TARAKAN, Headlinews.id – Harga cabai di sejumlah pasar Kota Tarakan turun dibanding sebelumnya yang sempat mencapai Rp100 ribu per kilogram. Kini, cabai terpantau dijual sekitar Rp80 ribu per kilogram, sedangkan cabai asal Sulawesi berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram.
Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes., turun langsung mengecek harga sejumlah komoditas di pasar, Jumat (28/8/2026). Selain cabai, pemantauan mencakup beras, minyak goreng, ayam, telur, dan daging yang harga jualnya masih relatif stabil.
Khairul mengatakan penurunan harga cabai terlihat cukup signifikan dibanding sebelumnya. Namun, harga tersebut tetap akan dipantau karena cabai merupakan salah satu komoditas yang pergerakan harganya cepat berubah.
“Tadi kita lihat memang cabai sudah turun. Sebelumnya kan sekitar Rp100 ribu, sekarang ada yang Rp80 ribu. Kalau yang dari Sulawesi itu sekitar Rp70 ribu per kilogram,” kata Khairul.
Komoditas lain seperti beras, minyak goreng, ayam, telur, dan daging masih dijual dengan harga yang relatif stabil. Pedagang juga menyampaikan persediaan barang masih tersedia untuk memenuhi kebutuhan pembeli.
“Kalau stoknya saya lihat masih aman. Barang ada, tidak ada pedagang yang mengeluhkan kekurangan stok. Jadi untuk kebutuhan masyarakat masih cukup,” ujarnya.
Meski persediaan masih tersedia, aktivitas jual beli di sejumlah lapak belum terlalu ramai. Pedagang menyebut jumlah pembeli masih terbatas sehingga pergerakan barang tidak terlalu tinggi.
“Yang disampaikan pedagang tadi, pembelinya memang belum terlalu ramai. Jadi barangnya tersedia, tetapi yang datang membeli masih belum banyak,” kata Khairul.
Menurut Khairul, kondisi tersebut tetap perlu dipantau karena perubahan permintaan dan distribusi dapat memengaruhi harga komoditas. Pemantauan langsung ke pasar juga diperlukan agar informasi mengenai harga di tingkat pedagang dapat diketahui.
Selain harga pangan, Khairul turut memperhatikan persoalan sampah di kawasan pasar. Ia meminta pengelola memastikan pengangkutan berjalan rutin sehingga tidak terjadi penumpukan di area perdagangan.
“Sampah tadi juga kita lihat. Ini perlu dibicarakan lagi dengan pengelola, termasuk PT Guser. Pengangkutannya harus rutin, jangan sampai sampah menumpuk dan mengganggu pedagang maupun pembeli,” ujarnya.
Khairul mengatakan kebersihan pasar tidak bisa dipisahkan dari kenyamanan aktivitas perdagangan. Pasar yang bersih akan membuat masyarakat lebih nyaman berbelanja dan pedagang dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik.
“Kalau pasarnya bersih, orang juga nyaman datang. Pedagang nyaman berjualan, masyarakat nyaman belanja. Jadi ini memang harus sama-sama diperhatikan,” pungkas Khairul. (*)










