TARAKAN, Headlinews.id – Kabut asap kembali menyelimuti Tarakan setelah kondisi udara sempat membaik usai hujan turun beberapa hari terakhir. Hingga Kamis (17/9/2026), kabut asap masih terlihat cukup pekat hingga siang hari, dengan kondisi tersebut berpotensi dipengaruhi asap karhutla dari sejumlah wilayah di selatan Kalimantan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, mengatakan perubahan kondisi udara tersebut berkaitan dengan dinamika cuaca dan pergerakan massa udara. Sebelumnya, hujan sempat membuat kondisi udara lebih bersih dan jarak pandang di Tarakan mencapai sekitar 8 kilometer. Namun, asap dari wilayah lain masih berpotensi terbawa menuju Kaltara.
“Tarakan dan beberapa wilayah Kaltara kemarin memang sudah hujan dan kondisinya sempat cukup bersih, jarak pandang mencapai 8 kilometer. Tetapi di Kalteng, Kaltim dan Kalsel hotspot masih tinggi. Angin dominan bergerak dari selatan ke utara, sehingga asap dari wilayah tersebut bisa terbawa ke Kaltara, termasuk Tarakan,” ujar Sulam.
Menurut dia, pola angin yang dominan bergerak dari selatan menuju utara menjadi salah satu faktor yang memungkinkan asap dari Kaltim, Kalteng dan Kalsel terbawa hingga Tarakan. Kondisi tersebut juga membuat kabut asap dapat kembali terlihat ketika massa udara dari wilayah sumber bergerak ke arah utara.
Karhutla yang terjadi di Bulungan, lanjut Sulam, tidak menjadi sumber utama kabut asap yang terlihat di Tarakan. Selain jumlahnya tidak signifikan, arah pergerakan angin juga membuat asap dari wilayah tersebut tidak secara langsung bergerak menuju Tarakan.
“Memang di Bulungan sampai kemarin ada peristiwa karhutla, tetapi tidak signifikan menyumbang asap. Arah anginnya juga lebih ke utara, bukan ke timur menuju Tarakan,” katanya.
Kondisi kabut asap dapat berubah sepanjang hari mengikuti kecepatan dan arah angin. Pada pagi hari, ketika angin masih relatif tenang, partikel asap cenderung lebih terkonsentrasi di lapisan udara dekat permukaan. Ketika angin menguat, partikel tersebut kemudian dapat terbawa ke wilayah lain.
“Kalau pagi terlihat lebih pekat, itu karena anginnya masih cenderung kalem. Ada proses pemanasan dan pergerakan udara, tetapi partikel asap tidak langsung naik tinggi sehingga masih berada di lapisan udara yang rendah. Setelah angin mulai menguat, asap ikut terbawa dan konsentrasinya bisa berubah,” jelasnya.
Meski demikian, perubahan kecepatan angin tidak serta-merta membuat kondisi udara kembali bersih. Jika angin kembali membawa massa udara yang mengandung asap dari wilayah dengan aktivitas hotspot tinggi, konsentrasi asap di Tarakan dapat meningkat kembali.
BMKG Tarakan terus memantau kondisi tersebut, terutama perubahan arah angin dan jarak pandang. Pemantauan dilakukan dari waktu ke waktu untuk melihat perkembangan kondisi udara di Tarakan.
Sulam menyebut jumlah hotspot di Kaltim, Kalteng dan Kalsel masih lebih tinggi dibandingkan Kaltara. Berdasarkan pemantauan sebelumnya, hotspot di Kaltara berada di kisaran 30 titik, sedangkan di tiga provinsi tersebut jumlahnya dapat mencapai ratusan.
“Di Kaltara jumlah hotspot kemarin mungkin sekitar 30, sementara di Kaltim, Kalsel dan Kalteng sudah ratusan. Puncak kemarau di tiga provinsi itu juga September, jadi sampai akhir September masih diprediksi panas dan hujan belum banyak,” ungkap Sulam.
Kondisi tersebut membuat potensi asap kiriman masih dapat terjadi selama aktivitas karhutla di wilayah selatan Kalimantan masih tinggi. BMKG juga akan terus mengikuti perkembangan jarak pandang dan pergerakan asap di Tarakan.
“Kami tetap pantau dari waktu ke waktu, dari jam ke jam, termasuk berapa jarak pandang di Tarakan. Kalau angin kembali membawa asap, kondisi bisa menjadi pekat lagi. Jadi perkembangannya tetap kami monitor,” pungkasnya. (saf)








