BANDA ACEH, Headlinews.id – Calon jamaah haji tahun 2027 mendapat pembekalan mengenai kesiapan menghadapi rangkaian ibadah di Tanah Suci. Kemampuan fisik dan finansial perlu disertai pemahaman ibadah, kesiapan mental, kondisi spiritual serta kemampuan mengurus kebutuhan diri selama perjalanan.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Banda Aceh Tipe A Dr. H. M. Iqbal, S.Ag., M.H. mengatakan pemahaman mengenai istitha’ah perlu diperluas agar calon jamaah memiliki gambaran mengenai kesiapan yang diperlukan sebelum berangkat.
“Persiapan haji harus dilihat secara utuh. Kemampuan biaya dan kondisi kesehatan memang harus diperhitungkan, tetapi jamaah juga perlu memahami tata cara ibadah, mempersiapkan mental dan belajar mandiri. Bekal seperti ini akan sangat dibutuhkan ketika sudah berada di Tanah Suci,” ujar Iqbal.
Pembekalan tersebut disampaikan dalam Manasik Haji KBIHU ‘Aisyiyah Nashita Al Hujjaj Tahun 2027/1448 H di Banda Aceh, Ahad (13/9/2026). Kegiatan mengangkat tema “Meluruskan Niat dan Membangun Mentalitas Istitha’ah Jamaah Haji” dan dipandu Febi Mutia sebagai MC.
Menurut Iqbal, kondisi selama pelaksanaan ibadah haji dapat berbeda dengan rutinitas jamaah di daerah asal. Perbedaan lingkungan, cuaca, kepadatan jamaah dan rangkaian aktivitas membutuhkan kemampuan beradaptasi serta pengendalian diri.
“Jamaah akan berada dalam lingkungan yang berbeda. Mereka akan bertemu dengan banyak orang, mengikuti rangkaian ibadah dengan jadwal tertentu dan menghadapi situasi yang mungkin belum pernah dialami. Kesabaran dan kemampuan mengendalikan diri perlu dilatih sejak masa manasik,” katanya.
Pemahaman mengenai tata cara ibadah juga perlu diperkuat sebelum keberangkatan. Jamaah diharapkan mampu memahami tahapan ibadah sehingga dapat menjalankannya dengan lebih percaya diri ketika berada di Tanah Suci.
“Manasik menjadi kesempatan untuk memperbanyak pengetahuan. Jangan ragu bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami, termasuk persoalan teknis yang mungkin ditemui selama perjalanan. Bekal pengetahuan itu akan membantu jamaah menjalankan ibadah secara lebih mandiri,” ucap Iqbal.
Aspek spiritual turut mendapat tempat dalam pembekalan calon jamaah. Pelurusan niat, keikhlasan, kesabaran dan tawakal perlu dipersiapkan bersamaan dengan kesiapan fisik maupun pengetahuan ibadah.
Iqbal mengatakan perjalanan haji membutuhkan kesiapan menghadapi berbagai keadaan. Jamaah perlu memahami bahwa proses ibadah juga menguji kemampuan menjaga sikap dan mengelola emosi ketika berada dalam kondisi yang padat dan berbeda dari keseharian.
“Dari sekarang jamaah perlu membiasakan diri menjaga niat dan sikap. Ketika berada di Tanah Suci, situasinya bisa sangat padat dan melelahkan. Kalau mental sudah dipersiapkan, jamaah akan lebih mudah menjaga kesabaran dan fokus menjalankan ibadah,” tuturnya.
Manasik KBIHU ‘Aisyiyah Nashita Al Hujjaj diarahkan sebagai ruang pembelajaran bagi calon jamaah sebelum memasuki tahapan keberangkatan. Materi yang diberikan mencakup pemahaman ibadah sekaligus kesiapan menghadapi kondisi selama berada di Tanah Suci.
“Bekal haji perlu disiapkan dari sekarang. Pelajari tata cara ibadahnya, jaga kondisi tubuh, siapkan mental dan luruskan niat. Semua persiapan itu akan membantu jamaah menjalani perjalanan dengan lebih tenang dan menjalankan ibadah sesuai tuntunan,” pungkas Iqbal. (saf/*)








