TARAKAN, Headlinews.id – Keterbatasan anggaran daerah berdampak pada jumlah cabang olahraga (cabor) yang dapat diikutsertakan Kota Tarakan dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) II Kalimantan Utara (Kaltara) 2026 di Kabupaten Malinau. Dari puluhan cabor yang ada, hanya 31 cabor yang mendapat dukungan pembiayaan pemerintah daerah.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Tarakan, Agustina Momongan, menjelaskan pembatasan tersebut merupakan penyesuaian terhadap kemampuan keuangan daerah. Meski jumlah peserta dibatasi, Tarakan tetap memasang target mempertahankan gelar juara umum pada Porprov II.
“Kalau kekuatan atlet, semuanya tentu merasa punya potensi. Tetapi sekali lagi, ini berkaitan dengan kekuatan anggaran. Kami sebenarnya tidak mengecilkan arti olahraga. Semua sektor pembangunan penting, termasuk olahraga. Hanya saja, ada batasan anggaran sehingga inilah yang bisa kami dukung untuk kemajuan Porprov dan keberangkatan atlet,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).
Dari 31 cabor yang mendapat pembiayaan pemerintah daerah, terdapat enam cabor tambahan yang mengikuti secara mandiri. Lima di antaranya merupakan cabor pertandingan, sedangkan satu lainnya mengikuti ekshibisi domino. Secara keseluruhan, jumlah kontingen Tarakan diperkirakan mencapai 743 orang, termasuk atlet dan unsur pendukung.
Untuk membiayai keikutsertaan tersebut, Disbudporapar awalnya mengalokasikan anggaran Rp700 juta. Pemerintah kota kemudian menambahkan Rp250 juta melalui perubahan anggaran APBD atas kebijakan Wali Kota Tarakan. Dengan tambahan itu, anggaran yang dikelola dinas mencapai Rp950 juta, sedangkan KONI Tarakan turut menyiapkan dukungan sekitar Rp100 juta.
Agustina menerangkan, penentuan jumlah cabor yang diberangkatkan juga mengacu pada pelaksanaan Porprov pertama. Saat itu, Tarakan mengikuti sekitar 30 cabor. Data tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun kebutuhan anggaran untuk menghadapi Porprov II, terlebih kepastian pelaksanaan ajang tersebut sebelumnya belum sepenuhnya diketahui.
“Waktu membuat anggaran, acuannya memang Porprov pertama. Kami mencoba memasukkan kebutuhan untuk Porprov II karena saat itu belum tahu pasti apakah kegiatan ini akan terlaksana. Dari anggaran Rp700 juta ternyata masih kurang, sehingga kemudian ditambahkan lagi Rp250 juta,” ungkapnya.
Keterbatasan pembiayaan membuat tidak seluruh cabor yang ada di Tarakan dapat diberangkatkan. Dari sekitar 44 hingga 46 cabor yang tercatat di KONI, hanya 31 yang masuk dalam daftar keikutsertaan. Meski demikian, Agustina tidak menyebut cabor yang tidak terakomodasi sebagai cabor yang kurang berprestasi.
Persoalan lain muncul pada tahap pendataan peserta. Dalam rapat kerja KONI, awalnya hanya 15 cabor yang memasukkan surat kesediaan mengikuti Porprov. Jumlah tersebut kemudian bertambah setelah KONI melakukan koordinasi dan meminta cabor lainnya segera melengkapi pendaftaran.
“Pada saat rapat kerja kemarin, yang memasukkan surat baru 15 cabor. Padahal dari provinsi sudah meminta kepastian. Akhirnya pada hari itu juga dilakukan upaya untuk melengkapi pendaftaran cabor lainnya,” beber Agustina.
Daftar keikutsertaan tersebut sudah dikunci dan tidak ada lagi kesempatan bagi cabor di luar daftar untuk mendaftar. Apabila terdapat cabor yang mengundurkan diri, alokasi yang tersedia akan didistribusikan kembali sesuai ketentuan kepada cabor yang sudah masuk dalam daftar.
“Kalau misalnya ada satu cabor yang mundur, alokasinya bisa kami distribusikan ke yang lain, tetapi tetap dalam posisi 31 cabor itu. Tidak boleh lagi ada cabor dari luar yang dimasukkan,” tegasnya.
Selain dukungan anggaran keberangkatan, pemerintah kota juga memberikan kemudahan penggunaan fasilitas olahraga untuk menunjang persiapan atlet. Sarana dan prasarana milik pemerintah dapat digunakan tanpa dikenakan retribusi selama dimanfaatkan untuk latihan maupun pemusatan latihan atau training center.
“Pokoknya kami bantu. Kalau mereka mau menggunakan sarana olahraga untuk latihan, silakan. Kami bebaskan dari segala retribusi selama penggunaannya memang untuk memperkuat persiapan atlet menghadapi Porprov,” kata Agustina.
Seluruh atlet yang memperkuat kontingen Tarakan juga dipastikan berasal dari daerah tersebut. Persyaratan administrasi kependudukan menjadi salah satu hal yang diperiksa dalam proses keikutsertaan, termasuk kepemilikan KTP sesuai ketentuan yang berlaku di Kaltara.
“Apalagi untuk atlet nanti dilihat KTP-nya. Kalau KTP-nya di luar Kaltara, itu tidak diperkenankan. Jadi atlet yang kami berangkatkan memang berasal dari Tarakan,” jelasnya.
Dengan komposisi kontingen dan dukungan yang tersedia, Agustina menyatakan optimis Tarakan tetap memiliki peluang mempertahankan gelar juara umum. Kesiapan cabor dan pemanfaatan fasilitas latihan menjadi bagian dari upaya menghadapi persaingan pada Porprov II mendatang.
“Kami tetap optimistis, sebagaimana cabor-cabor juga optimistis, untuk Porprov II nanti Tarakan tetap juara umum,” tandasnya. (saf)










