TARAKAN, Headlinews.id – Tekanan kenaikan tarif transportasi tak mampu menahan penurunan harga pangan, sehingga Kota Tarakan mencatat deflasi sebesar 0,06 persen pada April 2026.
Kondisi ini menandai kembalinya deflasi setelah dua bulan sebelumnya, Februari dan Maret 2026, kota ini mengalami inflasi. Pergerakan harga yang fluktuatif mencerminkan dinamika pasokan dan permintaan, terutama pada komoditas pangan dan sektor transportasi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan, Umar Riyadi menjelaskan meski terjadi deflasi, tekanan inflasi masih terlihat pada sejumlah komoditas tertentu.
“Secara umum memang terjadi penurunan harga pada April, tetapi tidak merata. Ada komoditas yang justru mengalami kenaikan, seperti angkutan udara yang dipengaruhi kenaikan harga avtur dan kebijakan tarif batas atas. Komoditas hortikultura seperti tomat juga ikut memberikan andil inflasi,” ujarnya.
Menurutnya, deflasi yang terjadi merupakan hasil tarik-menarik antara kenaikan harga transportasi dan penurunan harga bahan pangan.
“Kalau kita lihat lebih rinci, penurunan harga pada kelompok pangan cukup dominan. Cabai rawit mengalami penurunan yang cukup dalam, kemudian diikuti daging ayam ras dan emas perhiasan. Kombinasi ini yang akhirnya lebih kuat dibanding tekanan inflasi dari transportasi,” jelasnya.
Secara kelompok pengeluaran, sektor transportasi tetap menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,17 persen. Disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,03 persen serta beberapa kelompok lain dengan kontribusi terbatas.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penahan utama laju inflasi dengan kontribusi deflasi sebesar 0,19 persen. Penurunan harga pada kelompok ini menjadi faktor dominan dalam membentuk deflasi April.
“Struktur inflasi kita masih sangat dipengaruhi komoditas pangan. Ketika harga cabai atau daging ayam turun signifikan, dampaknya langsung terasa pada angka inflasi secara keseluruhan,” kata Umar.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatatkan deflasi sebesar 0,12 persen, terutama dipicu turunnya harga emas perhiasan.
Secara kumulatif, inflasi Kota Tarakan hingga April 2026 tercatat sebesar 1,00 persen (year to date), sedangkan inflasi tahunan (year on year) mencapai 2,90 persen.
Umar menambahkan, angka tersebut menunjukkan inflasi mulai bergerak mendekati sasaran yang ditetapkan pemerintah setelah sebelumnya dipengaruhi faktor basis rendah.
“Pada awal tahun, kita sempat melihat adanya low base effect karena kebijakan diskon tarif listrik. Itu membuat inflasi tahunan terlihat lebih rendah. Namun memasuki April, efek tersebut sudah mulai hilang sehingga inflasi kembali ke pola normal dan mendekati target,” katanya.
Ia juga memproyeksikan, jika pola pergerakan harga pada sisa tahun relatif sama dengan tahun sebelumnya, maka inflasi tahunan akan berada di kisaran saat ini.
“Kalau pola musiman dan dinamika harga tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, maka inflasi sampai akhir tahun diperkirakan berada di sekitar 2,9 persen. Artinya masih dalam rentang yang terkendali,” tambahnya.
Dibandingkan wilayah lain, capaian Tarakan masih sejalan. Di tingkat Provinsi Kalimantan Utara, inflasi bulanan tercatat 0,02 persen dengan inflasi tahunan 2,68 persen. Sementara secara nasional, inflasi bulanan sebesar 0,13 persen dan tahunan 2,42 persen.
BPS menilai kondisi ini menunjukkan stabilitas harga yang relatif terjaga, meskipun tekanan dari sektor tertentu tetap perlu diantisipasi.
“Secara umum kondisi harga masih terkendali, tetapi kita tetap perlu waspada terhadap fluktuasi, terutama pada komoditas pangan dan biaya transportasi yang sangat sensitif terhadap perubahan,” tutupnya. (saf)










