesuai kenyataan. Bukannya menghasilkan resin berkualitas, metode tersebut justru sering menurunkan kualitas kayu gaharu itu sendiri.
Di tengah keterbatasan masyarakat desa yang hidup jauh dari akses teknologi dan informasi, secercah harapan datang ke Desa Metut, wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) tersebut.
Selama tiga hari, pada 30 April hingga 2 Mei 2026, Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) di desa itu. Kegiatan dipimpin Dr. Ir. Mustika Dewi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB selaku ketua Pengmas bersama tim dosen dan mahasiswa yang membawa berbagai inovasi teknologi tepat guna untuk mendukung pemberdayaan masyarakat desa.
Kegiatan Pengmas ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan serta mendorong pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi wilayah. Program tersebut didanai Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, UPTD KPH Malinau, dan KKI Warsi.
Selama pelaksanaan kegiatan, berbagai pelatihan dan praktik langsung diberikan kepada masyarakat oleh tim dosen dan mahasiswa SITH ITB serta mitra dari Universitas Borneo Tarakan (UBT). Materi yang disampaikan mencakup berbagai teknologi tepat guna yang relevan dengan kondisi lokal.
Dalam bidang pengembangan gaharu, masyarakat mendapat pelatihan pembuatan inokulan gaharu yang dipandu Dr. Ir. Mustika Dewi serta teknologi injeksi inokulan gaharu oleh Anca Awal Sembada, Ph.D. Kedua materi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi pohon gaharu melalui teknik budidaya yang lebih efektif.
Selain itu, teknologi pengolahan biomassa juga menjadi fokus melalui pelatihan pirolisis untuk menghasilkan biochar dan asap cair yang dibawakan Dr. Ir. Anne Hadiyane bersama Hadimanah Fikrudien Bahtiar. Pemanfaatan hasil olahan tersebut untuk mendukung pertumbuhan tanaman dijelaskan lebih lanjut oleh Dr. Ir. Alfi Rumidatul, sehingga masyarakat dapat memahami aplikasi langsung dalam kegiatan pertanian.
Dalam upaya meningkatkan kesuburan tanah secara mandiri, masyarakat juga dilatih membuat pupuk cair dan pupuk kompos oleh Dr. Ir. Atmawi Darwis. Sementara itu, untuk diversifikasi produk dan peningkatan nilai tambah hasil perikanan lokal, Imra, S.Pi., M.Si. dari Universitas Borneo Tarakan memberikan pelatihan pembuatan olahan ikan.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat Desa Metut yang aktif terlibat dalam setiap sesi pelatihan dan diskusi. Pendekatan partisipatif yang diterapkan memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan lokal.
Melalui kegiatan Pengmas ini, masyarakat Desa Metut diharapkan mampu mengembangkan keterampilan baru yang aplikatif, meningkatkan kesejahteraan ekonomi, serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil menjadi kunci penting dalam mendorong pembangunan daerah 3T yang inklusif dan berdaya saing.
Asan Kila, peserta pelatihan pembuatan inokulan gaharu, mengaku senang karena tantangan membudidayakan gaharu kini mulai menemukan titik terang. Ia mengatakan masyarakat sudah mulai mampu membuat inokulan gaharu secara mandiri menggunakan bahan lokal.
“Sekarang saya tidak perlu mengusa lagi untuk mendapatkan gaharu. Mudah-mudahan kami bisa membuat inokulan sendiri dan gaharu yang sudah kami tanam bisa kami suntik secara mandiri,” ujarnya.
Tiarma Rezeki Manalu, fasilitator desa dari KKI Warsi, bersama penyuluh kehutanan Ali Muhammad Akbar dan Indah Wahyuni Madila akan melakukan pendampingan intensif kepada masyarakat. Menurut Tiarma, kegiatan pelatihan tidak berhenti hanya pada proses belajar selama pelaksanaan kegiatan berlangsung. Baginya, pengetahuan yang ditinggalkan tanpa pendampingan ibarat benih yang ditebar di tanah kering—memiliki harapan untuk tumbuh, tetapi mudah layu sebelum berkembang. Karena itu, pendampingan lanjutan menjadi jalan untuk menjaga harapan tersebut tetap hidup dan berakar di tengah masyarakat.
“Pasca-pelatihan ini, kami akan melakukan pendampingan intensif kepada masyarakat melalui uji coba pembuatan inokulan gaharu, olahan ikan, biochar, dan pupuk organik sebagai tindak lanjut kegiatan,” ujar Tiarma.
Ia menjelaskan, pendampingan tersebut bertujuan agar masyarakat Desa Metut mampu memenuhi kebutuhan inokulan gaharu secara mandiri, bahkan ke depan dapat merambah pasar yang lebih luas. Selain meningkatkan kapasitas masyarakat, pendampingan juga diharapkan melahirkan kader di tingkat desa yang nantinya dapat menjadi penggerak sekaligus berbagi pengetahuan kepada KUPS gaharu di desa lain.
Kehadiran tim ITB bukan sekadar membawa materi pelatihan, tetapi juga membuka ruang harapan baru bagi masyarakat seperti Lungo dan Ibung Kelit. Di desa yang selama ini akrab dengan keterbatasan, masyarakat mulai diperkenalkan pada teknik inokulasi modern untuk menghasilkan resin gaharu secara lebih optimal dan berkelanjutan.










