TANA TIDUNG, Headlinews.id – Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) Kabupaten Tana Tidung periode 2026–2030 mulai menyusun arah organisasi setelah kepengurusan baru dikukuhkan dalam Musyawarah Cabang (Muscab) III di Desa Sapari, Sabtu (18/7/2026). Penguatan peran sosial, pelestarian adat dan budaya, serta kaderisasi generasi muda menjadi tantangan yang harus dijawab pengurus baru.
Wakil Bupati Tana Tidung, Sabri yang membuka Muscab III PDL Kabupaten Tana Tidung meminta pengurus yang terpilih nantinya menyusun program kerja yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ia menilai organisasi kemasyarakatan memiliki peran dalam menjaga kebersamaan sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Menurut Sabri, PDL perlu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak agar keberadaan organisasi tidak hanya dirasakan oleh anggota, tetapi juga masyarakat secara luas.
“Program kerja harus disusun melalui musyawarah dan melihat kondisi yang ada. Bangun kerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga adat, gereja, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh elemen masyarakat agar organisasi ini dapat memberikan manfaat,” ujar Sabri.
Ia berharap kepengurusan baru mampu menjaga persatuan dan memperkuat hubungan sosial di Kabupaten Tana Tidung yang memiliki keberagaman masyarakat.
Muscab III PDL Kabupaten Tana Tidung turut dihadiri Ketua DPW PDL Kalimantan Utara Wempi W. Mawa, Wakil Bupati Tana Tidung, Dandim 0914/Tana Tidung, jajaran pengurus PDL, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, serta keluarga besar Dayak Lundayeh.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua DPW PDL Kalimantan Utara Wempi W. Mawa mengukuhkan pengurus PDL Kabupaten Tana Tidung periode 2026–2030. Ia menyampaikan apresiasi kepada pengurus sebelumnya dan panitia yang telah menjalankan organisasi serta menyukseskan pelaksanaan Muscab.
Wempi menilai keberhasilan organisasi tidak ditentukan dari jumlah anggota, melainkan dari kualitas, kapasitas, dan integritas pengurus dalam menjalankan amanah.
“Kelebihan dan kekurangan pengurus merupakan bagian dari kekuatan organisasi. Yang paling penting bagaimana setiap pengurus mampu meningkatkan kualitas diri. Kalau memiliki kemampuan dan integritas, keberadaan organisasi akan selalu diperhitungkan,” kata Wempi.
Ia menyampaikan sejumlah arahan kepada pengurus baru, mulai dari memperkuat keterlibatan organisasi di tengah masyarakat, menjaga adat dan budaya, meningkatkan peran di bidang pendidikan dan ekonomi, hingga menyiapkan kader muda untuk keberlanjutan kepemimpinan organisasi.
Wempi juga mengingatkan PDL agar aktif mengambil bagian dalam persoalan sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk memberikan perhatian terhadap pencegahan kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam program nyata seperti pengembangan sanggar, desa wisata, dan kegiatan sosial yang melibatkan generasi muda.
“Budaya itu kita. Kalau kita tidak menjaga dan memperkenalkannya, budaya itu tidak akan dikenal oleh orang lain. Karena itu, generasi muda harus menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya,” ujarnya.
Selain bidang budaya, Wempi mendorong PDL memperkuat kapasitas kader dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan politik. Menurutnya, organisasi perlu melahirkan sumber daya manusia yang mampu mengambil peran dalam berbagai sektor pembangunan.
Ia menyebut terdapat tiga hal penting yang harus dimiliki kader apabila ingin berperan dalam bidang politik, yakni kekuatan, kemampuan finansial, dan kapasitas diri.
“Kalau ingin mengambil peran lebih besar, kader harus mempersiapkan diri. Ada kekuatan, ada kemampuan, dan ada kapasitas yang harus dibangun sejak sekarang,” jelasnya.
Wempi juga meminta pengurus baru mulai menyiapkan kader muda agar keberlanjutan organisasi dapat terjaga hingga tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan organisasi, DPW PDL Kalimantan Utara mengalokasikan anggaran Rp50 juta untuk mendukung program diskusi dan kegiatan PDL Kabupaten Tana Tidung.
“PDL harus menjadi organisasi yang kuat, berdaya, dan memberikan kontribusi nyata. Kekuatan organisasi bukan hanya terlihat dari dalam, tetapi dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat,” pungkas Wempi. (*)










