TARAKAN, Headlinews.id – Perjalanan ibadah haji Irama Binti Madduta berakhir di Tanah Suci. Jamaah asal Tarakan itu meninggal dunia di Makkah setelah sempat terjatuh saat persiapan mandi ihram menjelang keberangkatan ke Arafah.
Irama Binti Madduta lahir di Pinrang pada 31 Oktober 1946. Berdasarkan data administrasi kependudukan, almarhumah tercatat berusia 79 tahun, meski pihak keluarga menyebut usia sebenarnya hampir mencapai 90 tahun.
Selama menjalankan ibadah haji, Irama didampingi anak bungsunya, Surasman (41). Kabar wafatnya almarhumah diterima keluarga di Tarakan pada Senin (25/5/2026) sekitar pukul 14.00 Wita.
Putri almarhumah, Hj. Kasmawati, mengaku menerima kabar wafat ibundanya saat masih berada di sekolah tempatnya mengajar. Ketika itu, ia tengah menghadiri kegiatan perpisahan siswa.
“Pas saya duduk menunggu ceklok, ada video call masuk dari keluarga di sana, tapi langsung tertutup. Saya pikir mungkin cuma mau tanya persiapan ke Arafah,” ujarnya
Beberapa saat kemudian, sambungan telepon kembali masuk. Dari percakapan itu, keluarga memberi tahu sang ibu terjatuh di kamar mandi saat bersiap mengenakan pakaian ihram.
“Saya sempat tanya kenapa. Mereka bilang mama jatuh di kamar mandi waktu persiapan mandi ihram,” katanya.
Kasmawati mengaku sempat melihat kondisi ibunya melalui video call setelah kamera diarahkan ke lokasi tempat almarhumah mendapat penanganan medis.
“Saya lihat dokter dan teman-temannya mengerumuni mama. Dokternya kemudian bilang, ‘Mama sudah enggak ada.’ Adik saya langsung menangis,” tuturnya.
Menurut keterangan keluarga, Irama sempat mendapat penanganan medis di kamar pemondokan jamaah sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Almarhumah disebut masih sadar dan sempat melafalkan istighfar sebelum kondisinya menurun.
“Katanya masih sempat sadar dan istighfar. Tapi dokter bilang kondisinya memang sudah tidak bisa tertolong,” ucapnya.
Kasmawati menyebut selama berada di Tanah Suci, ibunya tidak pernah mengeluhkan sakit berat. Meski memiliki masalah pada lutut dan sesekali menggunakan kursi roda untuk perjalanan jauh, kondisi almarhumah dinilai masih cukup kuat menjalani rangkaian ibadah.
Namun saat pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan, dokter sempat menyampaikan adanya riwayat gangguan jantung.
“Selama ini kami enggak pernah tahu ada penyakit serius. Pas pemeriksaan kesehatan baru muncul riwayat jantung, tapi kami pikir masih aman karena masih bisa diobati,” katanya.
Ia juga mengaku terpukul karena tidak ada firasat apa pun sebelum sang ibu meninggal dunia. Selama di Tanah Suci, komunikasi lebih banyak dilakukan melalui pesan singkat yang dikirim anak almarhumah.
“Adik saya selalu bilang mama sehat, mama kuat, besok mau ziarah ke sini. Jadi kami benar-benar kaget,” ujarnya.
Jenazah Irama kemudian dimandikan dan disalatkan di Masjidil Haram sebelum dimakamkan di Arab Saudi. Anak almarhumah yang sebelumnya dijadwalkan mengikuti keberangkatan menuju Arafah memilih tetap mendampingi proses pemulasaraan jenazah ibunya.
“Habis Isya, adik saya bilang dia enggak jadi ke Arafah karena enggak sanggup meninggalkan mama sendirian,” kata Kasmawati.
Di Tarakan, rumah duka langsung dipenuhi keluarga dan tetangga setelah kabar wafat diterima. Malam itu, keluarga menggelar khataman Al-Qur’an untuk mendoakan almarhumah.
“Mama memang suka kalau rumah ramai. Jadi keluarga langsung berkumpul dan tadi malam kami khataman satu Al-Qur’an,” pungkasnya. (saf)










