SAMARINDA, Headlinews.id – Pergerakan penumpang angkutan udara di Kalimantan Timur menunjukkan perlambatan pada Februari 2026, di tengah peningkatan aktivitas distribusi barang melalui jalur laut.
Data Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penumpang pesawat domestik pada Februari 2026 mencapai 206.029 orang, menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai mengungkapkan penurunan terjadi di sebagian besar bandara utama, termasuk Balikpapan, Samarinda, dan Kutai Barat.
“Penurunan penumpang terjadi di beberapa bandara utama, meskipun ada juga bandara yang mencatat peningkatan cukup signifikan,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, Bandara Maratua mengalami penurunan paling besar, disusul Bandara Sepinggan Balikpapan, Melalan Kutai Barat, serta APT Pranoto Samarinda.
Sementara itu, pergerakan penumpang di Bandara Kalimarau Berau dan Datah Dawai Mahakam Ulu justru mengalami peningkatan, menunjukkan adanya dinamika pergerakan penumpang di wilayah tertentu.
“Beberapa bandara tetap mencatat pertumbuhan, yang menunjukkan pergerakan penumpang tidak merata di seluruh wilayah,” katanya.
Secara kumulatif, jumlah penumpang domestik selama Januari hingga Februari 2026 tercatat menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, tren berbeda terlihat pada penumpang internasional yang mengalami peningkatan dalam periode tersebut.
“Penumpang internasional justru mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Sementara itu, sektor angkutan laut juga mencatat penurunan jumlah penumpang pada Februari 2026, dengan penurunan terjadi di seluruh pelabuhan utama di Kalimantan Timur.
Meski jumlah penumpang menurun, kinerja angkutan barang melalui jalur laut justru mengalami peningkatan.
Volume barang yang diangkut tercatat naik dibandingkan bulan sebelumnya, dengan kontribusi terbesar berasal dari sejumlah pelabuhan utama seperti Semayang dan Sangkulirang.
“Angkutan barang menunjukkan tren peningkatan, yang mencerminkan aktivitas distribusi logistik tetap berjalan baik,” tambahnya.
Selain itu, beberapa pelabuhan juga mengalami penurunan volume barang, menunjukkan adanya variasi aktivitas distribusi di masing-masing wilayah.
Perkembangan ini mencerminkan adanya pergeseran pola mobilitas masyarakat dan distribusi barang di Kalimantan Timur pada awal 2026.
“Pergerakan ini menjadi indikator penting untuk melihat tren mobilitas dan distribusi, sehingga dapat menjadi dasar dalam perencanaan ke depan,” pungkasnya. (*/if)










