TARAKAN, Headlinews.id – Harapan keluarga Burhan agar anaknya segera mendapat penanganan optimal setelah mengalami cedera kepala akibat kecelakaan harus dihadapkan pada sejumlah tantangan selama proses perawatan.
Mulai dari kebutuhan dokter bedah saraf anak, pemeriksaan penunjang yang disebut sempat terkendala, hingga kemungkinan rujukan ke luar daerah yang membutuhkan biaya tambahan.
Burhan menceritakan, kecelakaan itu terjadi pada 16 Juni 2026 atau bertepatan dengan 1 Muharram sekitar pukul 12.00 Wita. Saat itu ia mengendarai sepeda motor bersama istri dan anak-anaknya ketika melintas di kawasan depan Bandara Juwata Tarakan.
Menurut pengakuannya, kecelakaan terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada kendaraan lain yang terlibat.
“Tidak ada tabrakan. Kecelakaan tunggal. Saya juga tidak ngantuk, tiba-tiba penglihatan gelap lalu motor oleng ke kiri dan masuk parit,” ujarnya.
Akibat kejadian tersebut, seluruh anggota keluarga yang berada di kendaraan ikut terjatuh. Burhan mengatakan salah satu anaknya sempat terlempar ke bagian atas penutup parit, sementara dirinya bersama anggota keluarga lain berada di dalam parit.
Ia menyebut anak bungsunya yang berusia 5 tahun terlempar dan mengalami kondisi paling serius.
“Yang adik terlempar dan sudah tidak sadarkan diri. Waktu itu keluar darah juga,” katanya.
Burhan mengatakan pertolongan pertama dilakukan langsung oleh istrinya yang berprofesi sebagai perawat. Menurutnya, saat itu anak sempat mengalami kondisi yang membuat keluarga khawatir karena tidak merespons.
Setelah dievakuasi, keluarga langsung menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Dalam proses perawatan, Burhan mengaku memperoleh penjelasan kondisi anak membutuhkan perhatian pada bagian saraf karena terdapat dugaan cedera di kepala.
Ia menuturkan anaknya kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan untuk melihat kondisi tersebut.
“Nah, setelah diperiksa katanya ada retakan di daerah kepala dan ada pendarahan. Tapi hasil akhirnya kami masih menunggu,” ujarnya.
Burhan mengaku sempat mencari kepastian mengenai penanganan berikutnya. Dari komunikasi yang dilakukan keluarga dengan tenaga medis, keluarga memperoleh informasi bahwa penanganan lanjutan idealnya ditangani dokter bedah saraf anak.
Namun menurutnya, layanan tersebut belum tersedia.
“Kami sempat tanya apakah memang tidak ada dokter saraf anak. Informasinya memang tidak ada. Kalau dirujuk ke luar bisa, tapi ditanya lagi apakah siap biaya,” ucapnya.
Burhan juga menyinggung persoalan pemeriksaan penunjang yang menurut pengakuannya sempat mengalami kendala.
Untuk anaknya, pemeriksaan pemindaian kepala dilakukan melalui rujukan. Sementara untuk dirinya sendiri yang juga mengalami benturan pada bagian tubuh, pemeriksaan lanjutan disebut belum dapat dilakukan karena alat sedang mengalami gangguan.
“Saya disuruh rontgen lagi, tapi waktu ke radiologi katanya alat sedang bermasalah dan menunggu panggilan,” katanya.
Menurut Burhan, situasi tersebut membuat keluarga semakin khawatir karena kondisi anak masih membutuhkan pemantauan intensif.
Ia mengatakan dokter yang menangani tetap berupaya memberikan pelayanan semaksimal mungkin sesuai kemampuan dan fasilitas yang tersedia.
Burhan juga menceritakan sempat terjadi kesalahpahaman komunikasi antara pihak keluarga dan tenaga medis. Namun setelah mendapat penjelasan langsung dari dokter, keluarga memahami penanganan tetap berjalan.
“Dokternya bilang mereka tetap berusaha semaksimal mungkin. Jadi setelah dijelaskan lagi ternyata ada miskomunikasi,” katanya.
Dalam perawatan sehari-hari, keluarga memilih tetap memberikan ASI kepada anak melalui bantuan selang karena dinilai lebih dapat diterima tubuh pasien.
“Karena belum bisa menerima yang lain, kami minta sementara tetap ASI. Alhamdulillah tekanan darah mulai stabil, walaupun sampai sekarang belum ada respons,” ujarnya.
Burhan menegaskan selama proses pengobatan tidak mengalami kendala dalam penggunaan BPJS.
Meski demikian, ia berharap pasien pengguna BPJS juga memperoleh percepatan pelayanan terutama dalam kondisi darurat.
“Kalau BPJS sejauh ini aman, tidak ada masalah. Tapi harapannya semua pasien sama-sama diprioritaskan karena ini menyangkut keselamatan,” katanya.
Keluarga juga mengaku mulai mempertimbangkan kemungkinan rujukan ke luar daerah apabila kondisi mengharuskan. Namun tantangan terbesar berada pada biaya transportasi dan pendampingan.
Menurut Burhan, apabila pasien harus dipindahkan dalam kondisi berbaring dan menggunakan alat bantu, kebutuhan keberangkatan akan jauh lebih besar dibanding perjalanan biasa.
Burhan berharap pemerintah daerah dapat memperkuat layanan rumah sakit di Kalimantan Utara, terutama pada ketersediaan dokter spesialis dan alat kesehatan.
“Kalau rumah sakit sudah lengkap dokter spesialis dan alatnya, masyarakat tidak perlu jauh-jauh lagi mencari pengobatan. Mudah-mudahan ke depan fasilitas kesehatan di sini semakin baik,” tutupnya. (saf)










