SAMARINDA, Headlinews.id – Program Desa Siaga Tuberkulosis (TB) di Kalimantan Timur baru menjangkau 74 dari 1.038 desa. Pemerintah daerah masih harus memperluas cakupan agar penanganan penyakit menular tersebut tidak terpusat di fasilitas kesehatan.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengatakan keterlibatan desa dan kelurahan diperlukan untuk memperkuat penanganan TB hingga tingkat masyarakat.
Menurutnya, desa memiliki posisi penting dalam membantu menemukan kasus, mendampingi pasien menjalani pengobatan, serta mencegah penularan di lingkungan sekitar.
“Kalau penanganan TB hanya mengandalkan fasilitas kesehatan, tentu jangkauannya terbatas. Desa dan kelurahan harus ikut bergerak karena masyarakat berada di sana. Dari tingkat bawah itu kita bisa lebih cepat menemukan kasus dan memastikan pasien mendapatkan pendampingan sampai pengobatannya selesai,” kata Seno Aji saat meluncurkan Desa Siaga TB Provinsi Kaltim di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (11/8/2026).
Kaltim merupakan satu dari 18 provinsi yang masuk prioritas penanggulangan TB secara nasional. Kelompok provinsi tersebut secara keseluruhan menyumbang sekitar 86 persen dari estimasi kasus TB nasional, sehingga perluasan penanganan hingga tingkat desa dan kelurahan menjadi bagian dari upaya memperkuat pengendalian penyakit tersebut.
Dari total 1.038 desa di Kaltim, baru 74 desa yang berstatus Desa Siaga TB. Kondisi tersebut menunjukkan cakupan program masih jauh dari keseluruhan wilayah desa yang ada di provinsi tersebut.
“Sekarang baru sekitar 74 desa yang menjadi Desa Siaga TB dari 1.038 desa yang ada. Artinya masih banyak desa yang harus kita dorong agar ikut mengambil bagian. Harapannya sampai akhir 2026 jumlahnya terus bertambah,” ujarnya.
Menurut Seno Aji, penambahan jumlah Desa Siaga TB harus diikuti dengan aktivitas nyata di lapangan. Status sebagai Desa Siaga TB perlu disertai kemampuan menemukan warga yang bergejala, mendorong pemeriksaan, serta membantu pasien menyelesaikan pengobatan.
“Yang kita perlukan adalah penambahan jumlah desa yang disertai kegiatan di lapangan. Harus ada penemuan kasus, ada pendampingan pasien, dan masyarakat memahami bagaimana mencegah penularan. Jadi status itu harus benar-benar diikuti kerja di desa,” katanya.
Ia menilai keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penanggulangan TB karena proses pencegahan dan pengobatan berlangsung di lingkungan tempat pasien tinggal. Peran keluarga, kader kesehatan, aparatur desa, dan masyarakat diperlukan agar pasien tetap menjalani pengobatan sampai selesai.
Peluncuran Desa Siaga TB Provinsi Kaltim berlangsung di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut ditandai pemukulan gong oleh Seno Aji bersama Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kaltim Siti Sugiyanti, Pengurus Pusat Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes) Suriyanita, serta Sekretaris Umum TP PKK Kaltim Sarifah Asmawati.
Seno Aji juga meminta program tersebut tidak berhenti pada peluncuran dan forum koordinasi. Evaluasi, menurutnya, harus menghasilkan tindak lanjut yang dapat diukur dari aktivitas penanganan TB di tingkat desa.
“Setelah ini yang perlu dilihat adalah tindak lanjutnya. Jangan berhenti pada peluncuran atau evaluasi. Kita harus bisa melihat apa yang dikerjakan di desa, bagaimana kasus ditemukan, bagaimana pasien didampingi, dan apakah upaya itu bisa membantu menekan penularan,” pungkasnya. (*/fn)










