TARAKAN, Headlinews.id – Angka Partisipasi Sekolah (APS) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Tarakan menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan capaian tahun 2025 yang dirilis pada 2026, APS PAUD naik dari 65,68 persen menjadi 88,16 persen. Meski mengalami peningkatan, masih terdapat sekitar 12 persen anak usia PAUD yang belum mengakses layanan pendidikan.
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD Kota Tarakan, Endah Sarastiningsih, menjelaskan APS merupakan indikator yang menggambarkan persentase anak usia PAUD yang telah mengikuti pendidikan pada satuan PAUD.
“Kalau untuk Kota Tarakan tahun 2025 angkanya naik dari 65,68 persen menjadi 88,16 persen. Tetapi walaupun naik, tetap masih ada sekitar 12 persen anak usia PAUD yang memang belum disekolahkan oleh orang tuanya,” ujarnya.
Ia mengatakan, data anak usia PAUD yang menjadi dasar penghitungan APS berasal dari administrasi kependudukan melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil). Namun, kondisi di lapangan tidak selalu sama dengan data administrasi karena sebagian anak tercatat sebagai penduduk Kota Tarakan, tetapi tidak selalu berada di wilayah tersebut.
Menurut Endah, peningkatan APS menunjukkan semakin banyak anak usia dini yang telah memperoleh layanan pendidikan. Namun, capaian tersebut masih menjadi tantangan agar seluruh anak usia PAUD dapat terlayani.
Ia menegaskan, persoalan yang menyebabkan masih adanya anak usia PAUD belum bersekolah bukan karena keterbatasan akses pendidikan. Kota Tarakan dinilai telah memiliki jumlah satuan PAUD yang cukup dengan sebaran yang telah menjangkau seluruh kelurahan.
“Permasalahannya bukan pada aksesibilitas karena jumlah satuan PAUD sudah cukup. Sebaran PAUD juga sudah cukup karena setiap kelurahan wajib ada satu satuan PAUD dan itu sudah terpenuhi semua,” katanya.
Menurutnya, tantangan utama saat ini berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini. Karena itu, Pokja Bunda PAUD terus melakukan sosialisasi agar orang tua memahami pentingnya menyekolahkan anak sejak usia dini.
Selain faktor kesadaran masyarakat, mobilitas penduduk juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi capaian APS di Kota Tarakan. Tidak seluruh anak yang secara administrasi tercatat sebagai penduduk Tarakan berada dan mengikuti layanan pendidikan di wilayah tersebut.
“Anak-anak usia PAUD yang ada di Kota Tarakan itu tidak selalu berada di Tarakan. Bisa jadi secara administrasi kependudukan ada di Tarakan, tetapi anaknya ikut orang tuanya bekerja ke luar Tarakan,” jelasnya.
Endah menyebut kondisi tersebut dapat terjadi pada keluarga yang bekerja di kawasan tambak maupun lokasi usaha lainnya. Anak yang mengikuti orang tua bekerja di luar kawasan permukiman terkadang belum memperoleh layanan PAUD karena faktor tempat tinggal sementara.
Selain itu, masih terdapat anak berkebutuhan khusus yang belum mengikuti pendidikan anak usia dini. Menurut Endah, sebagian orang tua masih merasa khawatir atau enggan menyekolahkan anak dengan kondisi tersebut.
“Ada juga anak dalam kondisi istimewa atau anak berkebutuhan khusus, itu kadang orang tuanya malu untuk anak itu disekolahkan. Padahal sebenarnya kami sayangkan karena mereka juga harus mendapatkan layanan pendidikan,” tuturnya.
Faktor lain yang menjadi tantangan adalah masih adanya anggapan sebagian orang tua bahwa PAUD belum menjadi kebutuhan utama. Sebagian memilih langsung memasukkan anak ke sekolah dasar karena menilai pendidikan anak usia dini dapat dilewati.
“Rata-rata masih ada orang tua yang berpikir, PAUD itu mahal, nanti langsung di SD saja. Padahal anak usia dini tetap perlu mendapatkan layanan pendidikan sesuai tahapannya,” katanya.
Meski masih terdapat sejumlah tantangan, Endah optimistis angka partisipasi sekolah anak usia dini di Kota Tarakan dapat terus meningkat. Sosialisasi akan terus dilakukan bersama satuan pendidikan dan pihak terkait untuk mendorong semakin banyak anak memperoleh layanan PAUD.
“Harapannya semakin banyak anak usia PAUD yang bisa mengikuti pendidikan sesuai usianya,” pungkasnya. (saf)







