TARAKAN, Headlinews.id– Produk batik khas Kabupaten Malinau, Batik Busak Uwe, menarik perhatian desainer nasional, Irma Sari Joeda, dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC).
Ketertarikan terhadap wastra lokal Kalimantan Utara tersebut membuka peluang kolaborasi pengembangan desain fesyen yang berpotensi meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri kreatif daerah di pasar nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik, menyampaikan bahwa ketertarikan desainer nasional menjadi peluang bagi perajin daerah untuk mengembangkan produk dan memperluas jangkauan pasar.
“Potensi kolaborasi antara desainer nasional dengan perajin Batik Busak Uwe Malinau ini menjadi sinyal positif bahwa karya lokal kita memiliki nilai estetika dan kualitas yang berpeluang bersaing di pasar yang lebih luas,” kata Agus Taufik, Kamis (22/10/2026).
Peluang ekspansi pasar juga terbuka di tingkat internasional. Produk wastra unggulan Kaltara menarik minat calon mitra bisnis dari Turki, Korea Selatan, Malaysia, hingga Brunei Darussalam melalui sesi business matching.
Dalam ajang ekonomi syariah tersebut, BI Kaltara membawa lima UMKM anggota Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA), yakni QQ Fashion Designer, Tarasa (Lapis Tarakan), serta Juwataku, Balamok, dan Akai-akai.
Antusiasme pengunjung dan calon pembeli selama pameran turut menghasilkan transaksi penjualan bagi UMKM perwakilan Kaltara.
“Hingga penutupan pameran, lima UMKM kita mencatatkan transaksi sementara sebesar Rp113,69 juta. Angka ini masih menunggu rekapitulasi akhir dari panitia,” jelas Agus Taufik.
Melalui partisipasi dalam kategori Halal Food, Halal Mart, hingga panggung Wastra & Ready to Wear, pelaku usaha Kaltara memperoleh kesempatan untuk mengenali standar sertifikasi halal, tren preferensi pasar global, serta strategi penguatan rantai pasok.
“Keikutsertaan UMKM Kaltara di ajang ISEF tidak hanya berorientasi pada penjualan selama pameran, tetapi juga membuka akses jaringan bisnis dan pasar internasional bagi produk unggulan daerah,” tegas Agus Taufik.
Ke depan, Bank Indonesia Kaltara bersama pemerintah daerah akan menindaklanjuti potensi kerja sama yang terbangun selama pameran agar dapat direalisasikan.
“Pendampingan akan terus dilakukan dari hulu hingga hilir agar komoditas unggulan Kaltara mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan,” tutur Agus Taufik. (rs)










