BANDA ACEH, Headlinews.id– Sebulan berada di Gampong Cut Langien memberi pengalaman berbeda bagi Ari Maulana dan anggota Kelompok 11 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala (USK). Datang dengan membawa sejumlah program kerja, para mahasiswa justru menemukan banyak pelajaran dari keseharian masyarakat.
Cerita itu disampaikan Ari dalam program CCK (Cek Cerita Kamu) di Studio Pro 2 Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh. Sebagai Ketua Kelompok 11, mahasiswa Fakultas Hukum USK itu menceritakan proses beradaptasi dengan lingkungan gampong yang menjadi bagian penting dari perjalanan KKN mereka.
Sejak awal, kelompok tersebut tidak langsung menjalankan seluruh agenda yang telah disusun. Mereka lebih dulu membangun komunikasi dengan aparatur gampong dan masyarakat untuk memahami kondisi serta kebutuhan warga.
“Selama satu bulan itu banyak hal yang kami pelajari. Kami datang membawa program kerja, tetapi masyarakat juga banyak mengajarkan tentang kehidupan, gotong royong dan kebersamaan,” ujar Ari.
Program yang kemudian dijalankan cukup beragam. Kelompok 11 menggelar edukasi anti-bullying, Poster Anak Sadar Hukum, Desa Aman, pemeriksaan tekanan darah gratis, pembagian Tas Siaga Bencana serta penyusunan profil desa.
Kegiatan juga diarahkan kepada anak-anak. Lomba azan, hafalan Juz 30 dan fashion show busana muslim bagi siswa TK dan SD menjadi ruang bagi mahasiswa untuk ikut mendorong kegiatan pendidikan dan pembinaan karakter di lingkungan gampong.
Pengalaman di lapangan membuat mahasiswa harus menyesuaikan rencana dengan keadaan masyarakat. Tidak semua agenda dapat berjalan persis seperti yang telah disusun sejak awal sehingga komunikasi menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan.
“Di lapangan kami belajar bahwa program harus menyesuaikan kondisi masyarakat. Komunikasi menjadi penting karena dari situ kami tahu apa yang dibutuhkan dan bagaimana kegiatan bisa diterima warga,” katanya.
Hubungan antara mahasiswa dan masyarakat juga berkembang selama masa KKN. Aktivitas sehari-hari membuat jarak antara mahasiswa dan warga semakin dekat. Gotong royong yang awalnya menjadi bagian dari kegiatan kemudian tumbuh menjadi kebiasaan selama mereka berada di Gampong Cut Langien.
Dukungan aparatur gampong turut membantu pelaksanaan berbagai agenda. Mahasiswa mendapat ruang untuk berinteraksi lebih dekat dengan warga sekaligus memahami kehidupan masyarakat dari pengalaman langsung.
“Alhamdulillah, masyarakat dan aparatur gampong sangat terbuka. Kami merasa diterima dengan baik. Dari situ kami semakin nyaman berinteraksi dan menjalankan kegiatan bersama warga,” ungkap Ari.
Dosen pembimbing lapangan, Dr. Muhammad Sayuthi, S.P., M.P., melihat proses tersebut sebagai bagian penting dari pembelajaran mahasiswa. Menurutnya, KKN memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kampus ketika berhadapan langsung dengan masyarakat.
“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori di kampus. Mereka juga perlu melihat bagaimana persoalan di masyarakat dan belajar mencari cara untuk memberikan manfaat sesuai kemampuan yang dimiliki,” ujar Sayuthi.
Selama KKN, mahasiswa juga belajar bekerja dalam kelompok, mengambil keputusan dan berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat. Kemampuan tersebut menjadi pengalaman yang melengkapi pembelajaran akademik selama berada di perguruan tinggi.
Hal-hal sederhana selama berada di gampong justru menjadi kenangan yang paling melekat. Percakapan dengan warga, kegiatan bersama anak-anak hingga kebiasaan gotong royong membuat mahasiswa melihat kehidupan masyarakat dari sudut pandang yang berbeda.
“Banyak hal yang tidak bisa kami dapatkan hanya dari pembelajaran di kelas. Ketika tinggal bersama masyarakat, kami belajar memahami orang lain, belajar bekerja sama dan belajar bertanggung jawab terhadap kegiatan yang sudah kami buat,” tutur Ari.
Sebulan akhirnya berlalu. Program-program yang telah disusun selesai dilaksanakan, tetapi pengalaman yang diperoleh para mahasiswa menjadi bekal ketika mereka kembali ke lingkungan kampus.
KKN juga menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi memiliki ruang penerapan ketika mahasiswa bersedia turun langsung, mendengar dan memahami kebutuhan masyarakat.
“Setelah kembali dari KKN, saya berharap pengalaman ini tidak berhenti sebagai kenangan. Apa yang kami pelajari bisa menjadi bekal untuk terus berkarya dan tetap peduli terhadap masyarakat,” pungkas Ari. (*/saf)









