TARAKAN, Headlinews.id – Status Fuel Terminal PT Pertamina Patra Niaga Tarakan sebagai objek vital nasional menjadi alasan utama penguatan kerja sama penanggulangan keadaan darurat dengan Pemerintah Kota Tarakan. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memastikan kesiapan prosedur, personel, hingga dukungan lintas instansi apabila terjadi insiden di kawasan terminal.
Fuel Terminal Manager PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan, Hario Somapangestu, mengatakan Fuel Terminal Tarakan memiliki peran strategis sebagai pusat distribusi bahan bakar minyak (BBM) untuk Kota Tarakan maupun seluruh wilayah Kalimantan Utara.
Sebagai fasilitas yang memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan energi, Hario menyebut kesiapan menghadapi kondisi darurat tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan internal perusahaan. Dukungan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait diperlukan agar penanganan insiden dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
“Penekanannya di penanggulangan keadaan darurat. Karena kami ini menyandang status sebagai objek vital nasional yang mendistribusikan energi BBM di seluruh wilayah Kota Tarakan maupun Provinsi Kalimantan Utara. Kami tidak bisa sendiri untuk menjamin proses bisnis berlangsung, sehingga membutuhkan dukungan dari stakeholder maupun instansi pemerintah terkait,” ujar Hario usai penandatanganan MoU, Selasa (4/8/2026).
Melalui kerja sama tersebut, Pertamina dan Pemerintah Kota Tarakan akan memperkuat mekanisme penanganan keadaan darurat melalui penyusunan prosedur bersama, pelaksanaan latihan, hingga dukungan sumber daya apabila terjadi insiden yang membutuhkan keterlibatan lintas instansi.
Hario menjelaskan, latihan bersama menjadi salah satu bagian penting dalam kerja sama tersebut. Simulasi dilakukan untuk menyamakan langkah antarinstansi agar setiap pihak memahami peran dan fungsi masing-masing ketika menghadapi kondisi darurat.
“Yang pertama ada latihan penanggulangan keadaan darurat. Kami akan melaksanakan simulasi. Kemudian kalau worst case terjadi dan kami kekurangan tenaga untuk melakukan penanganan, kami bisa meminta bantuan dari pemerintah kota, dalam hal ini PMK dan BPBD, termasuk untuk membantu evakuasi warga sekitar,” katanya.
Selain memperkuat koordinasi eksternal, Pertamina juga memastikan kesiapan sistem penanganan darurat di internal perusahaan. Fuel Terminal Tarakan telah memiliki Organisasi Keadaan Darurat (OKD) yang bertugas menangani kondisi darurat di lingkungan terminal.
Perusahaan juga menyiapkan sarana pendukung penanggulangan kebakaran yang secara berkala dilakukan pemeliharaan agar tetap berfungsi optimal saat dibutuhkan.
“Sarana prasarana kami siap. Kami punya pompa pemadam kebakaran laut berkapasitas 2.500 GPM yang berfungsi dengan baik dan bisa melakukan dorongan air sampai ke tangki-tangki. Kemudian kami juga punya dua pompa PMK darat berkapasitas 1.500 GPM yang kami maintenance dengan baik,” jelasnya.
Meski memiliki kesiapan personel dan fasilitas internal, Hario menyebut kondisi darurat berskala besar tetap membutuhkan dukungan dari pihak lain. Dalam skenario terburuk, personel yang bertugas dapat mengalami kelelahan maupun terdampak paparan BBM dan uap sehingga diperlukan bantuan tambahan.
Menurutnya, kolaborasi lintas instansi menjadi bagian penting agar proses penanganan dapat berjalan maksimal apabila terjadi kondisi yang melebihi kemampuan internal perusahaan.
“Dari kami sebenarnya sudah ada Organisasi Keadaan Darurat. Tapi ketika worst case terjadi, ada kemungkinan personel kami letih atau tumbang karena paparan BBM maupun uap. Dalam kondisi seperti itu kami membutuhkan bantuan tenaga dari pemerintah kota maupun stakeholder lainnya agar penanggulangan keadaan darurat bisa berjalan maksimal,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut nota kesepahaman tersebut, Pertamina menjadwalkan pelatihan penanggulangan keadaan darurat yang diawali dengan technical meeting atau table top exercise. Tahapan tersebut dilakukan untuk membahas skenario penanganan sebelum simulasi lapangan dilaksanakan.
Melalui simulasi tersebut, seluruh pihak yang terlibat akan menguji kesiapan komunikasi, koordinasi, serta prosedur evakuasi apabila terjadi keadaan darurat di kawasan Fuel Terminal.
“InsyaAllah besok dilakukan pelatihan keadaan darurat. Hari ini kami lakukan technical meeting atau table top. Skenarionya kami presentasikan terlebih dahulu, nanti dicoba melalui komunikasi HT, kemudian besok baru dipraktikkan secara langsung di lapangan,” ungkapnya.
Simulasi tersebut akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pemadam Kebakaran, BPBD, aparat keamanan, hingga masyarakat yang berada di kawasan Ring 1 Fuel Terminal. Pelibatan warga dilakukan sebagai bagian dari mitigasi agar masyarakat memahami prosedur penyelamatan apabila terjadi keadaan darurat.
Hario menegaskan, warga tidak dilibatkan sebagai tenaga penanganan, melainkan sebagai pihak yang mengikuti proses evakuasi menuju titik kumpul aman sesuai skenario yang telah disiapkan.
“Manajemen mengarahkan agar warga Ring 1 ikut dilibatkan dalam penanggulangan keadaan darurat. Jadi mereka bukan sebagai bantuan tenaga, tetapi sebagai warga yang dievakuasi menuju titik kumpul aman sesuai prosedur yang sudah kami siapkan,” katanya.
Selain kesiapan teknis di lapangan, Pertamina juga memperkuat koordinasi pengamanan selama simulasi maupun apabila terjadi kondisi darurat sebenarnya. Perusahaan telah memiliki nota kesepahaman dengan Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamobvit) Polda Kalimantan Utara terkait pengamanan kawasan objek vital.
Koordinasi juga dilakukan dengan Polres Tarakan, Satuan Lalu Lintas, TNI, serta instansi terkait lainnya untuk mendukung kelancaran evakuasi dan pengaturan situasi di sekitar lokasi
“Walaupun belum semuanya dalam bentuk MoU, selama ini koordinasi kami dengan Polres Tarakan, Kasat Lantas, Babinsa, Danramil, Dandim maupun stakeholder lainnya berjalan sangat baik. Ketika kami membutuhkan bantuan, kawan-kawan stakeholder selalu bersedia membantu,” pungkas Hario. (saf)










