TARAKAN, Headlinews.id – Lonjakan harga kemasan plastik di Kota Tarakan mulai menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Tidak hanya berdampak pada biaya produksi, kenaikan tersebut dikhawatirkan berujung pada penurunan daya beli masyarakat apabila pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual.
Pemilik usaha kuliner D’Two Tarakan, Rika Pratiwi mengaku saat ini menghadapi dilema antara menjaga kestabilan harga menu dan menutupi biaya operasional yang terus meningkat. Menurutnya, konsumen di Tarakan cukup sensitif terhadap perubahan harga makanan.
Ia menilai, kenaikan harga sekecil apa pun berpotensi menurunkan jumlah pembeli. Padahal, usaha kuliner sangat bergantung pada volume penjualan harian untuk menjaga arus kas tetap stabil.
“Bagi kami pelaku UMKM, daya beli masyarakat itu sangat menentukan. Kalau harga menu naik karena biaya kemasan mahal, kami khawatir pelanggan berkurang dan omzet ikut turun,” ujar Rika, Selasa (7/4/2026).
Selain ancaman terhadap penjualan, Rika juga mulai memikirkan keberlangsungan tenaga kerja yang selama ini bergantung pada operasional usahanya. Penurunan omzet dinilai berisiko memengaruhi kemampuan usaha dalam mempertahankan karyawan.
Selama lebih dari satu dekade menjalankan usaha kuliner, Rika mengaku selalu berupaya menjaga harga tetap terjangkau. Namun tekanan biaya kemasan kali ini menjadi tantangan tersulit yang pernah ia hadapi.
Ia mengatakan, stabilitas harga kemasan bukan sekadar persoalan keuntungan usaha, melainkan berkaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil yang saling terhubung dalam rantai usaha lokal.
Rika berharap seluruh pihak dalam rantai distribusi dapat menjaga keseimbangan harga dan tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah kondisi pasokan yang belum stabil.
Di tengah ketidakpastian tersebut, ia pun memperketat pengawasan pengeluaran operasional agar usaha tetap berjalan dan kesejahteraan karyawan tetap terjaga meski margin keuntungan semakin menipis.
“Kami hanya ingin usaha kecil tetap hidup. Kalau daya beli masyarakat turun, dampaknya bukan hanya ke pelaku UMKM, tapi juga perputaran ekonomi di Tarakan secara keseluruhan,” tutupnya. (saf)










