TARAKAN, Headlinews.id – Bank Indonesia mencatat inflasi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sepanjang tahun 2025 tetap terjaga dalam sasaran pengendalian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Kaltara pada 2025 tercatat sebesar 2,57 persen (year on year/yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik mengatakan capaian tersebut mencerminkan efektivitas kebijakan pengendalian inflasi yang dijalankan secara konsisten, baik melalui kebijakan moneter maupun sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah.
“Inflasi Kalimantan Utara pada 2025 tetap terjaga dalam sasaran, didukung konsistensi kebijakan moneter serta sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah,” ujar Hasiando.
Ia menjelaskan, pengendalian inflasi juga diperkuat melalui implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional yang berkontribusi menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di daerah.
Secara bulanan, inflasi gabungan tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Utara pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,54 persen (month to month/mtm).
Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya tarif angkutan udara seiring naiknya mobilitas masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Adapun tiga wilayah IHK di Kalimantan Utara seluruhnya mengalami inflasi bulanan, yakni Kota Tarakan sebesar 0,60 persen (mtm), Tanjung Selor 0,67 persen (mtm), dan Kabupaten Nunukan 0,37 persen (mtm).
Hasiando menyebutkan, selain angkutan udara, inflasi Desember 2025 juga didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah dan cabai rawit.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya permintaan masyarakat pada momen HBKN Nataru, di tengah pasokan yang mulai berkurang pasca musim panen.
Namun demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh sejumlah faktor penahan. Salah satunya adalah kebijakan diskon tarif angkutan udara dan angkutan laut yang diberlakukan pemerintah selama periode HBKN Nataru.
“Penurunan tarif angkutan laut serta melimpahnya pasokan ikan bandeng akibat panen petambak turut menahan tekanan inflasi,” jelasnya.
Selain itu, penurunan harga bayam juga menjadi faktor penahan inflasi, seiring musim panen lokal yang didukung kondisi curah hujan yang relatif kondusif.
Bank Indonesia bersama TPID di Kalimantan Utara, lanjut Hasiando, akan terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (*/saf)










