KUTAI BARAT, Headlinews.id – Kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kampung Sangsang, Kecamatan Siluq Ngurai, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, berhasil dikendalikan setelah personel Brigif TP 85/Benuo Taka Cakti (BTC) dikerahkan bersama warga dan tim gabungan.
Personel Brigif TP 85 bergerak setelah menerima laporan mengenai munculnya titik api. Peralatan pemadam dibawa ke lokasi untuk mempercepat penanganan sekaligus mencegah api merambat ke kawasan lain.
“Begitu informasi diterima, personel langsung bergerak menuju lokasi. Peralatan pemadam juga dibawa karena kondisi di lapangan membutuhkan penanganan segera,” ujar Kapendam VI/Mulawarman Kolonel Inf Gatot Teguh Waluyo, Jumat (21/8/2026).
Kondisi vegetasi yang kering membuat api berpotensi cepat menjalar. Prajurit menggunakan selang pemadam, pompa portabel dan jet shooter untuk mengendalikan kobaran serta memutus jalur rambatan api.
“Medannya cukup menantang karena banyak vegetasi yang kering. Personel harus masuk ke titik-titik yang masih terbakar untuk memastikan api tidak bergerak ke bagian lain,” kata Gatot.
Pemadaman dilakukan bersama masyarakat, unsur TNI-Polri dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tim gabungan menangani titik api sekaligus mengantisipasi kobaran menjangkau kawasan permukiman.
Keterlibatan masyarakat turut membantu proses penanganan di lapangan. Warga memberikan informasi mengenai lokasi titik api serta membantu petugas selama proses pemadaman berlangsung.
“Kerja sama seperti ini sangat penting. Masyarakat mengetahui kondisi wilayahnya, sementara personel membawa kemampuan dan peralatan. Kalau bergerak bersama, kebakaran lebih cepat dikendalikan,” ujarnya.
Setelah kobaran utama berhasil dikendalikan, petugas melanjutkan penyisiran dan pendinginan atau mopping up. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada bara maupun titik panas yang dapat memicu kebakaran kembali.
“Kita tidak cukup hanya memadamkan kobaran yang terlihat. Setelah api terkendali, pendinginan tetap dilakukan supaya tidak ada bara yang kembali menjadi titik api,” tegas Gatot.
Pemantauan masih dilakukan di sekitar lokasi untuk mengantisipasi titik api susulan. Kondisi lahan yang kering membuat pengawasan tetap diperlukan meski kobaran utama sudah berhasil dikendalikan.
“Personel tetap disiagakan untuk pemantauan. Harapannya tidak ada titik api baru dan masyarakat juga ikut menjaga lingkungan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi,” pungkas Gatot. (*/saf)










