TARAKAN, Headlinews.id – Kondisi kualitas udara di Tarakan kembali memburuk seiring meningkatnya konsentrasi partikulat di udara. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan mencatat kenaikan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sejak subuh dan membuka kemungkinan kondisi udara semakin buruk apabila tren tersebut berlanjut.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup, dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Kota Tarakan, Chaizir Zain, S.STP., M.H., mengatakan pergerakan ISPU menunjukkan adanya peningkatan pencemar dalam beberapa jam terakhir. Kenaikan yang terjadi secara bertahap tersebut membuat kondisi udara perlu terus dipantau.
“Sejak subuh tadi sampai sekarang, ISPU terus bergerak naik. Kenaikannya sekitar tiga sampai lima poin setiap jam. Kalau kondisi ini tidak berbalik turun, nilainya tentu akan semakin mendekati dan melewati batas kategori tidak sehat,” ujar Chaizir, Kamis (17/9/2026).
Menurut Chaizir, kondisi udara yang tampak berkabut di sejumlah kawasan Tarakan sejalan dengan meningkatnya konsentrasi partikulat. Namun, tingkat pencemaran tidak ditentukan hanya dari kondisi yang terlihat secara kasat mata. Pengukuran dilakukan berdasarkan sejumlah parameter pencemar, salah satunya PM2,5.
Partikulat PM2,5 kemudian dihitung dan dikonversikan menjadi nilai ISPU berdasarkan standar yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Dari pengukuran tersebut, kondisi udara Tarakan telah menunjukkan konsentrasi PM2,5 di atas baku mutu.
“Secara visual memang kabut asap terlihat cukup tebal. Tetapi untuk menentukan kualitas udaranya tetap berdasarkan hasil pengukuran konsentrasi pencemar, terutama PM2,5, kemudian dikonversikan ke nilai ISPU,” jelasnya.
Chaizir menyebut nilai ISPU Tarakan telah berada pada angka 101. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dan menunjukkan kualitas udara yang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap pencemaran udara.
Kondisi itu belum dapat dipastikan segera membaik karena masih terdapat sumber asap di sekitar Tarakan. Pergerakan angin juga ikut menentukan seberapa besar konsentrasi asap yang berada di wilayah kota.
“Kalau sumber asapnya masih ada, kemungkinan konsentrasinya meningkat tetap terbuka. Apalagi arah angin bergerak ke utara dan membawa asap dari luar wilayah masuk ke Tarakan,” kata Chaizir.
DLH meminta masyarakat membatasi paparan langsung terhadap udara luar, terutama ketika tidak ada keperluan mendesak untuk beraktivitas. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi masyarakat yang tetap harus berada di luar ruangan.
“Kelompok rentan seperti anak-anak, balita, ibu hamil dan lansia sebaiknya lebih mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kondisi udara seperti ini. Kalau memang harus keluar, kami imbau menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap,” ujar Chaizir.
Chaizir mengatakan kualitas udara Tarakan sebelumnya sempat berada pada kondisi yang lebih rendah ketika hujan turun dan cuaca lebih cerah. Nilai ISPU saat itu berada di kisaran 50 hingga 60.
Namun, kondisi tersebut sulit dipertahankan ketika memasuki periode kemarau. Selain faktor cuaca, aktivitas masyarakat dan emisi kendaraan juga menjadi bagian dari sumber pencemar yang memengaruhi konsentrasi PM2,5.
“Kalau ingin indeks PM2,5 turun di bawah 50, biasanya perlu hujan yang cukup lama dan konsisten. Di saat yang sama, emisi dari aktivitas masyarakat juga perlu berkurang,” tandasnya. (saf)










