TARAKAN, Headlinews.id – Kebutuhan infrastruktur produksi dan pascapanen perlu menjadi bagian dalam penyusunan anggaran pangan Kalimantan Utara. Fasilitas seperti irigasi, jalan usaha tani, gudang, mesin pengering hingga cold storage perlu disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Ketua Komisi III DPRD Kaltara, Jufri Budiman, S.Pd., M.M., menyebut pembiayaan sektor pangan perlu melihat kebutuhan fasilitas dari hulu sampai setelah panen. Infrastruktur menjadi salah satu komponen penting agar hasil produksi petani dapat ditangani dengan baik.
“Kalau kita bicara pangan, jangan hanya melihat produksinya. Infrastruktur pendukungnya juga harus dihitung. Ada irigasi, jalan menuju lahan, gudang, dryer, penggilingan sampai tempat penyimpanan. Semua itu berkaitan langsung dengan kegiatan petani,” kata Jufri.
Menurutnya, kondisi infrastruktur di tiap wilayah tidak sama. Lahan pertanian membutuhkan akses jalan dan jaringan air, sementara wilayah penghasil ikan maupun komoditas mudah rusak membutuhkan fasilitas penyimpanan serta penanganan hasil.
Jalan usaha tani, misalnya, berkaitan dengan mobilitas petani saat membawa sarana produksi maupun hasil panen. Akses yang terbatas dapat menyulitkan pengangkutan dari lahan menuju tempat pengumpulan atau pasar.
“Jalan usaha tani perlu dilihat sebagai bagian dari kegiatan produksi. Petani membawa pupuk, membawa hasil panen, semua membutuhkan akses. Kalau jalannya tidak tersedia atau kondisinya tidak memadai, biaya angkut juga bisa bertambah,” ujarnya.
Pada tahap setelah panen, kebutuhan fasilitas juga perlu diperhitungkan. Gudang dapat digunakan menyimpan hasil produksi, sementara dryer dan penggilingan diperlukan pada komoditas tertentu agar hasil panen dapat ditangani sebelum dipasarkan.
“Panen selesai bukan berarti urusannya selesai. Ada hasil yang perlu dikeringkan, disimpan atau diolah. Kalau fasilitasnya tidak ada, petani bisa kesulitan menjaga kualitas hasil produksinya,” jelas Jufri.
Untuk sektor perikanan dan komoditas mudah rusak, Jufri menyebut fasilitas rantai dingin juga perlu masuk dalam perencanaan. Cold storage dapat digunakan sesuai kebutuhan wilayah dan jenis komoditas.
“Perikanan punya kebutuhan berbeda dengan tanaman pangan. Begitu juga telur, daging atau sayuran. Kita harus melihat komoditasnya dulu, baru menentukan fasilitas apa yang dibutuhkan,” katanya.
Sebagai Ketua Komisi III DPRD Kaltara, Jufri mengatakan pembahasan anggaran perlu melihat kebutuhan riil setiap sektor. Program pembangunan infrastruktur pangan juga perlu memiliki sasaran penggunaan agar fasilitas tidak berhenti setelah selesai dibangun.
“Setiap anggaran harus jelas digunakan untuk apa. Kalau irigasi dibangun, harus ada lahan yang terlayani. Kalau gudang dibangun, harus jelas siapa yang menggunakan dan berapa kapasitasnya. Begitu juga fasilitas lainnya,” ujar Jufri.
Ia mengatakan evaluasi fasilitas perlu dilakukan setelah pembangunan selesai. Kondisi bangunan, pemanfaatan dan kebutuhan tambahan di lapangan dapat menjadi bahan dalam pembahasan program berikutnya.
“Komisi III akan melihat kebutuhan itu dari sisi pembangunan dan penganggaran. Fasilitas harus benar-benar digunakan. Jangan sampai sudah dibangun, tetapi tidak berjalan karena kebutuhan operasional atau pengelolaannya tidak disiapkan,” tutup Jufri. (saf/*)







