TARAKAN, Headlinews.id – Mengusung konsep pendidikan berbasis alam, Sekolah Alam Binari terus mengembangkan metode pembelajaran yang menitikberatkan pada pembentukan karakter, kreativitas, serta pengembangan minat dan bakat peserta didik. Pendekatan tersebut menjadi ciri khas sekolah yang saat ini menampung sekitar 110 siswa dari jenjang PAUD hingga SD.
Pembina Yayasan Sekolah Alam Binari, Retno Dwi Arini, mengatakan sekolah yang berdiri pada 2020 itu hadir dengan konsep berbeda dibandingkan lembaga pendidikan pada umumnya. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang perlu mendapat ruang untuk tumbuh dan berkembang sesuai keunikannya masing-masing.
“Sekolah Alam Binari hadir untuk memberikan warna yang berbeda. Kita memfokuskan pada minat dan bakat untuk anak-anak hebat, karena saya yakin setiap anak memiliki keunikan dan kehebatannya masing-masing,” ujarnya.
Konsep tersebut diterapkan melalui proses pembelajaran yang sebagian besar dilakukan di luar ruang kelas. Retno menyebut sekitar 70 persen aktivitas belajar berlangsung di alam sebagai media utama pembelajaran.
“Sebanyak 70 persen proses pembelajaran kami dilakukan di alam,” katanya.
Menurut Retno, konsep sekolah alam menjadi tantangan tersendiri saat pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan yang tergolong baru, sekolah membutuhkan waktu untuk membangun pemahaman mengenai metode pembelajaran yang diterapkan.
Selain belajar di alam, peserta didik juga didorong untuk mengembangkan kreativitas melalui berbagai kegiatan seni dan budaya. Hal itu ditampilkan dalam pentas seni yang menjadi bagian dari kegiatan pelepasan siswa, 12 Juni lalu.
“Dengan apa yang ditampilkan, kita ingin mengangkat semua budaya yang ada serta menunjukkan kolaborasi. Bahwa setiap anak, dengan bakat dan minatnya masing-masing, jika terstimulasi secara maksimal akan bisa disajikan secara istimewa,” ujarnya.
Ia menegaskan pendidikan di Sekolah Alam Binari tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Anak-anak didorong untuk mencintai alam, memiliki empati, menghargai keberagaman, serta menjunjung tinggi nilai toleransi dan kejujuran.
“Harapannya mereka mencintai alam, memiliki empati, peduli terhadap keanekaragaman budaya dan agama yang ada, mampu saling memahami, bertoleransi, jujur, dan berakhlak mulia,” katanya.
Menurut Retno, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting yang harus dimiliki anak sejak dini sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan.
“Itulah pondasi utama, akar yang memang selayaknya dimiliki anak. Sehingga saat dewasa nanti dan menjadi apa pun, mereka sudah memiliki akar yang kuat,” tuturnya.
Perkembangan sekolah dalam enam tahun terakhir terbilang cukup pesat. Dari yang semula hanya memiliki tiga siswa SD dan satu siswa TK saat berdiri pada masa pandemi, kini jumlah peserta didik mencapai sekitar 110 anak yang tersebar di jenjang PAUD, TK, dan SD.
Sekolah tersebut juga telah menempati gedung sendiri. Untuk jenjang SD tersedia enam ruang kelas yang menampung sekitar 70 siswa, sementara pembelajaran TK dan PAUD dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil guna memaksimalkan pendampingan terhadap peserta didik.
Retno mengatakan seluruh tenaga kerja yang terlibat direkrut dari kalangan anak muda Kota Tarakan. Langkah tersebut sejalan dengan filosofi Binari yang merupakan singkatan dari Bina Muda Mandiri.
“Sesuai dengan namanya, Binari: Bina Muda Mandiri. Kami ingin anak-anak muda Kota Tarakan bisa bersaing secara pikiran dan finansial dengan daerah lainnya. Kita pasti bisa,” katanya.
Selain pendidikan formal jenjang PAUD, TK, dan SD, yayasan juga mengembangkan sejumlah layanan nonformal, seperti Daycare Binari, Griya Belajar Binari, Music Course Binari, English Baca Tulis Binari, EO Binari, dan Outbound Binari.

Seiring perkembangan tersebut, Sekolah Alam Binari juga membuka penerimaan peserta didik baru untuk tahun ajaran mendatang. Untuk jenjang TK, sekolah menargetkan 20 siswa baru dan hingga kini telah menerima 14 pendaftar.
Sementara untuk jenjang SD, dari target 20 siswa, sebanyak 13 anak telah terdaftar. Retno mengatakan sekolah sengaja membatasi jumlah peserta didik agar proses pendampingan dan pengembangan potensi anak dapat berjalan lebih optimal.
“Fokus kami memang merupakan sekolah yang kecil dengan jumlah guru yang maksimal, sehingga potensi masing-masing anak bisa tergali dengan optimal,” ujarnya.
Dari sisi kelembagaan, TK Alam Binari telah mengantongi akreditasi B, sedangkan jenjang SD saat ini tengah menjalani proses pengajuan akreditasi. Izin operasional SD resmi terbit pada 2025, sementara izin operasional TK telah diperoleh lebih dahulu.
“Melalui proses inilah kami yakin bisa memberikan warna yang berbeda untuk tumbuh kembang anak-anak Tarakan yang lebih maksimal,” tutup Retno. (saf)










