TARAKAN, Headlinews.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September mendatang.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep mengatakan, langkah antisipasi telah dilakukan sejak awal Juni dengan melakukan pemetaan terhadap wilayah yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi terjadi karhutla.
Kondisi kemarau yang mulai terjadi di sejumlah wilayah utara Kalimantan menjadi perhatian dalam menghadapi potensi kebakaran lahan.
“Dari awal bulan Juni kita sudah antisipasi untuk menghadapi kemarau ini. Kemarau yang sudah terjadi di wilayah utara itu daerah Malinau dan Tana Tidung/Tanjung Palas. Jadi kita sudah melakukan kesiapan untuk menghadapi kondisi ini,” ujar Yonsep.
Ia menjelaskan, pemetaan wilayah rawan dilakukan berdasarkan tingkat risiko, terutama kawasan yang memiliki kondisi lahan terbuka dan mudah mengalami kekeringan saat musim kemarau.
Berdasarkan pemetaan tersebut, terdapat empat wilayah yang menjadi perhatian utama BPBD Tarakan, yakni Amal, Juata Kerikil, Juata Laut, dan Juata Permai.
“Kalau melihat tingkat risikonya, yang paling rawan itu Amal sama Juata. Juata Kerikil, Juata Laut, dan Juata Permai itu yang menjadi pusat penanganan kita,” katanya.
Yonsep menyebut, kawasan Amal menjadi wilayah dengan risiko paling tinggi karena memiliki lahan terbuka dengan kondisi rumput yang cukup tebal. Lokasi tersebut juga menjadi salah satu wilayah yang sebelumnya mengalami kebakaran lahan dengan luas mencapai sekitar 15 hektare.
“Yang paling tinggi itu terakhir terbakar sekitar 15 hektare, karena itu juga lahan terbuka. Ada seperti rumput yang tebal, dan itu sudah kita mitigasi kepada masyarakat,” jelasnya.
Untuk menghadapi potensi karhutla, BPBD Tarakan tidak hanya menyiapkan personel dan sarana pendukung, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat di wilayah rawan. Salah satunya dengan membuat kolam tampungan air di kawasan Amal, khususnya RT 8 yang sebelumnya menjadi lokasi kejadian kebakaran.
“Di daerah Amal itu kita sudah coba melalui kemandirian masyarakat membuat kolam tampungan. Itu salah satu yang ada di wilayah yang sering terbakar, di RT 8. Kita minta kepada masyarakat gotong royong membuat penampungan air dan kolam di sana,” ungkap Yonsep.
Menurutnya, kolam tampungan tersebut tidak hanya digunakan untuk membantu penanganan ketika terjadi kebakaran, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan lainnya.
Sementara untuk wilayah Juata, BPBD Tarakan telah melakukan komunikasi dengan PDAM terkait dukungan distribusi bahan baku air apabila diperlukan dalam penanganan karhutla.
Namun, Yonsep mengakui ketersediaan sumber air juga menjadi tantangan ketika kondisi kemarau berlangsung cukup panjang.
“Kalau di Juata itu kita sudah komunikasi dengan PDAM yang ada di sana dan mereka siap membantu kita distribusi berkaitan dengan bahan baku air. Tapi kalau kemarau, terkadang juga ada kesulitan dengan bahan baku ini,” katanya.
Yonsep berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait dapat membantu mengatasi kendala selama musim kemarau, khususnya dalam penyediaan sumber air untuk penanganan kebakaran.
Dari sisi kesiapan operasional, BPBD Tarakan memastikan sarana prasarana dan personel telah disiapkan meski masih terdapat keterbatasan. Selain itu, dukungan relawan kebencanaan juga disiapkan untuk membantu penanganan di lapangan.
“Sudah, sudah siap. Walaupun dengan keterbatasan kita, kita sudah siap dengan itu. Dan kita punya relawan juga. Relawan seperti Kolakar, Destana, itu siap juga membantu kita,” ucap Yonsep.
Ia menambahkan, sampai saat ini BPBD Tarakan baru mencatat satu kejadian karhutla selama musim kemarau. Namun, kewaspadaan tetap dilakukan karena kondisi cuaca kering masih berpotensi memicu kebakaran.
“Baru satu aja,” ujarnya.
Yonsep juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pembakaran saat membuka lahan. Masyarakat diminta melakukan koordinasi lebih awal apabila membutuhkan bantuan penanganan.
“Sudah kita imbau kepada masyarakat supaya berhati-hati dalam hal membakar pada saat kemarau dan membuka lahan untuk dijaga. Kalau perlu, hubungi kami atau Kehutanan dalam hal penanganan lebih awal. Kita siap untuk membantu masyarakat,” katanya.
Menurutnya, masyarakat dapat meminta bantuan personel BPBD dengan terlebih dahulu memberikan informasi kepada petugas. Laporan juga dapat disampaikan melalui layanan darurat 112 yang terhubung dengan Command Center Pemerintah Kota Tarakan.
“Boleh, asal memberitahukan. Yang penting kami tidak dalam kondisi penanganan yang lain. Kita memanfaatkan fasilitas pemerintah 112,” pungkas Yonsep. (saf)










